Apakah Tuhan berkenan menerima persembahanku ?
Jangan kita berpikir bahwa setiap orang yang datang beribadah adalah orang yang sungguh-sungguh dekat dan beriman kepada Tuhan. terdapat banyak faktor mengapa orang datang beribadah.
Bisa jadi orang datang beribadah karena dorongan dari keluarga, bisa jadi karena menjaga image dari keluarga atau masyarakat setempat supaya ketika mereka melihatnya memujinya sebagai orang yang saleh. Bisa jadi karena ada sesuatu yang menarik di tempat orang tersebut beribadah. Bisa jadi karena takut mendapat hukuman dari Tuhan. pada intinya kedatangan orang beribadah itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan bahwa orang tersebut sudah hidup benar dan memiliki iman yang benar dihadapan Tuhan.
Itu sebabnya banyak sekali penipuan yang terjadi melalui cara orang beribadah. Ada banyak orang tidak sungguh-sungguh ketika mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan. Namun sebagai orang percaya Tuhan tidak perlu heran dengan adanya tindakan seperti ini sebab tindakan-tindakan seperti yang sudah disebutkan di atas bukanlah hal yang baru melainkan sesuatu yang terjadi secara turun-temurun akibat dosa (pemberontakan) manusia kepada Tuhan.
Contoh yang jelas dapat kita lihat melalui bagaimana Kain dan Habel ketika mereka mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan (Kejadian 4:1-16). Dalam hal ini dapat kita pahami bahwa Kain tidak dapat menerima ketika melihat bahwa persembahan Habel diterima oleh Allah sedangkan persembahannya tidak diterima.
Perlu diketahui bahwa persembahan Habel yang diterima Tuhan terjadi bukan karena Tuhan pilih kasih melankan karena Iman yang benar dari Habel (Ibrani 11:4). Jika demikian maka sudah barang tentu bahwa Kain tidak benar-benar beriman kepada Tuhan saat ia mempersembahkan korban di hadapan Tuhan.
Alkitab menuliskan bahwa pada dasarnya Kain tidak memiliki sukacita saat ia melakukan yang baik dihadapan Tuhan (ayat 6-7). Hal ini terlihat jelas ketika Kain membunuh Habel adiknya (ayat 8).
Apa yang dilakukan oleh Kain merupakan contoh yang nyata dari setiap fenomena-fenomena yang terjadi sekarang ini dimana orang datang ke gereja sepertinya terlihat saleh, mempersembahkan korban syukur dengan puji-pujian penyembahan kepada Tuhan namun hatinya tidak demikian.
Bukankah nabi Yesaya pernah mengingatkan tentang hal ini ketika ia menegur bangsa Israel bahwa:
Yesaya 1:11-13 (TB)
11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
Pada akhirnya kita mengerti bahwa persembahan yang benar bukan masalah apa yang kita berikan kepada Tuhan melainkan apakah motivasi kita dalam memberikan persembahan tersebut.
Tuhan tidak menginginkan sesuatu yang kita miliki. Yang diinginkan Tuhan adalah hati dan hidup kita yaitu kesungguhan kita dalam mempersembahkan hidup kita sepenuhnya dihadapan Tuhan dengan motifasi yang benar yaitu kesadaran bahwa kita telah ditebus oleh pengorbanan Yesus di kayu salib dan kita telah dilepaskan dari ikatan dosa yang membuat kita selalu bermasalah secara khusus dengan Tuhan.
Kekristenan mengajarkan dengan jelas bahwa datang dihadapan Tuhan itu bukan karena takut dihukum dan lain sebagainya melainkan karena kita sadar bahwa Kristus telah menyelamatkan hidup kita dari Murka Allah dan kebinasaan kekal.
Bagaimana dengan korban syukur yang selama ini kita berikan kepada Tuhan ? sudahkah kita memberikannya dengan sukacita dan motifasi yang benar ??
GBU..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar