Minggu, 30 Agustus 2020

Menjaga Bait Allah

 1 Korintus 6:13-21

Menjaga Bait Allah


Sangat menyedihkan melihat beberapa peristiwa secara khusus orang percaya yang kurang menyadari betapa pentingnya menjaga dan merawat bait Allah dengan baik. Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat untuk memuja Allah  telah dijadikan tempat untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak sewajarnya seperti merokok, minum-minuman keras dan sebagainya.


Jika bait Allah (secara bangunan) saja tidak dijaga dengan baik bagaimana bait Allah yang adalah tubuhnya sendiri terjaga dan terawat dengan baik. tubuh ini adalah bait Roh Allah dimana Allah berdiam. Jika kita merusaknya maka sama halnya kita mengotori bait Allah yaitu tempat kediaman Allah.


Menjaga bait Allah itu sangat penting. Sebab kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar (6:20). Darimana kita tahu hal ini ?  Yesus, ketika disalibkan Dia pernah mengatakan dalam salah satu tujuh perkataan salib yang berbunyi "Tetelestai" yang berarti sudah selesai. Dalam menuliskan kata ini tentunya Yohanes tidak lepas dari pemahamannya sebagai seorang Yahudi yang berbahasa Ibrani. Kata tersebut dalam terjemahan Haberit Hakadasah berbunyi "Nislam" yang berasal dari kata yang sama dengan Shalom atau juga berarti Lunas. Kata tersebut biasa digunakan untuk pembayaran hutang. Orang-orang Yahudi sampai saat ini pun masih menggunakan kata tersebut sebagai kebiasaan untuk membayar hutang.


Sama halnya dengan dosa kita. Injil Sinoptik dan kitab PB lainnya sering merujuk dosa sebagai hutang yang harus dibayar. Namun oleh karena manusia yidak mampu untuk membayarnya maka Allah sendirilah yang membayar hutang dosa manusia yakni dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Firman yang menjadi manusia yang kemudian mati dan bangkit untuk menyelesaikan dan melunasi hutang manusia kepada Allah. Itulah yang dimaksud dengan Tetelestai yaitu bahwa hutang dosa manusia telah dibeli dan harganya lunas dibayar sehingga manusia tidak lagi diperhamba oleh dosa lagi.


Itu sebabnya dengan kesadaran yang seperti ini sudah selayaknya kita bersyukur dan menyadari betapa besarnya pengorbanan Yesus dalam membayar hutang kita. Lebih dari itu kita menjaganya dengan baik dan merawatnya setiap waktu kapanpun dan dimanapun kita ada.


Adapun cara merawatnya adalah dengan mengikatkan diri kita pada Tuhan (ayat 17). Baik dalam KJV maupun NAS menerhemahkan dengan kata kerja "Joined" yang berarti bergabung. kata tetsebut mendekati dengan bahasa aslinya yaitu kallao. kata κολλάω (Strong's # 2853 - Kata kerja - kollao - kol-lah'-o) terutama, "untuk merekatkan atau merekatkan bersama," kemudian, secara umum, "untuk bersatu, untuk bergabung dengan kokoh," digunakan dalam Suara Pasif yang menandakan "bergabung dengan diri sendiri, untuk bergabung dengan," Lukas 15:15; Kisah 5:13; 8:29; 9:26; 10:28, RV (AV, "untuk berteman dengan"); 1 Korintus 6: 16,17; di tempat lain, "berpegang teguh pada," Lukas 10:11; Kisah 17:34; Roma 12: 9..


Sebagai orang percaya kita harus menjaga dan merawat tubuh ini dengan senantiasa menggabungkan dan merekatkan diri kita sendiri dengan kuat kepada Tuhan. maksudnya adalah kita harus senantiasa membangun hubungan yang intim dengan Tuhan selayaknya suami Istri yang saling mengenal satu dengan yang lain. Hal ini dapat diterapkan dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap waktu dan terus menjaga kekudusan hidup baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.


Ketika kita menjaga bait Allah tujuannya bukan supaya kita dilihat sebagai oeang yang saleh melainkan supaya nama Allah dipermuliakan melalui hidup kita yang menjaga bait-Nya yang kudus.


Sudahkah kita menjaga bait Allah dan memuliakan Allah melalui tubuh kita ?


ingat bahwa:

Galatia 2:20 (TB)  Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 


GBU..

Rabu, 26 Agustus 2020

Solving the Problem

 1 Korintus 6:1-12


Bagaimana respon kita terhadap suatu perkara ?


Tidak ada manusia manapun yang tidak mempunyai masalah. Artinya bahwa selama kita hidup dalam dunia yang penuh dengan dosa ini kita tidak dapat mengelak dari madalah.


Masalah yang sering menjadi masalah dalam hidup kita adalah tentang keadilan. banyak diantara kita yang bergumul tentang keadilan, itu sebabnya sering muncul pertanyaan seperti mengapa saya berbeda dengan mereka, mengapa Tuhan tidak adil, dimana dia, apakah dia tidak tahu keadaan saya saat ini.


Dengan banyaknya pertanyaan yang ada tanpa berpikir panjang manusia yang tidak dapat menyelesaikan masalahnya akan pergi kepada siapapun untuk menyelesaikan ketidakadilan yang dirasakan tanpa mempedulikan siapa orang tersebut.


Masalah harus diatasi dengan bijak, itu sebabnya kita tidak boleh gegabah dalam menghadapinya dan jangan sampai kita yang percaya Yesus malah pergi kepada mereka yang tidak percaya untuk diselesaikan masalahnya. ini adalah terbalik.


Sebab bagaimana mereka dapat menyelesaikan masalah kita sedangkan masalah mereka belum terselesaikan ?


Perlu diingat bahwa masalah kita sudah diselesaikan oleh Yesus. itu sebabnya tugas kita bukan lagi untuk mencari solusi dari masalah kita melainkan memberikan solusi kepada mereka yang sedang bermasalah. Lebih dari itu jika kita bermasalah sudah seharusnya kita datang pada Yesus sebagai satu2nya jalan keluar bagi masalah kita. Datang kepada Yesus sama halnya kita sedang mencari kehendak Tuhan atas hidup kita sebab Yesus adalah Tuhan.


1 Korintus 6:11 (BIMK)....Tetapi sekarang kalian dinyatakan bersih dari dosa. Kalian sudah menjadi milik Allah yang khusus. Kalian sudah berbaik kembali dengan Allah, karena kalian percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan karena kuasa Roh dari Allah kita. 


Sebab di dalam Yesua kita:

1) Dibersihkan dari dosa kita

2) Dijadikan milik Allah secara khusus

3) Bukan musuh Allah lagi


Oleh karenanya jangan kita betfokus pada diri sendiri ketika masalah itu ada melainkan mari kita melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui setiap perkara atau masalah yang ada. sebab jika masalah terbesar kita terselesaikan mungkinkah Dia tidak bisa menyelesaikan masalah-madalah yang lainnya ??

GBU..

Menghakimi atau tidak

 1 Korintus 5:12


Bolehkah menghakimi ??

Seringkali kita mendengar orang berkata jangan menghakimi, sebab kita tidak boleh menghakimi orang lain. Kemudian dengan mudah orang seperti ini menyalahkan orang yang sedang menghakimi. Sebenarnya orang yang demikian juga terjebak pada penghakiman yang salah dimana ukuran penghakiman sebagian besar didasarkan atas perasaan suka atau tidaknya orang tersebut.

Kebenaran penghakiman yang sesungguhnya adalah penghakiman yang didasarkan atas dasar firman Allah. sebab firman Tuhan adalah standar tertinggi dan standar yang benar untuk menentukan baik dan salahnya tindakan. Itu sebabnya jika kita menghakimi orang penting bagi kita untuk melihat kepada Alkitab.

Pernyataan ini memang mengindikasikan bahwa kita boleh menghakimi dan ada penghakiman yang benar maupun yang salah. Ya memang demikian.

Jika demikian, Siapa yang seharusnya dihakimi ?

pada dasarnya semua orang berdosa dan layak untuk dihakimi. Namun dengan adanya Yesus kristus kita telah mengenal adanya perbedaan status dimana orang yang percaya Yesus tidak lagi hidup dalam dosa. meskipun demikian bukan berarti orang percaya sama sekali tidak berbuat dosa dan tidak dihakimi. Orang percaya masih bisa jatuh dalam dosa.

Lalu apakah kita harus menghakimi semuanya karena semua berdosa ? jika demikian kita juga harus dihakimi. Lalu siapa yang pantas untuk menghakimi ?

Sebagai orang percaya kita diperkenankan untuk menghakimi. Namun perlu diperhatikan bahwa penghakiman kita harus didasarkan dan diarahkan dengan benar.

 Sekali lagi bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar ukuran yang paling tinggi untuk menilai benar dan salahnya suatu tindakan. Lebih dari itu penghakiman yang didasarkan dari Alkitab haruslah diarahkan kepada orang percaya  yang menyeleweng yang sama-sama meyakini Alkitab sebagai firman Allah. hal inilah yang disarankan oleh Paulus ketika mengingatkan orang-orang yang ada di Korintus.

1 Korintus 5:12 (BIMK)

12 Memang mengadili orang-orang bukan Kristen bukanlah urusan saya. Allah sendirilah yang akan mengadili mereka. Tetapi mengenai anggota-anggota jemaatmu, bukankah kalian sendiri yang harus mengadili mereka? Dalam Alkitab tertulis, "Usirlah orang jahat dari antaramu." 

Oleh sebab itu perlu dimengerti bahwa kita tidak perlu memusingkan diri utuk mengadili orang diluar orang percaya. Sebab standar yang mereka pakai tidaklah sama dengan standar kita. sehingga dengan demikian penghakiman yang diarahkan kepada orang tidak percaya tidak akan pernah ditemukan titik temunya. Lebih dari itu kita tidak perlu kuatir dan bingung sebab Allahlah yang akan menghakimi mereka yang berada diluar Kristus atau mereka yang tidak percaya Yesus.

maka dari itu kita harus memperhatikan dengan baik bagaimana kita menghakimi apakah penghakiman kita didasarkan dan diarahkan dengan benar sesuai dengan yang Alkitab katakan atau berdasarkan perasaan kita.

GBU..

Thànks Giving

Selalu memgucap syukur dalam segala hal

(1 Kor. 1:4-9)


Ucapan syukur ini bukan bersifat sindiran dan juga bukan dialamatkan kepada kelompok tertentu saja di dalam jemaat itu. Ucapan ini terlebih lagi bukan usaha terselubung untuk "mencari teman dan mempengaruhi orang", sekalipun memang benar bahwa "menyalahkan paling bagus kalau dilakukan di balik pujian". Ucapan ini lebih merupakan suatu penilaian yang jujur tentang kedudukan jemaat Korintus di dalam Kristus dan merupakan landasan bagi permintaan Paulus agar jemaat hidup sesuai dengan kedudukan ini. Paulus menyebutkan secara khusus karunia perkataan dan pengetahuan yang mereka miliki.


intinya bahwa seluruh "ucapan syukur" sll di kotrol dengak kata "aku mengucap syukur". dalam artian, Paulus selalu mengucap syukur atas kasih karunia Allah Kristus Yesus.


maksudnya adalah bahwa sikap Paulus sangat relevan untuk gereja² masa kini, untuk tidak mengecilkan ke-utamaan Allah dan bukan hanya untuk gereja², bahkan orang² percaya pn sangat membutuhkan kesadaran akan ke-utamaan Allah. menjadi orang yang selalu mengucap syukur dalam segala hal dan bahkan fokus pada Allah, sang pemberi karunia² yang dimiliki.

satu hal bahwa kesadaran fokus diri atau pandangan tertuju kepada Allah itu menunjukkan bagaimana kita hidup dalam kasih karunia Allah, bukan untuk membagakan diri karena dalam perkataan, pengetahuan, dan berbagai karunia, melainkan lakukan segala sesuatu dengan kasih dan selalu mengucapan syukur.

GBU..

God is the center

Berpusat pada Allah

1 Korintus 1:1-3


Surat Korintus disebut dengan surat kuno yang memiliki pola dasar Dari dan kepada (salam). Dengan kata lain, surat kuno dimulai dengan nama penulis, nama penerima dan salam. dalam arti bahwa nama, dan salam berada di awal atau pendahuluan surat, yang menunjukan pola dasar yang berbeda.


dari pola dasar yang paulus ikuti ini, ia melakukan beberapa perubahan yang lebih panjang dan bernuansa Kristiani. Ia biasanya menjelaskan siapa dirinya melalui beberapa sebutan yang dia anggap perlu ditekankan dalam relasinya dengan penerima surat atau yang sesuai dengan isi surat. Sebagai contoh, kepada jemaat Galatia yang meragukan kerasulannya, Paulus menyebut diri “seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Paulus menyebut diri “dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan injil Allah” (Rom 1:1), lalu ia memakai tiga ayat untuk menjelaskan injil yang dia beritakan (Rom 1:2-4). Dengan demikian bagi Paulus identitas pengirim berfungsi lebih dari pada sekadar pemberitahuan tentang siapa yang mengirim surat itu. Begitu pula dengan pendahuluan surat 1 Korintus dimana Paulus mengadakan perubahan pada identitas penerima surat. Ia menyebut mereka dengan ungkapan Kristiani tertentu.


Pada bagian salam, Paulus menggunakan dua kata, yaitu "kasih karunia dan damai sejahtera" yang sering juga ada dalam surat²nya yang lain (1Kor 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3; Ef 1:2; Flp 1:2; dll.). 


Dalam ayat ini terdapat dua nama sebagai pengirim surat, yaitu Paulus dan Sostenes. Paulus adalah rasul, sedangkan Sostenes hanyalah saudara seiman. dengan maksud bahwa keterangan sebelum nama Sostenes dengan kata “dan” bertujuan untuk memisahkan antara Paulus dan Sostenes (menegaskan bahwa Sostenes bukanlah rasul).


Sebagai seorang Yahudi yang memiliki kewarganegaraan Romawi (KPR 16:37; 21:39; 22:25) dan lahir di diaspora (KPR 22:3), dengan nama Yahudi (Saulus) dan nama Latin (Paulus).


Dalam pendahuluan surat ini, Paulus memberi penekanan pada statusnya sebagai rasul. Ketika Paulus menyebut diri dengan jabatan atau status seorang rasul, Ia sendiri mengakui bahwa Kristus mengutusnya untuk memberitakan injil, dalam artian sebagai bentuk penekanan.

1. kerasulannya adalah panggilan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang terpanggil secara khusus (Kis 9:1-18).

2. dia adalah rasul Kristus Yesus. yang berarti utusan Kristus Yesus, yang terpanggil dan di utus memberitakan Injil.


maksud Paulus menyebut diri sebagai rasul Kristus Yesus adalah  untuk menekankan bahwa Paulus memiliki tugas kerasulan yang khusus dari Kristus Yesus, yaitu memberitakan injil.  (1:17) dia menyatakan “sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil”. Seorang rasul memiliki dan berhak menjabat beragam tugas, namun Paulus mengetahui dengan pasti bahwa panggilannya yang terutama dan khusus adalah memberitakan injil (bdk. Kis 9:15-16).

3. kerasulannya terjadi melalui kehendak Allah. Kehendak Allah adalah segalanya bagi Paulus. sebab Allah yang memanggil Paulus, bkn sebaliknya. Bukan berasal dari manusia (Gal 1:16-17). Panggilan kerasulannya berasal dari Allah sendiri yang sejak dari dalam kandungan telah memilih dia (Gal 1:15).

Dengan kata lain kerasulannya bersumber dari inisiatif Allah, bukan keinginannya sendiri dan apalagi mencari keuntungan materi bagi diri sendiri (9:12, 15, 18; 2Kor 11:7-9). 


Lalu mengapa ada Sostenes? karena kemungkinan besar ia adalah sekretaris Paulus yang menuliskan surat 1 Korintus. Penjelasan bahwa bagian salam ditulis oleh Paulus sendiri (16:21) menyiratkan bahwa bagian lain ditulis oleh Sostenes di bawah pengawasan Paulus. Kemungkinan lain, Sostenes adalah rekan kerja yang bersama dgn Paulus pada saat surat ini ditulis. Penyebutan beberapa nama orang di pendahuluan surat Paulus memang kadangkala menunjukkan siapa saja yang sedang bersamanya.


kemudian Paulus menyebut Sostenes sebagai “saudara”. Sebutan ini sering dipakai sebagai persamaan kata “orang Kristen” (5:11). Saudara adalah orang untuknya Kristus mati (8:11). Jadi, sebutan ini memiliki makna rohani di dalamnya. Tidak semua orang layak disebut sebagai “saudara”. Yang layak disebut sebagai “saudara” adalah mereka yang sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa melalui pekerjaan Roh Kudus dan karya Kristus (Rom 8:14-17//Gal 4:6). Begitu pentingnya persaudaraan di dalam Kristus sampai-sampai mereka yang berdosa kepada saudara seiman dianggap berdosa kepada Kristus (8:11-12).


kemudian kepada identitas penerima suratnya (1:2). Yang menarik dari bagian ini adalah absennya kata-kata pujian tentang kehebatan Kota Korintus. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus yang penting adalah jemaat Korintus, bukan tempat tinggalnya. maksudnya adalah Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat di Korintus adalah milik Allah. Mereka adalah jemaat Allah yang diperoleh dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28). Hal ini memang perlu ditegaskan Paulus karena mereka seringkali berpikir bahwa mereka milik rasul tertentu (1:12), padahal rasul-rasul itu hanyalah para pekerja saja (3:5-7). dalam artian bahwa para rasul adalah para pekerja sedangkan tuan/kepala/mandornya adalah Allah.  Segala sesuatu adalah tetap milik Allah (3:21-23).


kemudian sebutan “jemaat milik Allah” juga membedakan perkumpulan orang-orang percaya (5:1-5; 11:18; 14:23) dengan perkumpulan yang lain di Kota Korintus. yang berarti bahwa Gereja bukanlah organisasi buatan manusia untuk memelihara tradisi atau ibadah. Gereja harus berfokus pada Allah, karena Dialah yang empunya gereja tersebut.


Sebutan lain untuk orang percaya di Korintus adalah “dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1:2b).  hal ini mengingatkan jemaat Korintus bahwa pengudusan yang dilakukan Kristus (1:30; 6:11) bukanlah sesuatu yang tidak memiliki pengaruh atau sekadar dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah proses pengudusan. Pengudusan adalah sebuah proses yang sudah dikerjakan Kristus dan harus terus-menerus dikerjakan. Implikasi dari hal ink adalah:

1. kekudusan mereka bukanlah sesuatu yang mereka usahakan, sama seperti kerasulan Paulus juga bukan hasil usaha Paulus

2. mereka dikhususkan untuk tujuan yang berpusat pada Kristus

 Paulus

3. tidak ada satu orang pun yang berhak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih rohani/kudus daripada orang lain. Semua adalah karya Kristus.


Kemudian kalimat  “di segala tempat” dan “Tuhan mereka dan Tuhan kita” menguatkan ide tentang kesatuan gereja secara menyeluruh. Arti yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah di setiap tempat berkumpul bagi orang Kristen. Melalui ungkapan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa yang penting bukanlah tempat berkumpul, tetapi apa yang dilakukan dalam perkumpulan itu, yaitu memanggil nama Tuhan. Maknanya adalah pengakuan tentang ke-Tuhanan Yesus sebagai karakteristik orang Kristen. Orang Kristen adalah orang-orang yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (8:6). Praktik ibadah orang Kristen mungkin memiliki beberapa kesamaan dengan agama lain, tetapi yang menjadi pembeda adalah pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3). Paulus sengaja menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus adalah hanyalah bagian kecil dari gereja universal yang sangat besar. jemaat Korintus seharusnya memahami kesamaan antara mereka dengan jemaat yang lain. Mereka tidak boleh merasa diri lebih baik atau hebat dibandingkan jemaat-jemaat yang lain. Mereka tidak boleh memandang diri mereka begitu unik atau istimewa. Kebebasan Kristiani bukan berarti kebebasan mutlak yang tidak memperhatikan orang lain (6:12; 10:23). Dengan kesadaran bahwa sebuah gereja lokal adalah bagian dari gereja universal, maka gereja tersebut dimotivasi untuk saling berbagi dan menguatkan.


selanjutnya Paulus memberi "salam" menunjukkan bahwa bagi Paulus salam merupakan sesuatu yang sangat penting. bahkan dalam seluruh suratnya terlihat bahwa Paulus sangat menghargai arti sebuah salam di antara sesama orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk saling memberi salam (Rom 16:16; 1Kor 16:20; 2Kor 13:12). Dia sendiri juga banyak memberikan salam kepada orang lain atau sebuah jemaat lokal (band. Rom 16:1-15). sebab salam yang dilakukan Paulus bukan hanya menunjukkan bahwa tindakan memberikan salam merupakan sesuatu yang penting, namun juga menunjukan bahwa salam Kristiani merupakan hal yang unik. dalam salam tersebut Paulus sendiri menyatakan bahwa kasih karunia dan damai sejahtera hanya akan turun atas orang-orang yang sungguh-sungguh menerima kebenaran injil yang sejati (Gal 6:16). artinya bahwa orang kristen diperintahkan untuk memberikan salam umum kepada semua orang sebagai bagian dari budaya dan salam Kristiani kepada sesama orang percaya.


kmudian dari kalimat terakhir menunjukan bahwa semua aspek kehidupan manusia itu adalah kasih karunia Allah. hanya saja, jemaat Korintus tampaknya mengalami kesulitan untuk menghargai kasih karunia Allah.


kemuadian lagi adalah “damai sejahtera". Ungkapan yang merupakan salam Yahudi (Shalom) 1 Sam 25:5-6; Dan 10:19; Yak 2:16. Jadi dari pemahaman seperti ini kita dapat melihat bahwa melalui salam pembuka dalam suratnya Paulus berharap agar jemaat Korintus mengalami sejahtera secara menyeluruh. Dengan meletakkan “damai sejahtera” setelah “kasih karunia” Paulus ingin mengajarkan bahwa damai yang sejati hanya dapat muncul dari kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah sumber kehidupan orang percaya, sedangkan damai sejahtera adalah hasil dari hidup yang didasarkan pada kasih karunia. Jemaat dapat hidup berdamai dengan orang lain kalau mereka lebih dahulu mendapat kasih karunia Allah dalam bentuk perdamaian dengan Bapa. dan inj disebut sebagai perdamaian sejati.


sebab itu salam orang Kristen bukan sekedar basa-basi. Salam juga bukan kata-kata sakti yang memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Salam bukan bersumber dari kekuatan orang yang menyampaikan salam. Kuasa salam terletak pada diri Allah. Allah Bapa memberikan kasih karunia dan damai melalui karya penebusan Yesus Kristus.


Yang menarik dari 1:3b ini adalah “Yesus Kristus”. ini terlihat bahwa cara pandang Paulus adalah sangat berpusat pada Kristus. Semua berkat rohani yang diterima oleh orang Kristen hanya berasal dari Bapa melalui Yesus Kristus (1:4).


Kesimpulannya adalah:


sebenarnya sudah waktunya gereja benar-benar menjadi gereja. Gereja bukan kumpulan orang yang membawa agenda dan keinginan pribadi. Gereja bukan sekadar organisasi yang kering dan berfokus pada aspek material belaka. Gereja adalah milik Allah dan harus diatur berdasarkan prinsip-prinsip dari Sang Pemilik. Jika ini yang terjadi, maka jemaat pasti akan dimampukan untuk berjalan dalam kekudusan, sebagaimana status mereka di dalam Kristus dan tujuan dari panggilan ilahi bagi mereka.


sama halnya dengan manusia, manusia dipanggil dipilih Allah untuk melakukan misi Allah, untuk melakukan pekerjaan Allah dalam memuliakan Allah, dan manusia harus hidup seturut dengan kehendak dan dibawa aturannya Allah, sebab Allah adalah Tuan/Raja/Bapa yang tertinggu dari Hidupnya .

GBU..

Orang Tua Rohani (Spiritual Parent)

 1 Korintus 4:14-21

Menjadi orang tua rohani


Orang tua memiliki peranan penting untuk memperhatikan anak-anaknya dan harus mengajarkan hal-hal yang baik, yang pantas untuk dilakukan oleh anak-anaknya. Lebih dari itu orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak yang sudah seharusnya memberikan teladan/panutan bagi anak-anaknya.


Oleh sebab itu sebagai orang tua tidak bolwh hidup secara sembarangan. Karena pengaruh orang tua kepada anak sangat kuat. Hal seperti ini sangat dipahami oleh Paulus. itu sebabnya dia menyatakan diri sebagai orang tua secara khusus sebagai seorang bapak bagi jemaat di Korintus.


Salah satu bentuk kasih sayang dari seorang bapak adalah peduli dengan anaknya dan tidak akan membiarkan anaknya berlarut-larut dalam kesalahan. Teguran seorang bapak sangat dibutuhkan ketika anaknya berada dalam jalur yang salah. Inilah yang dilakukan oleh Paulus ketika melihat ada kesombongan yang muncul pada Jemaat di Korintus.


meskipun Paulus belum bisa hadir di untuk jemaat namun bentuk kepeduliannya dapat dilihat ketika ia hendak mengirimkan Timotius untuk menyampaikan kebenaran yang diajarkan oleh Paulus yang adalah bapak rohaninya juga.


Timotius dikirim bukan tanpa maksud. Paulus ingin juga supaya jemaat belajar untuk rendah hati dan mau mendengarkan orang yang berada di bawah mereka.


kebenarannya adalah supaya jemaat dapat mengikuti teladan Paulus yang Paulus ikuti dari Tuhan Yesus Kristus (ayat 17). rupa-rupanya Paulus sedang mengarahkan jemaat untuk melihat dirinya yang sudah belajar dan hidup dengan rendah hati sebagaimana Yesua Kristus yang tersalib juga adalah rendah hati.


Jika Yesus dengan kerendah hatiannya mau menerima siapa saja yang percaya kepada-Nya demikian juga kita yang percaya kepada-Nya harus bisa rendah hati dan menerima siapapun tanpa memandang bulu.


bukan hanya Paulus. kita juga bisa mengatakan turutilah teladanku/ikutlah aku. namun dengan pengertian bahwa kita sudah benar-benar mengikuti Yesus dan menjadikan Yesua sebagai norma dari setiap tindakan hidup kita.


GBU..

 1 Korintus 4:11-13

Yang terpenting adalah kekayaan Rohani bukan Materi


Pada bagian ini Paulus memberikan penekanan pada nasihatnya dengan menunjukkan sesuatu yang kontras dengan keadaan jemaat Korintus yang  merasa diri kaya.


Paulus menceritakan bahwa dirinya dan rasul-rasul yang lain lapar dan haus (4:11a). Keadaan ini berbeda dengan keadaan jemaat Korintus yang telah merasa kenyang (4:8). Secara jasmani Paulus memang kerap mengalami kekurangan sampai tidak bisa makan (2Kor 11:27; Flp 4:11-12), bahkan dia menyebutkan bahwa dia mengalami ketelanjangan dan tidak memiliki tempat yang tetap bahkan mengusahakan pekerjaannya sendiri.


Namun secara rohani dia dikenyangkan oleh injil. Sebaliknya, jemaat Korintus yang merasa kenyang secara jasmani maupun rohani sebenarnya belum seberapa kenyang karena masih tidak dapat mengkonsumsi makanan keras (3:2; 4:8).


Dalam hal ini Paulus menegaskan bahwa semua itu masih terus menerus dia alami. Hal ini nampak pada frase "sampai pada saat ini." 


Paulus sengaja menunjukkan dirinya dengan keadaan yang demikian supaya jemaat sadar bahwa mereka terlalu sombong dan tidak pernah memperhatikan Paulus sebagai hamba Tuhan secara khusus Paulus yang dipandang rendah oleh karena diragukan kerasulannya.


Dengan adanya realita seperti ini kita harus belajar baik melalui keadaan Jemaat maupun Paulus. Seringkali orang Kristen bersikap seperti Jemaat Korintus yang tidak peduli dengan keadaan hamba Tuhan dan bahkan menganggapnya sebagai seorang yang rendah dan tidak berguna dan memperlakukannya seperti bukan hamba Tuhan. Dengan adanya sikap seperti ini sebagai jemaat Tuhan sudah seharusnya kita belajar untuk membuka mata dan memlerhatikan para hamba Tuhan dengan sebaik mungkin. Sebab mereka adalah utusan Tuhan yang dipercayakan untuk memlihara iman kita bersama.


Dari sikap Paulus kita dapat belajar bahwa sebagai hamba Tuhan kita harus bisa hidup mandiri dan menunjukkan bahwa Tuhan yang telah mempercayakan tugas pelayanan yang mulia senantiasa memelihara kita dalam keadaan apapun. Lebih dari itu bahwa kehidupan kita tidak bergantung pada kelimpahan hidup manhsia melainkan kelimpahan sang Tuan yaitu Tuhan yang kita layani.


Jadi dapat dimengerti juga bahwa Kekayaan rohani tidak dapat diukur dengan kekayaan secara materi. Sebab banyak orang yang kaya secara materi namun tidak memiliki pemahaman Injil yang benar sehingga menggunakan kekayaan tersebut untuk keaombongan diri sendiri dan merendahkan orang lain.


Bagaimana dengan keadaan kita sekarang ?


GBU..

 1 Korintus 4:1-5


Menyatakan yang benar tidak sama dengan memposisikan diri sebagai yang paing benar


Jika kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari, seberapa seringkah kita berlaku cepat untuk menghakimi orang lain karena ketidaksukaan kita ? 


penghakiman itu tidaklah salah namun menjadi salahnya jika penghakiman itu didasarkan atas ukuran kita sendiri itulah yang menjadi salah. sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa jemaat di Korintus, mereka telah menghakimi Paulus (4:3) dan melupakan jasa-jasa Paulus yang telah berjuang untuk kota Korintus (4:7-13), mereka juga meragukan Paulus (9:1-3). Lebih dari itu mereka memilih Apolos dan Kefas untuk mereka ikuti.


Bagaimana respon Paulus ?

Paulus menegaskan posisinya sebagai Hamba Kristus dan meskipun Paulus milik jemaat yang melayani keselamatan jemaat namun jemaat tidak bisa serta merta memperlakukannya semau mereka sendiri tanpa dasar apapun. Oleh sebab itu Paulus di sini perlu untuk menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Kristus dan banya Kristuslah yang menentukan Paulus benar atau tidak.


Hal tersebut juga dimaksudkan bahwa Apa yang dilakukan dan disampaikan bukan sekedar perkataan biasa yang muncul dari dirinya sendiri melainkan dari Hikmat Allah. itu sebabnya dia menekankan bahwa hamba Kristus harus dapat dipercaya (ay.2). di sisi lain Paulus menunjukkan kesungguhan dan ketaatannya dalam mematuhi apa yang dikehendaki oleh Allah untuk menyampaikan Injil yang adalah rahasia Allah yang dulu tidak disingkapkan namun sekarang telah dinyatakan melalui Yesus Kristus yang di Salib.


Hal ini bukan berarti Paulus memposisikan dirinya sebagai yang paling benar, hal ini dapat dimengerti melalui perkataannya bahwa:


1 Korintus 4:4 (BIMK)  Saya tidak merasa bersalah dalam hal apa pun juga, tetapi itu bukan bukti bahwa saya memang tidak bersalah. Tuhan sendirilah yang menentukan saya bersalah atau tidak.


Paulus di sini sangat tegas dan di lain kata dia hendak mengatakan bahwa meskipun dirinya bersalah biarlah Tuhan yang menghakimi dan menghukumnya.


perkataannya bukan main-main. Dari sini kita tahu bahwa Paulus sangat bertangggung jawab dalam tugas pelayanannya untuk menyampaikan apa yang benar.


poin penting yang perlu kita perhatikan bahwa:

-Perlu bagi kita untuk melihat bagaimana cara kita menghakimi orang lain. jgn sampai kita menghakimi dengan di dasarkan atas ketidaksukaan kita sendiri tetapi hakimilah menurut ukuran Alkitab atau firman Tuhan.

-Perlu bagi kita untuk memahami bahwa kebenaran harus tetap ditegakkan dan jgn sampai kebenaran ditindas oleh ketidakbenaran/kefasikan. jangan biarkan kebenaran itu dihakimi oleh ketidakbenaran. sebab jika demikian dunia ini akan semakin kacau balau.


GBU..

 1 Korintus 4:1-2


Bagaimana orang memandang

 kita ?


Menjadi orang Kristen seringkali menjadi sorotan banyak orang. Inilah keunikan dalam Kekristenan. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pendapat orang lain ketika memandang setiap aspek kehidupan kita. Tidak sedikit juga yang menyampaikan hal-hal yang negatif kepada orang-orang Kristen oleh karena sikap yang tidak baik.


kita adalah milik Kristus. Oleh sebab itu kita perlu memperhatikan dengan baik bagaimana kita hidup supaya tidak seperti orang bebal melainkan seperti orang yang arif (Efesus 5:15). Sebab kita adalah Hamba Allah.


Jika kita hamba Allah sudah seharusnya orang lain melihat kita sebagai hamba Allah bukan hamba dosa dan hamba-hamba lainnya (1 Korintus 4:1). Sebagai hamba Allah kita dipercayakan untuk menyampaikan sesuatu yang mulia yaitu rahasia Allah, yaitu Injil Yesus Kristus.


pertanyaannya bagi kita, apakah kita dapat dipercaya sebagai hamba-hamba Allah yang sudah seharusnya menyampaikan Injil kerajaan Allah ? dan apakah respon orang lain terhadap kita ??


GBU..

Bukan kebijaksanaan manusia

 1 Korintus 2:1-5

Bukan Kebijaksanaan manusia


Pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan dalam pemberitaan firman Tuhan. Sebab tanpa adanya pengetahuan pemberitaan tidak akan lengkap. Namun perlu diketahui bahwa pengetahuan bukanlah yang utama.


Faktanya ada banyak orang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang firman Allah namun terjebak pada pengetahuan itu sendiri. maksudnya bayak orang yang pintar tidak lagi menyampaikan Injil dengan hikmat dari Allah tetapi justru mengandalkan hikmat sendiri. Injil tidak lagi disampaikan dengan kekuatan Allah melainkan kekuatan manusia.


Rasul Paulus memberikan isyarat yang penting bagi setiap Hamba Tuhan untuk tidak mengandalkan pengetahuannya sendiri dalam pemberitaan firman Allah. Justru Rasul Paulus menyatakan bahwa ia datang dalam kelemahan, dengan sangat takut dan gentar (ayat 3) dan bukan dengan kebijaksanaan dunia.


1 Korintus 2:1 (BIMK)  Saudara-saudara! Pada waktu saya datang kepadamu dan memberitakan kepadamu tentang rencana Allah yang belum diketahui oleh dunia,  saya tidak memakai kebijaksanaan dunia ini atau berbicara dengan kata yang muluk-muluk. 


Rasul Paulus datang dalam kelemahan. maksudnya, meskipun ia pandai dan memiliki pengetahuan yang cukup luas namun ia tidak menggunakan kepandaiannya sebagai sarana utama dalam penyampaian firman Tuhan. kelemahan menunjukkan adanya ketergantungan penuh kepada hikmat dan kekuatan dari Tuhan.


1 Korintus 2:4 (BIMK)  Berita yang saya sampaikan kepadamu tidak saya sampaikan dengan kata-kata yang memikat menurut kebijaksanaan manusia. Saya menyampaikan itu dengan cara yang membuktikan bahwa Roh Allah berkuasa.


Takut dan gentar menunjukkan bahwa Rasul Paulus tidak mau kalau kepercayaan jemaat Korintus nantinya bukan didasarkan atas kuasa Allah melainkan pada hikmat dan kebijaksanaan manusia. hal terlihat bahwa;


1 Korintus 2:5 (BIMK)  Saya berbuat begitu, supaya kepercayaanmu kepada Kristus tidak berdasarkan kebijaksanaan manusia, melainkan berdasarkan kuasa Allah. 


Di samping itu rasa takut dan gentar menunjukkan kesadaran yang penuh bahwa yang disampaikan bukanlah cerita dongeng, legenda atau mitos belaka melainkan suatu fakta yang otentik yang memiliki makna yang dalam di dalam hidup manusia, secara khusus bagi keselamatan Jiwa manusia. Itu sebabnya pemberitaan benar-benar difokuskan pada Yesus Kristus yang disalibkan dan bukan yang lain, apalagi dirinya sendiri.


Jadi dapat dimengerti bahwa Kepercayaan yang dilandaskan atas kebijaksanaan manusia adalah kepercayaan yang sia-sia. oleh sebab itu jangan sampai orang yang mendengarkan Injil yang kita sampaikan bergantung pada kebijaksanaan manusia.


Mari kita sampaikan Injil dalam kelemahan dan rasa takut dan gentar dengan mengandalkan penuh kekuatan dan hikmat Allah, supaya orang yang mendengarnya benar-benar mengerti makna dari Injil yang kita beritakan secara khusus tentang Yesus yang di Salib.


GBU..

Kebanggaan Sejati

 1 Korintus 1:18-31


Kebangagaan atas Pembenaran, Pengudusan dan Penebusan Kristus


Dosa membuat manusia menjadi ceroboh dalam melakukan segala hal. meskipun menurut manusia itu baik namun semua yang dilakukan meleset jauh dari sasaran Allah ketika menciptakan manusia. manusia diciptakan untuk mengasihi Allah. Namun faktanya manusia lebih mengasihi diri sendiri. manusia telah memusuhi Allah.


 Alkitab sendiri mengatakannya bahwa manusia adalah seteru Allah (Roma 5:10). bukan Allah yang membuat permusuhan dengan manusia melainkan manusialah yang membuat permusuhan dengan Allah. Sebab manusia telah dicobai oleh keinginannya sendiri untuk melakukan tindakan-tindakan yang jahat yang sama sekali tidak bijaksana (Yakobus 1:14).


contoh sederhana dari ketidakbijaksanaannya manusia dapat dilihat bagaimana manusia menggunakan kelebihannya sebagai kebanggaannya sendiri dan menganggap bahwa itu sudah benar. Tapi sayang Allah tidak berkenan kepada manusia yang demikian. Sebab maksud semuanya itu lebih ditujukan kepada pemuliaan diri sendiri, bukan untuk Allah. Jika kita berbangga kita harus berbangga karena apa yang telah Allah kerjakan bagi kita.


1 Korintus 1:31 (BIMK)  Jadi, seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Orang yang mau berbangga-bangga, harus berbangga atas apa yang dilakukan Tuhan." 


Salib Kristus mengajarkan kepada kita tentang kebanggaan yang benar. Salib Kristus membuat kita menjadi bijaksana dan memahami bahwa kita adalah orang-orang yang dulunya bermusuhan dan tidak benar dihadapan Allah yang kemudian dibenarkan di dalam Diri Yesus Kristus yang tersalib. kita yang tidak kudus telah dikuduskan melalui darah-Nya yan kudus. kita yang diperbudak oleh dosa telah ditebus dan dibebaskam dari kutuk dosa. Semua ini bukan karena kita tapi karena Allah.


Itu sebabnya "Orang yang bijaksana tidak pernah berbangga atas dirinya sendiri melainkan berbangga atas apa yang Allah kerjakan bagi dirinya atas pembenaran, pengudusan dan penebusan Kristus di kayu Salib."


Paulus mengajarkan dan mengingatkan kepada kita betapa pentingnya memahami dengan baik tentang arti Salib bagi orang percaya. Sebab melaluinya kita tahu bagaimana seharusnya kita harus hidup dihadapan Allah dan sesama.


GBU..

Salib Kristus (Cross of Christ)

 1 Korintus 1:18-31


Ada apa di balik Salib ?


Meskipun Salib merupakan peristiwa yang memalukan dan merupakan bentuk penghukuman yang Kejam dan menakutkan kala itu namun di dalam Salib Kristus mengandung banyak arti.


Ketika Yesus disalibkan Dia berbeda dengan yang lain. Sebab Dia tidak bersalah dan tidak seharusnya Dia diperlakukan demikian. Namun Dia mau menjalani itu untuk menunjukkan betapa Dia yang kaya itu rela menjadi miskin demi kita yang miskin supaya kita menjadi kaya di dalam Dia.


Itu sebabnya peristiwa Salib Kristus merupakan peristiwa yang tidak wajar namun mengajar. Sebab dengan melihat Salib, kita diajar dan dapat mengenal Siapa diri kita ini dihadapan Allah dan siapa Allah bagi kita. seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Apologet terkenal di abad ke-17 bahwa:


"Mengenal Allah tanpa mengenal kebobrokan diri kita sendiri membuat kita sombong. mengenal kebobrokan kita sendiri tanpa mengenal Allah membuat kita putus asa. Mengenal Yesus Kristus menyebabkan keseimbangan karena Ia menunjukkan kepada kita keduanya, Allah sekaligus kebobrokan kita."


Melalui peristiwa salib, kita dapat mengerti bahwa kematian Yesus di sana adalah cara Allah menunjukkan kebobrokan dan kelemahan diri kita serta menunjukkan kepedulian  dan kasih Allah kepada kita yang telah rusak, bobrok dan berdosa terhadap Allah.


Tujuannya tidak lain yaitu, Supaya kita tidak menjadi sombong dan bermegah atas diri kita sendiri. Sebaliknya kita menjadi rendah hati dan bermegah dalam Tuhan (ayat 29-31).


Melaui peristiwa salib ini kita dapat mengerti bahwa "ketika orang masih bermegah atas dirinya sendiri sebenarnya orang tersebut belum benar-benar mengerti tantang apa itu Salib dan mengapa Yesus disalib"


Jika kita mengaku Kristen namun dalam prakteknya kita masih memegahkan diri kita dari segala kelebihan kita maka kristen kita perlu dipertanyakan dan direnungkan kembali. Sebab Kekriatenan tidak pernah menvajarkan kepada kita untuk bersikap Sombong dan bermegah atas diri sendiri.


GBU..

Two Choices

 1 Korintus 1:18-24


Jika ada dua Pilihan manakah yang harus kita Pilih ? percaya Yesus atau tidak ??


Pemberitaan Salib tentang Yesus merupakan suatu peristiwa yang unik dan peristiwa ini memiliki respon yang yang ber berbeda-beda. Setidaknya ada 3 respon yang menarik yang dapat kita mengerti pada bagian ini.


Pertama, Respon orang Yahudi. Paulus sebagai orang Yahudi sangat memahami seperti apa pandangan orang Yahudi mengenai Salib Kristus. Itu sebabnya Dia menyatakan bahwa berita salib merupakan batu sandungan bagi mereka. Sesuai dengan pemahaman orang Yahudi, Mesias adalah Raja yang besar yang akan memerintah Israel sebagaimana Daud membawa kemenangan bagi mereka dan kedatangan-Nya akan memberikan revolusi yang besar bagi kesejahteraan mereka baik secara ekonomi, politik maupun sosial.


Oleh sebab itu bagaimana mungkin Raja yang dipandang seperti itu dapat mengalami penderitaan yang berat sebagaimana yang Yesus alami dan tidak bisa membalas ketika dipukul, diludahi, dicacimaki, ditelanjangi bahkan disalibkan. Lebih lagi mereka memandang bahwa orang yang digantungkan pada sebuah tiang adalah orang yang terkutuk


(Ulangan 21:23) (TB)  "maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu."


Melalui hal inilah orang-orang Yahudi menyimpulkan bahwa Yesus bukanlah Mesisas yang meraka nanti-nantikan dan hingga sampai saat ini bagi mereka yang percaya akan hal ini masih menanti-nantikan kedatangan sang Mesias itu di tembok ratapan. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan bahwa berita Salib merupakan batu sandungan bagi mereka.


Kedua, Orang-orang bukan Yahudi secara khusus Romawi. Bagi orang-orang Romawi maupun yang lainnya - Salib merupakan peristiwa yang memalukan - Sebab Salib adalah tempat yang diperuntukkan untuk menghukum para penjahat kelas atas dengan tujuan mempermalukan mereka. Dengan demikian ketika disampaikan bahwa Yesus adalah Tuhan maka mereka akan menyangkal dengan alasan bahwa Tuhan tidak mungkin mati apalagi mati dengan cara yang keji seperti disalibkan. Itu sebabnya bagi mereka berita Salib adalah kebodohan semata yang merupakan berita terburuk yang pernah mereka dengar.


Ketiga, Bagi orang-orang Yahudi maupun non Yahudi yang percaya. Bagi orang percaya, Salib merupakan berita yang Paling penting sebab apa yang telah Allah janjikan mengenai keturunan perempuan telah digenapi melalui peristiwa Salib yang merujuk pada penebusan dosa umat manusia. kematian Yesus dikayu Salib merupakan satu-satunya korban Yang sempurna yang dilakukan satu kali untuk selama-salamanya untuk menebus dosa manusia (Ibrani 9:15-28),


Ayat 9:27-28 (TB)

27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, 

28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.


Oleh sebab itu orang percaya (Kristen) tidak perlu lagi mempersembahkan korban hewan kepada Tuhan sebab semua yang dilakukan diperjanjian lama merupakan bayangan yang akan datang dan wujudnya adalah Kristus. tidak hanya berhenti pada kematiaan-Nya melainkan dilanjutkan dengan kebangkitan-Nya yang menunjukkan bahwa kuasa dosa/maut tidak lagi berkuasa atas-Nya dan atas orang-orang yang percaya kepadaNya. Lebih dari itu Ia memberikan jaminan keselamatan yang kekal bagi setiap yang percaya kepadaNya.


Dalam hal ini kita diperhadapkan dengan dua pilihan yang serius yang akan menentukan hidup kita kelak


" Jika Yesus bukan Tuhan maka sia-sialah kita yang percaya kepada-Nya dan pastilah kita binasa. Namun jika Yesus adalah benar-benar Tuhan maka binasalah orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya dan berbahagialah kita yang percaya kepada-Nya sebab kita memiliki jaminan hidup yang kekal di Sorga bersama dengan-Nya."


Kita Orang Kristen meyakini bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat. sebab hanya Dialah satu-satunya yang memberikan kepastian akan jaminan keselamatan kepada manusia. Selain Dia tidak ada.


Jika kita bijaksana sudah seharusnya kita memilih untuk percaya kepada Yesus sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup.


GBU.

Serving God or Man ? (Melayani Tuhan atau manusia ? )

Melayani Tuhan atau melayani diri sendiri ?


Roma 16:17-20


Jangan pernah kita berpikir ketika kita sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita maka kita hidup dengan aman di dunia ini dan tidak ada yang mengganggu kita. Sebab dunia dimana kita tinggal adalah tempat kumpulan orang-orang berdosa. Itu sebabnya sebagai murid Kristus kita perlu untuk waspada dengan mereka yang masih tinggal dalam dosa (memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa). sebab setiap tindakan yang mereka lakukan adalah usaha untuk membuat kita yang percaya kepada Tuhan berbalik kepada diri kita sendiri atau berpusat pada diri sendiri.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus kalau mereka itu hanya melayani perut mereka sendiri (ay.18). Kata perut  dalam bhs.Yunani "koilia" dapat juga berarti hati (Hati yang merujuk pada pusat keinginan dan perasaan) jadi jelas bahwa pernyataan "Heautwn koilia" merujuk pada keinginan hati manusia itu sendiri bukan Allah. Orang-orang seperti ini harus dihindari (ay.17). Maksudnya adalah ketika kita berhadapan dengan orang yang bersikeras dengan keinginan hatinya maka sebaiknya kita menjauh dari mereka dan tidak terlibat dalam perdebatan yang tidak harmonis. Oleh sebab itu kita perlu bijaksana dan memikirkan apa yang baik untuk dilakukan dan bersih terhadap yang jahat. Dengan kata lain jangan kita menodai diri kita yang sudah disucikan dengan darah kristus dengan apa yang jahat.


masalahnya tidak sedikit orang yang tidak sadar dengan apa yang dikerjakannya apakah dirinya sedang melayani Tuhan atau melayani diri sendiri. ketidaksadaran ini sangat mungkin terjadi jika firman Tuhan jarang atau tidak pernah dibaca maupun direnungkan. Dan orang-orang yang seperti ini pasti bersikap keras kepala dan bersikeras dengan kemauannya sendiri.


Kita harus menyadari bahwa "Orang yang bersikeras dengan keinginan hatinya sendiri adalah orang yang melayani diri sendiri dan orang yang melayani diri sendiri sudah pasti tidak melayani Kristus dan orang yang tidak melayani Kristus pasti tidak melayani Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan"


Jadi mana yang seharusnya kita lakukan, melayani diri sendiri atau Kristus ? Jika melayani Kristus sudahkah kita memikirkan dan melakukan kehendakNya dalam hidup kita ??


GBU..

Giving Honour (memberi hormat)

Sudahkah kita memberi hormat kepada saudara-saudara kita ?


Roma 16:16


Tidak sedikit orang-orang sekarang memahami ciuman sebagai sesuatu yang negatif dan berkaitan dengan nafsu seksual. Itu sebabnya ketika menemukan kata cium atau sejenisnya maka pikirannya sudah mengarah kepada hal-hal yang bersifat porno. sehingga melalui hal ini tidak sedikit orang menganggap alkitab adalah kitab porno. salah satunya adalah kitab kidung Agung yang paling banyak mendapat tuduhan semacam ini.


Jika kita perhatikan lagi dengan baik maka kita akan mengerti bahwa Rasul Paulus juga menulis tentang kata "cium." Apakah dalam hal ini Rasul Paulus menginginkan orang-orang Roma untuk melakukan hal-hal yang bersifat porno ? tidak.


Untuk memahami Alkitab kita tidak boleh memakai sudut pandang kita sendiri dalam penafsirannya. semua harus dilihat sesuai dengan konteksnya.


Ayat 16 perintah " bersalam-salamlah dengan cium kudus" merupakan perintah yang mulia yang Paulus berikan kepada orang-orang di Roma. Paulus tidak hanya berhenti pada cium tetapi menambahkannya dengan "Cium Kudus", artinya bahwa ciuman ini bukan merujuk pada ciuman sebagai ekspresi birahi atau nafsu. 


Yustinus Martir, menyatakan bahwa praktik cium kudus merupakan bagian dari liturgi ibadah. Tapi yang pasti bahwa praktik ini digunakan sebagai tanda persaudaraan di antara jemaat.


Ciuman tersebut dilakukan sebagai pemberian salam yang menunjuk pada kedekatan hubungan kekeluargaan, yaitu kekeluargaan dalam Tuhan.


Ciuman juga berarti sebagai tanda penghormatan terhadap status seseorang yang dianggap lebih tinggi (Arrian Alex. 4.11.3; bnd. Luk. 7:38, 45). Pemberian salam ini biasanya dilakukan pada: leher, tangan, mata, dan atau bagian-bagian tubuh yang lain (bnd. Epictetus Disc. 1.19.24). Namun yang pasti maksud Paulus adalah bukan kepada anjuran yang bersifat porno.


Sebagai seorang Yahudi Paulus tentu sangat memahami budaya Yahudi dan Romawi yang tidak menghendaki ciuman yang kotor (dengan mulut) di depan umum. sebagaimana yang dianjurkan oleh Rabbi Akiba bahwa ciuman harus dilakukan dengan mencium tangan.


Yang pasti dorongan Rasul Paulus adalah agar Jemaat tetap memberikan penghormatan terhadap satu sama lain dengan kesadaran bahwa mereka adalah satu-kesatuan di dalam Yesus Kristus sebagai kepala Gereja.


"Jika kita mengaku diri sebagai Jemaat Kristus sudah selayaknya kita saling memberikan salam hormat kepada saudara-saudara seiman kita dengan cara yang kudus dan kesadaran bahwa kita satu keluarga di dalam Tuhan"


Jadi Penekanan Paulus bukanlah pada ciumannya melainkan bagaimana sebagai umat Tuhan yang telah dipersatukan dalam Kristus harus senantiasa memberi hormat satu dengan yang lain dan tetap menjaga keintiman dalam keluarga Allah. penghormatan dapat diterapkan sesuai dengan konteks budaya yang ada dengan kesadaran bahwa Yesus Kristus telah mempersatukan kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya.


Sudahkah kita menunjukkan penghormatan kita yang kudus kepada saudara-saudara seiman kita sebagai satu saudara dalam Kristus ??


GBU..

Teaching in Hoping (pengajaran dalam pengharapan)

Pengajaran dalam Pengharapan seorang Hamba Tuhan


Roma 15:22-33

Menjelang akhir penulisan suratnya, Paulus menuliskan sebuah harapannya kepada orang-orang Roma ketika nantinya dipertemukan dengan mereka. Dalam tulisan tersebut jika kita perhatikan dengan baik maka kita akan mendapat pengajaran penting di dalam harapan yang Paulus utarakan kepada orang-orang di Roma.


Pengajaran pertama yang kita dapatkan adalah tentang "Pentingnya orang percaya untuk terlibat dalam pelayanan Misi." (Roma 15:24)


Paulus berharap  agar orang-orang percaya di Roma terlibat dalam pelayanannya dengan mengambil bagian untuk mengantarkan Paulus dalam perjalanan menuju ke Spanyol. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun Paulus sedang mengajarkan bahwa pelayanan tidak harus ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang besar seperti berbicara di tempat ibadah di depan banyak orang tetapi juga dari hal-hal yang mungkin bagi manusia terlihat biasa dan kurang diperhatikan.


Demikian juga dengan pelayanan dalam gereja, mungkin ada beberapa jemaat yang tidak mempunyai transportasi sehingga tidak bisa datang ke Gereja sendiri karena tempat yang cukup jauh maka Seorang Hamba Tuhan yaitu Pemimpin Gereja harus memberikan pemahaman yang benar tentang apa itu pelayanan dan mendorong jemaat yang memiliki transportasi untuk melibatkan diri dalam pelayanan antar Jemput. 


Mungkin orang orang kurang memperhatikan pelayanan yang seperti ini tetapi Tuhan memperhatikan semua hal yang kita kerjakan. bukankah itu yang Paulus sampaikan kepada kita semua bahwa segala sesuatunya harus kita lakukan seperti untuk Tuhan bukan manusia (kolose 3:23). Ingat bahwa jika kita mengerjakannya untuk Tuhan maka jerih lelah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58).


Pengajaran kedua adalah tentang "Memberi dalam kekurangan." (Roma 15:25)


Rasul Paulus bukanlah seorang yang kaya. Dalam pelayanannya justru Ia banyak mengalami banyak hal yang buruk. Dia pernah ditindas, kehabisan akal, dianiaya, dihempaskan (2 Korintus 4:7-12), Lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, bekerja dengan tangan yang berat (1 Korintus 4:11-12). Itu sebabnya dalam hal ini Rasul Paulus mengajarkan supaya Jemaat Roma juga memiliki hati memberi secara khusus kepada mereka yang membutuhkan sekalipun tidak hidup berkelimpahan.


Pengajaran ketiga adalah "Melayani orang-orang yang Tuhan pakai untuk membawa kita kepada keselamatan" (Roma 15:27)


Adalah wajib bagi kita mengingat orang-orang yang Tuhan pakai untuk melayani kita sampai kita mengerti firman Tuhan dengan baik dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat yang hidup. Kita harus senantiasa mengormati orang-orang yang demikian, memperhatikan dan bahkan memberi bantuan ketika dalam keadaan kekurangan.


Pengajaran keempat adalah tentang "Pentingnya berdoa untuk pelayanan hamba Tuhan." (Roma 15:30-33).


Hamba Tuhan adalah orang yang Tuhan pakai untuk memberitakan kabar baik dari Allah. kita semua yang percaya adalah hamba Tuhan. Paulus mengajar kita bahwa kita harus senantiasa mendoakan saudara-saudara kita yang berjuang dalam pemberitaan kabar baik supaya ttp mendapatkan kekuatan meskipun dalam pelbagai pencobaan dan penderitaan.


Dari keempat pengajaran yang diberikan melalui pengharapan Paulus di atas akhirnya kita mengetahui bahwa "Pelayanan bukan hanya berbicara pada hal-hal yang besar yang dilakukan di depan banyak orang melainkan juga hal-hal yang kecil yang sering tidak diperhatikan orang yang tidak diketahui banyak orang."


Dari renungan ini kita juga mengerti bahwa "Pesan apapun yang kita sampaikan kepada orang lain hendaknya mengandung pengajaran yang mendorong orang yang mendengarnya untuk melibatkan diri dalam pelayanan Injil."


GBU.

Sudahkah saya berani membicarakan kebenaran Allah ?


Dalam banyak hal terkadang kita merasa malu ketika dipercayakan untuk berbicara atau menyampaikan firman Allah di depan banyak cendekiawan atau ahli-ahli kitab yang memiliki pengetahuan yang lebih baik dari kita. Hal inilah yang sering membuat banyak orang Kristen menjadi tidak percaya diri dan merasa takut dalam menyampaikannya dan bahkan tidak mau lagi untuk berbicara di depan para cendekiawan dan ahli-ahli kitab. 


Namun perlu kita ketahui bahwa Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak perlu takut dan cemas dalam menyampaikan firman Allah meskipun di depan banyak orang yang sudah tahu.


Rasul Paulus mendorong kita untuk melihat hal yang sangat penting yang harus tetap dilakukan oleh orang Kristen yaitu tetap memberitakan Injil keselamatan Yesus kepada mereka sekalipun mereka sudah mengetahui hal tersebut. Rasul Paulus tidak peduli dengan orang-orang percaya di Roma yang dia sendiri yakin bahwa mereka sebenarnya penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun rasul Paulus tetap memberikan nasihat, ajararan untuk mengingatkan dan menguatkan iman mereka (Roma 15:14-21).


Alasan yang terbaik yang dinyatakannya adalah karena Kasih karunia Allah (Roma 15:15). Kasih karunia Allah mendorong bukan hanya Rasul Paulus tetapi juga kita semua orang-orang Percaya untuk menjadi orang yang berani memberitakan Injil kepada siapapun dan tidak perlu merasa takut dan ragu meskipun di depan orang-orang yang Pintar dan memiliki pemahaman yang luas. Sebab Injil kasih karunia Allah yang adalah Kebenaran itu tidak diberitakan kepada orang-orang tertentu melainkan kepada semua orang termasuk mereka yang sudah memiliki pemahaman yang banyak tentang firman Allah juga masih perlu untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain.


Yang terpenting kita menyampaikannya sesuai dengan apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita untuk memimpin orang pada ketaatan oleh perkataan dan perbuatan yang benar dalam Kristus. oleh karena itu selama yang kita sampaikan adalah kebenaran oleh kasih Karunia Allah yang di anugerahkan bagi kita tidak perlu merasa takut untuk menyampaikannya meskipun di depan banyak orang yang pandai.


Sudah seharusnya kita harus saling mengingatkat satu dengan yang lain tanpa memandang bulu supaya setiap kita juga boleh belajar untuk rendah hati dan tidak merasa lebih tahu dari yang lain.


Berkat yang kita terima, Anugerah yang diberikan kepada kita harus dibagikan kepada orang lain dengan penuh keberanian. Secara khusus mereka yang belum percaya bahwa Yesus adalah Injil (kabar baik) itu sendiri. Yesus adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6).


Kita tidak perlu merasa takut selama yang kita sampaikan adalah Kebenaran.


GBU..

 Apakah Tuhan berkenan menerima persembahanku ?


Jangan kita berpikir bahwa setiap orang yang datang beribadah adalah orang yang sungguh-sungguh dekat dan beriman kepada Tuhan. terdapat banyak faktor mengapa orang datang beribadah.


Bisa jadi orang datang beribadah karena dorongan dari keluarga, bisa jadi karena menjaga image dari keluarga atau masyarakat setempat supaya ketika mereka melihatnya memujinya sebagai orang yang saleh. Bisa jadi karena ada sesuatu yang menarik di tempat orang tersebut beribadah. Bisa jadi karena takut mendapat hukuman dari Tuhan. pada intinya kedatangan orang beribadah itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan bahwa orang tersebut sudah hidup benar dan memiliki iman yang benar dihadapan Tuhan.


Itu sebabnya banyak sekali penipuan yang terjadi melalui cara orang beribadah. Ada banyak orang tidak sungguh-sungguh ketika mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan. Namun sebagai orang percaya Tuhan tidak perlu heran dengan adanya tindakan seperti ini sebab tindakan-tindakan seperti yang sudah disebutkan di atas bukanlah hal yang baru melainkan sesuatu yang terjadi secara turun-temurun akibat dosa (pemberontakan) manusia kepada Tuhan.


Contoh yang jelas dapat kita lihat melalui bagaimana Kain dan Habel ketika mereka mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan (Kejadian 4:1-16). Dalam hal ini dapat kita pahami bahwa Kain tidak dapat menerima ketika melihat bahwa persembahan Habel diterima oleh Allah sedangkan persembahannya tidak diterima.


Perlu diketahui bahwa persembahan Habel yang diterima Tuhan terjadi bukan karena Tuhan pilih kasih melankan karena Iman yang benar dari Habel (Ibrani 11:4). Jika demikian maka sudah barang tentu bahwa Kain tidak benar-benar beriman kepada Tuhan saat ia mempersembahkan korban di hadapan Tuhan.


Alkitab menuliskan bahwa pada dasarnya Kain tidak memiliki sukacita saat ia melakukan yang baik dihadapan Tuhan (ayat 6-7). Hal ini terlihat jelas ketika Kain membunuh Habel adiknya (ayat 8).


Apa yang dilakukan oleh Kain merupakan contoh yang nyata dari setiap fenomena-fenomena yang terjadi sekarang ini dimana orang datang ke gereja sepertinya terlihat saleh, mempersembahkan korban syukur dengan puji-pujian penyembahan kepada Tuhan namun hatinya tidak demikian.


Bukankah nabi Yesaya pernah mengingatkan tentang hal ini ketika ia menegur bangsa Israel bahwa:


Yesaya 1:11-13 (TB)

11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 

12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 

13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.


Pada akhirnya kita mengerti bahwa persembahan yang benar bukan masalah apa yang kita berikan kepada Tuhan melainkan apakah motivasi kita dalam memberikan persembahan tersebut.


Tuhan tidak menginginkan sesuatu yang kita miliki. Yang diinginkan Tuhan adalah hati dan hidup kita yaitu kesungguhan kita dalam mempersembahkan hidup kita sepenuhnya dihadapan Tuhan dengan motifasi yang benar yaitu kesadaran bahwa kita telah ditebus oleh pengorbanan Yesus di kayu salib dan kita telah dilepaskan dari ikatan dosa yang membuat kita selalu bermasalah secara khusus dengan Tuhan.


Kekristenan mengajarkan dengan jelas bahwa datang dihadapan Tuhan itu bukan karena takut dihukum dan lain sebagainya melainkan karena kita sadar bahwa Kristus telah menyelamatkan hidup kita dari Murka Allah dan kebinasaan kekal.


Bagaimana dengan korban syukur yang selama ini kita berikan kepada Tuhan ? sudahkah kita memberikannya dengan sukacita dan motifasi yang benar ??


GBU..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...