Rabu, 26 Agustus 2020

God is the center

Berpusat pada Allah

1 Korintus 1:1-3


Surat Korintus disebut dengan surat kuno yang memiliki pola dasar Dari dan kepada (salam). Dengan kata lain, surat kuno dimulai dengan nama penulis, nama penerima dan salam. dalam arti bahwa nama, dan salam berada di awal atau pendahuluan surat, yang menunjukan pola dasar yang berbeda.


dari pola dasar yang paulus ikuti ini, ia melakukan beberapa perubahan yang lebih panjang dan bernuansa Kristiani. Ia biasanya menjelaskan siapa dirinya melalui beberapa sebutan yang dia anggap perlu ditekankan dalam relasinya dengan penerima surat atau yang sesuai dengan isi surat. Sebagai contoh, kepada jemaat Galatia yang meragukan kerasulannya, Paulus menyebut diri “seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Paulus menyebut diri “dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan injil Allah” (Rom 1:1), lalu ia memakai tiga ayat untuk menjelaskan injil yang dia beritakan (Rom 1:2-4). Dengan demikian bagi Paulus identitas pengirim berfungsi lebih dari pada sekadar pemberitahuan tentang siapa yang mengirim surat itu. Begitu pula dengan pendahuluan surat 1 Korintus dimana Paulus mengadakan perubahan pada identitas penerima surat. Ia menyebut mereka dengan ungkapan Kristiani tertentu.


Pada bagian salam, Paulus menggunakan dua kata, yaitu "kasih karunia dan damai sejahtera" yang sering juga ada dalam surat²nya yang lain (1Kor 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3; Ef 1:2; Flp 1:2; dll.). 


Dalam ayat ini terdapat dua nama sebagai pengirim surat, yaitu Paulus dan Sostenes. Paulus adalah rasul, sedangkan Sostenes hanyalah saudara seiman. dengan maksud bahwa keterangan sebelum nama Sostenes dengan kata “dan” bertujuan untuk memisahkan antara Paulus dan Sostenes (menegaskan bahwa Sostenes bukanlah rasul).


Sebagai seorang Yahudi yang memiliki kewarganegaraan Romawi (KPR 16:37; 21:39; 22:25) dan lahir di diaspora (KPR 22:3), dengan nama Yahudi (Saulus) dan nama Latin (Paulus).


Dalam pendahuluan surat ini, Paulus memberi penekanan pada statusnya sebagai rasul. Ketika Paulus menyebut diri dengan jabatan atau status seorang rasul, Ia sendiri mengakui bahwa Kristus mengutusnya untuk memberitakan injil, dalam artian sebagai bentuk penekanan.

1. kerasulannya adalah panggilan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang terpanggil secara khusus (Kis 9:1-18).

2. dia adalah rasul Kristus Yesus. yang berarti utusan Kristus Yesus, yang terpanggil dan di utus memberitakan Injil.


maksud Paulus menyebut diri sebagai rasul Kristus Yesus adalah  untuk menekankan bahwa Paulus memiliki tugas kerasulan yang khusus dari Kristus Yesus, yaitu memberitakan injil.  (1:17) dia menyatakan “sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil”. Seorang rasul memiliki dan berhak menjabat beragam tugas, namun Paulus mengetahui dengan pasti bahwa panggilannya yang terutama dan khusus adalah memberitakan injil (bdk. Kis 9:15-16).

3. kerasulannya terjadi melalui kehendak Allah. Kehendak Allah adalah segalanya bagi Paulus. sebab Allah yang memanggil Paulus, bkn sebaliknya. Bukan berasal dari manusia (Gal 1:16-17). Panggilan kerasulannya berasal dari Allah sendiri yang sejak dari dalam kandungan telah memilih dia (Gal 1:15).

Dengan kata lain kerasulannya bersumber dari inisiatif Allah, bukan keinginannya sendiri dan apalagi mencari keuntungan materi bagi diri sendiri (9:12, 15, 18; 2Kor 11:7-9). 


Lalu mengapa ada Sostenes? karena kemungkinan besar ia adalah sekretaris Paulus yang menuliskan surat 1 Korintus. Penjelasan bahwa bagian salam ditulis oleh Paulus sendiri (16:21) menyiratkan bahwa bagian lain ditulis oleh Sostenes di bawah pengawasan Paulus. Kemungkinan lain, Sostenes adalah rekan kerja yang bersama dgn Paulus pada saat surat ini ditulis. Penyebutan beberapa nama orang di pendahuluan surat Paulus memang kadangkala menunjukkan siapa saja yang sedang bersamanya.


kemudian Paulus menyebut Sostenes sebagai “saudara”. Sebutan ini sering dipakai sebagai persamaan kata “orang Kristen” (5:11). Saudara adalah orang untuknya Kristus mati (8:11). Jadi, sebutan ini memiliki makna rohani di dalamnya. Tidak semua orang layak disebut sebagai “saudara”. Yang layak disebut sebagai “saudara” adalah mereka yang sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa melalui pekerjaan Roh Kudus dan karya Kristus (Rom 8:14-17//Gal 4:6). Begitu pentingnya persaudaraan di dalam Kristus sampai-sampai mereka yang berdosa kepada saudara seiman dianggap berdosa kepada Kristus (8:11-12).


kemudian kepada identitas penerima suratnya (1:2). Yang menarik dari bagian ini adalah absennya kata-kata pujian tentang kehebatan Kota Korintus. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus yang penting adalah jemaat Korintus, bukan tempat tinggalnya. maksudnya adalah Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat di Korintus adalah milik Allah. Mereka adalah jemaat Allah yang diperoleh dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28). Hal ini memang perlu ditegaskan Paulus karena mereka seringkali berpikir bahwa mereka milik rasul tertentu (1:12), padahal rasul-rasul itu hanyalah para pekerja saja (3:5-7). dalam artian bahwa para rasul adalah para pekerja sedangkan tuan/kepala/mandornya adalah Allah.  Segala sesuatu adalah tetap milik Allah (3:21-23).


kemudian sebutan “jemaat milik Allah” juga membedakan perkumpulan orang-orang percaya (5:1-5; 11:18; 14:23) dengan perkumpulan yang lain di Kota Korintus. yang berarti bahwa Gereja bukanlah organisasi buatan manusia untuk memelihara tradisi atau ibadah. Gereja harus berfokus pada Allah, karena Dialah yang empunya gereja tersebut.


Sebutan lain untuk orang percaya di Korintus adalah “dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1:2b).  hal ini mengingatkan jemaat Korintus bahwa pengudusan yang dilakukan Kristus (1:30; 6:11) bukanlah sesuatu yang tidak memiliki pengaruh atau sekadar dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah proses pengudusan. Pengudusan adalah sebuah proses yang sudah dikerjakan Kristus dan harus terus-menerus dikerjakan. Implikasi dari hal ink adalah:

1. kekudusan mereka bukanlah sesuatu yang mereka usahakan, sama seperti kerasulan Paulus juga bukan hasil usaha Paulus

2. mereka dikhususkan untuk tujuan yang berpusat pada Kristus

 Paulus

3. tidak ada satu orang pun yang berhak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih rohani/kudus daripada orang lain. Semua adalah karya Kristus.


Kemudian kalimat  “di segala tempat” dan “Tuhan mereka dan Tuhan kita” menguatkan ide tentang kesatuan gereja secara menyeluruh. Arti yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah di setiap tempat berkumpul bagi orang Kristen. Melalui ungkapan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa yang penting bukanlah tempat berkumpul, tetapi apa yang dilakukan dalam perkumpulan itu, yaitu memanggil nama Tuhan. Maknanya adalah pengakuan tentang ke-Tuhanan Yesus sebagai karakteristik orang Kristen. Orang Kristen adalah orang-orang yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (8:6). Praktik ibadah orang Kristen mungkin memiliki beberapa kesamaan dengan agama lain, tetapi yang menjadi pembeda adalah pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3). Paulus sengaja menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus adalah hanyalah bagian kecil dari gereja universal yang sangat besar. jemaat Korintus seharusnya memahami kesamaan antara mereka dengan jemaat yang lain. Mereka tidak boleh merasa diri lebih baik atau hebat dibandingkan jemaat-jemaat yang lain. Mereka tidak boleh memandang diri mereka begitu unik atau istimewa. Kebebasan Kristiani bukan berarti kebebasan mutlak yang tidak memperhatikan orang lain (6:12; 10:23). Dengan kesadaran bahwa sebuah gereja lokal adalah bagian dari gereja universal, maka gereja tersebut dimotivasi untuk saling berbagi dan menguatkan.


selanjutnya Paulus memberi "salam" menunjukkan bahwa bagi Paulus salam merupakan sesuatu yang sangat penting. bahkan dalam seluruh suratnya terlihat bahwa Paulus sangat menghargai arti sebuah salam di antara sesama orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk saling memberi salam (Rom 16:16; 1Kor 16:20; 2Kor 13:12). Dia sendiri juga banyak memberikan salam kepada orang lain atau sebuah jemaat lokal (band. Rom 16:1-15). sebab salam yang dilakukan Paulus bukan hanya menunjukkan bahwa tindakan memberikan salam merupakan sesuatu yang penting, namun juga menunjukan bahwa salam Kristiani merupakan hal yang unik. dalam salam tersebut Paulus sendiri menyatakan bahwa kasih karunia dan damai sejahtera hanya akan turun atas orang-orang yang sungguh-sungguh menerima kebenaran injil yang sejati (Gal 6:16). artinya bahwa orang kristen diperintahkan untuk memberikan salam umum kepada semua orang sebagai bagian dari budaya dan salam Kristiani kepada sesama orang percaya.


kmudian dari kalimat terakhir menunjukan bahwa semua aspek kehidupan manusia itu adalah kasih karunia Allah. hanya saja, jemaat Korintus tampaknya mengalami kesulitan untuk menghargai kasih karunia Allah.


kemuadian lagi adalah “damai sejahtera". Ungkapan yang merupakan salam Yahudi (Shalom) 1 Sam 25:5-6; Dan 10:19; Yak 2:16. Jadi dari pemahaman seperti ini kita dapat melihat bahwa melalui salam pembuka dalam suratnya Paulus berharap agar jemaat Korintus mengalami sejahtera secara menyeluruh. Dengan meletakkan “damai sejahtera” setelah “kasih karunia” Paulus ingin mengajarkan bahwa damai yang sejati hanya dapat muncul dari kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah sumber kehidupan orang percaya, sedangkan damai sejahtera adalah hasil dari hidup yang didasarkan pada kasih karunia. Jemaat dapat hidup berdamai dengan orang lain kalau mereka lebih dahulu mendapat kasih karunia Allah dalam bentuk perdamaian dengan Bapa. dan inj disebut sebagai perdamaian sejati.


sebab itu salam orang Kristen bukan sekedar basa-basi. Salam juga bukan kata-kata sakti yang memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Salam bukan bersumber dari kekuatan orang yang menyampaikan salam. Kuasa salam terletak pada diri Allah. Allah Bapa memberikan kasih karunia dan damai melalui karya penebusan Yesus Kristus.


Yang menarik dari 1:3b ini adalah “Yesus Kristus”. ini terlihat bahwa cara pandang Paulus adalah sangat berpusat pada Kristus. Semua berkat rohani yang diterima oleh orang Kristen hanya berasal dari Bapa melalui Yesus Kristus (1:4).


Kesimpulannya adalah:


sebenarnya sudah waktunya gereja benar-benar menjadi gereja. Gereja bukan kumpulan orang yang membawa agenda dan keinginan pribadi. Gereja bukan sekadar organisasi yang kering dan berfokus pada aspek material belaka. Gereja adalah milik Allah dan harus diatur berdasarkan prinsip-prinsip dari Sang Pemilik. Jika ini yang terjadi, maka jemaat pasti akan dimampukan untuk berjalan dalam kekudusan, sebagaimana status mereka di dalam Kristus dan tujuan dari panggilan ilahi bagi mereka.


sama halnya dengan manusia, manusia dipanggil dipilih Allah untuk melakukan misi Allah, untuk melakukan pekerjaan Allah dalam memuliakan Allah, dan manusia harus hidup seturut dengan kehendak dan dibawa aturannya Allah, sebab Allah adalah Tuan/Raja/Bapa yang tertinggu dari Hidupnya .

GBU..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...