Kamis, 29 Oktober 2020

Euthanasia

Euthanasia: Should it be legalized in India?

 

BAB I PENDAHULUAN

Euthanasia seringkali menjadi bahan perbicangan bagi banyak orang. Perdebatan serta perselisihan paham tentang Euthanasia ini masih terus berlanjut hingga sekarang ini.Kasih menjadi alasan utama untuk mendukung argumentasi orang-orang yang pro dengan Euthanasia ini. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah kasih yang seperti apakah yang dimaksukan dalam hal ini. Sebab kasih itu adalah sesuatu yang bersifat abastrak, tetapi nyata. Adapun kasih yang dipakai oleh manusia hanya bersifat materialistik dan selalu menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi. Orang-orang memakai kasih dengan berbagai-bagai cara pandang yang berbeda atau dengan pengertian yang berbeda-beda. Terkadang dengan arti asmara atau berahi, kadang-kadang dengan kasih sayang atau belas kasihan. Pengertian kasih ini lebih jelas lagi di dalam istilah Yunaninya yang mengidentifikasikan menjadi empat kata biasa untuk kasih yaitu storge, Filia, Eros. Dan ada satu lagi yang biasa dipakai oleh Alkitab yaitu ‘kasih agape’yang menandai bahwa orang Kristen memiliki kasih yang berbeda dengan kasih biasa. Sebab pada hakekatnya Kasih agape ini bukan suatu emosi, bukan rasa cinta, melainkan satu sikap yang bertekad dan bertindak. Itu sebabnya kasih agape ini tidak bisa dipahami dengan baik dan benar jika orang tersebut belum mengalaminya. Jika demikian, kasih manakah yang digunakan oleh orang-orang yang pro-Euthanasia untuk mempertahankan argmentasinya bahwa tindakan itu baik ? Apakah argumentasi-argumentasi tersebut sesuai dengan ajaran Kekristenan yang berdasar pada Alkitab ? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak setuju akan hal tersebut, apakah yang menjadi alasan yang mendasar ? keputusan manakah yang benar diantara kedua argumentasi di atas ? keputusan manakah yang dikatakan sebagai keputusan etis dari etika Kristen ?untuk mengetahui manakah yang termasuk dalam keputusan etis tidaklah gampang sebab orang-orang yang mengabdi kepada Allah pun mungkin mengalami suatu dilema untuk menentukan apakah itu adalah kehendak Allah atau bukan, karena hal ini menyangkut pilihan yang sukar. Namun, sebagai umat kristiani kelompok hendak memaparkan uraian tantang Euthanasia ini dari sudut pandang Alkitab. Sebab kekristenan tidak mengukur perbuatan dari apa yang menurut manusia itu baik. Sebab jika demikian maka kebenaran itu akan berifat relative. Itu sebabnya masalah tentang Euthanasia ini harus dikaji dari sudut panang Alkitabiah. 
 
 
BAB II PEMBAHASAN
A. DefinisiEuthanasia Euthanasia berasal dari dua kata Yunani ‘eu’ dan ‘thanatos’ yang berarti kematian yang baik atau kematian yang menyenangkan. euthanasia bisa diartikan sebagai tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal diperingan dan juga berarti mempercepat kematian. Dapat dipahamibahwa maksud dari euthanasia adalah suatu tindakan yang dlakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang yang merupakan permintaan seseorang yang sedang mengalami kondisi yang kritis. Dengan kata lain euthanasia merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada seseorang untuk meninggal dengan baik dan tenang atas permintaannya sendiri.
 
B. Macam-macam euthanasia
Menurut jenisnya euthanasia dapat dibedakan menjadi dua macam dan kedua-duanya ini jika dipandang dari sudut pandang etis sebenarnya tidak ada bedanya. 1. Euthanasia yang bersifat pasif Dokter tidak berbuat apa-apa, maksudnya adalah ketika dokter itu melihat pasien yang sakit kritis, seorang dokter hanya berdiam diri saja dan tidak mencegahnya. 2. Euthanasia yang bersifat aktif Suatu keadaan dimana dokter secara aktif mengakhiri hidup seseorang dengan menggunakan obat-obat bius sehingga penderita tidak mengalami kesakitan dan dapat mati dalam keadaan yang tenang. Kedua macam euthanasia di atas sebenarnya berbicara bagaimana sikap dokter dalam menghadapi pasien yang sedang dirawatnya yang dalam keadaan kritis dan susah untuk mati, dan maksudnya adalah kematian pasien.
 
C. Pandangan Kristen terhadap Euthanasia
Kekristenan memandang serta mengatasi setiap masalah dengan berpusat pada apa yang dikatakan oleh Alkitab. 1. Euthanasia mempercepat kematian Kasus euthanasia merupakan kematian yang dipaksakan, dan ini termasuk pembunuhan. Di dalam (Keluaran 20:13), dengan tegas firman Tuhan berkata: “Jangan membunuh.” Jadi tidak ada alasan moral apapun yang mengijinkan pembunuhan, dan manusia itu sendiri tidak memiliki hak untuk menentukan kematiannya, karena kematian adalah hak Tuhan (Ulangan 32:39; Ayub 1:21; Ibrani 9:27). 2. Fungsi penderitaan (Rom.5:3-4) Dalam Alkitab ada dua yaitu“positif dan konstruktif” (Yakobus 1:2-4; Roma 5:3-4), penderitaan melahirkan ketekunan dan pengharapan dan kesempurnaan hidup. Jika pro euthanasia mengatakan bahwa mengakhiri penderitaan seseorang adalah sikap murah hati, berarti penderitaan dijadikan sebagai alat pembenaran praktek. Walaupun euthanasia dapat mengakhiri penderitaan, euthanasia tetaplah suatu pembunuhan. Kalau penderitaan diakhiri dengan euthanasia, itu sama artinya menghalalkan segala cara untuk tujuan tertentu. Hal ini lebih bersifat antroposentris yang menunjuk pada keegoisan manusia. 3. Hidup adalah anugerah dari Tuhan (Kejadian 2:7). Napas kehidupan diberikan TUHAN sehingga manusia memperoleh kehidupan. Tugas manusia adalah untuk memelihara kehidupan yang diberikan oleh Tuhan (Efesus 5:29) bukan untuk . Baik itu sehat, sakit, menderita, hidup harus tetap dipelihara. Penderitaan merupakan anugerah dari Tuhan (Filp.1:29). Itu sebabnya di dalam kebaikan dan anugerah-Nya, Allah memakai segala sesuatu untuk kebaikan manusia sebagai contohnya adalah seorang dokter. Allah juga bertindak dengan perantaraan para dokter, perawat, teknik medis dan sebagainya yang dipakai sebagai alat-Nya. Tentunya Allah menghendaki adanya kesembuhan terhadap orang yang menderitakesakitan. Dengan kata lain pemeliharaan hidup manusia.
 
 
BAB III PENUTUP
 
A. Kesimpulan
Hak untuk mematikan dan menghidupi seseorang adalah hak Tuhan. Jika seseorang melakukan euthanasia, maka ia sudah melanggar kedaulatan Tuhan. Hal ini berarti manusia tidak bisa memaksakan seseorang untuk melakukan pembunuhan dengan cara yang tidak menyakitkan atau melalui oabt-obatan tertentu. Sebab tidak ada seorangpun di dunia ini yang hidup untuk dunianya sendiri dan mati untuk dirinya sendiri. Hanya Allahlah Sang Sumber Hiduplah yang berkuasa atas hidup dan matinya seseorang. Manusia tidak mempunyai hak secara sengaja dan langsung menghentikan proses kehidupannya. Oleh karena itu, segala bentuk Euthanasia langsung, baik aktif maupun pasif tidak dapat dibenarkan. Itu sebabnya sebagai seorang Kristen haruslah melihat kembali kepada apa yang alkitab katakan terutama dalam (Ibrani 12:2-3) yang berkata: “Marilah kita melakukannya dengan mata tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita ke dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” 

Sumber

Abimeno, J.L. Ch.

         2015       Sekitar Etika dan Soal-sal etis, Jakarta: Gunung Mulia,

Brownlee, Malcolm

2000       Pengambilan Keputusan Etis Dan Faktor-faktor Di Dalamnya,Jakarta: BPK Gunung Mulia,

Juanda,

         2006    Iman Yang Berwawasan,Bandung: Yayasan Kalam Hidup,

Marx, Dorothy I.,

         1994       New Morality, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,

https://www.academia.edu/32359969/Pengertian_and_macam-macam_Euthanasia, Diakses pada 3 April 2019.

????????????

 2 Korintus 5:1-10

Bagaimana kita hidup di dalam dunia yang sementara ini ?


Saudara-saudara adalah hal yang lazim jika rindu terhadap keluarganya itu muncul ketika seseorang berada jauh dari lingkungan atau tempat tinggal rumahnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri. Sebagian besar pasti mengeluh apalagi jika tempat dimana orang tersebut tidak sesuai dengan apa yang biasa dilakukan dirymahnya. Sebab apa yang tidak biasa dilakukan dirumagnya tidak dapat diterapkan ditempat tersebut dan apa yang tidak biasa dilakukan justru itulah yang dilakukannya dan itu juga yang dihadapinya serta menjadi tantangan tersendiri.


Dunia ini merupakan sebuah tempat yang sementara bagi kita dan didunia ini juga kita sering mengeluh dengan setiap keadaan yang terjadi. hal ini juga wajar oleh karena dunia yang kita tempati sekarang adalah dunia yang penuh dengan manusia yang berdosa. oleh karenanya Paulus mendorong supaya kita tetap mengenakan pakaian kita dan jangan sampai telanjang di dalam menantikan dunia yang baru yaitu tempat tinggal yang sudah disediakan Tuhan bagi kita tempa tinggal yang penuh dengan kedamaian.


2 Korintus 5:2 (TB)  Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,


Tempat kediaman surgawi memang penuh dengan kedamaian.


Wahyu 21:4 (TB)  Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." 


Namun tempat tersebut tidak akan pernah kita tempati jika kita tidak pernah mengenakan pakaian kita yaitu ketaatan kita dalam melaksanakan hukum-hukum kerajaan Allah sebagai wujud ucapan syukur kita oleh karena kita diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus yang oleh-Nya kita telah diadopsi menjadi anak-anak Allah.


Jika kita adalah anak-anak Allah memang sudah seharusnya kita hidup sesuai dengan hukum-hukum yang sudah diberikan oleh Allah untuk kita.

 

apa itu hukum-hukum kerajaan Allah ? hukum-hukum kerajaan Allah tidak lain adalah KASIH.


Yohanes 13:34 (TB)  Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.


Mengasihi bukanlah ajakan melainkan perintah.


Yohanes 15:12, 17 (TB)

12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."


pertanyaannya adalah masihkah sampai saat ini kita memelihara kasih itu ? bisakah kita menerapkannya ditengah-tengah dunia yang sudah rusak ini ?


ingat bahwa kita memang harus tetap mengerjakan itu namun bukan kita sendiri, Allah yang akan memampukan kita melalui Roh-Nya sebagai jaminan bagi kita.


Filipi 2:13 (TB)  karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.


2 Korintus 5:5 (TB)  Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.


Oleh karenanya kita tidak perlu kuatir dan bingung serta berputus asa dalam menghadapi berbagai hal yang terjadi. tetap bersikap tabah dan teguhkan hati kita masing-masing dan percaya serta andalkan Tuhan dalam berbagai hal supaya hidup kita berkenan dihadapan-Nya.


2 Korintus 5:6-9 (TB)

6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat — 

8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. 

9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.


semua ini harus kita perhatikan dengan baik sebab ada saatnya nanti kita mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita dihadapan Tuhan dalam tahta pengadilan-Nya.


2 Korintus 5:10 (TB)  Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. 


Pertanyaannya bagi kita; Masihkah kita bertahan dan tetap mengenakan pakaian kita di tengah-tengah dunia yang sudah rusak dan sementara ini ?


GBU..

Minggu, 25 Oktober 2020

Seputar tentang Allah

 Apakah Allah Eksis ?

Keberadaan Allah telah lama menjadi problema bagi setiap orangkhususnya bagi yang sering mempertanyakan bahwa apakah Allah itu ada atau tidak. Banyak orang meragukan keberadaan Allah dengan berbagai alasan yang berdasarkan realita yang dapat  dilihat dengan mata jasmani. Orang-orang Ateis adalah orang-orang yang menyangkal akan adanya Allah bukan hanya itu saja mereka juga menyalahkan orang-orang yang percaya kepada Allah. sebab jika Allah itu ada dimanakah buktinya ? dapatkah kita mempercayai sesuatu yang tidak bisa kita lihat dan tidak pasti ? dan jika memang Allah ada dimana Dia sekarang dan bagaimana Allah bisa ada atau siapa yang menciptakan Allah ? kemudian jika memang menurut orang yang percaya kepada Allah bahwa Allah itu baik bukankah itu hanya kebohongan semata sebab jika diperhatikan bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan, dengan kata lain bahwa sebenarnya Alllah tidak ada.

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji dan diuji kebenarannya apakah yang disangka bahwa Allah itu tidak ada benar atau salah. Untuk menunjukkan bahwa Allah itu ada adalah hal yang lebih mudah jika dibandingkan dengan menunjukkan bahwa Allah tidak ada, mengapa demikian ? memang meskipun banyak orang tidak percaya Allah dengan suatu alasan bahwa Allah tidak ada sebab setiap kita tidak dapat melihatnya. Yang menjadi pertanyaan bersama adalah apakah untuk mempercayai sesuatu hal kita harus melihatnya terlebih dahulu ? bukankah ada banyak hal yang kita percayai di dunia ini tanpa kita dapat melihatnya secara jelas dengan mata jasmani kita ? sebagai contoh sederhana adalah pikiran dan perasaan. Jika seseorang ditanya apakah seseorang itu memiliki pikiran atau tidak orang itu pasti menjawab saya percaya bahwa saya memilikinya, demikian halnya dengan perasaan. Sebab jika dilontarkan sebuah pernyataan seperti “dasar tidak punya otak atau dasar tidak punya pikiran dan juga perasaan” tentunya orang itu akan marah dan merasa tidak terima sebab orang itu berkeyakina kalau dirinya memiliki keduanya (pikiran dan perasaan). Jadi jelas bahwa walaupun pikiran dan perasaan itu tidak dapat dilihat secara jelas seperti apa bentuknya namun dapat diketahui melalui dampaknya. Jika diperhatikan seperti contoh di atas maka dapat dimengerti bahwa respon kemarahan dan rasa tidak terima itu menunjukkan bahwa pikiran dan perasaan itu ada meskipun tidak bisa dilihat. Bukankah kemarahan adalah dampak dari perasaan seseorang dan  bukankah rasa tidak terima juga adalah dampak yang timbul dari pikiran sesorang ? sama halnya dengan pikiran dan perasaan demikian juga Allah yang walaupun tidak terlihat tetapi Dia ada. Bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah itu ada ? melalui dampak dari karya-karya-Nya yang dapat kita lihat yaitu Alam semesta.

Mengapa dengan alam semesta ? ada apa dengan dengan Alam semesta ? siapakah yang membuat alam semesta itu ada ? atau alam semesta bisa ada dengan sendirinya. Alam semesta tidak ada dengan sendirinya meskipun ada yang mengaakan bahwa alam semesta ini terrbentuk dari ledakan besar yang kemudian membentuk suatu tatanan yang ada. Jika diperhatikan lagi bukankah hasil ledakan itu sesuatu yang tidak teratur ? bisakah yang tidak teratur menghasilkan sesuatu yang teratur ? bisakah sepeda motor, mobil, truk, dan sebagainya yang tabrakan mengahsilkan sesuatu yang teratur ? tentunya yang terjadi adalah kekacauan. Jadi bukankah peryataan bahwa Alam semesta terbentuk dari sebuah ledakan besar adalah sesuatu yang justru tidak masuk akal. Hal yang sangat mungkin adalah bahwa alam semesta bisa terbentuk sedemikian rupa pasti ada yang membentuk atau menjadikannya, jika demikian hanya siapakah yang membuat alam semesta itu ada ? tentunya adalah Pribadi yang sangat cerdas dan penuh hikmat dan Pribadi ini pastinya melampaui ruang dan waktu. Mengapa demikian ? sebab hanya Pribadi yang sangat cerdas penuh hikmat serta melampaui ruang dan waktulah yang dapat mengadakan atau menciptakan alam semesta yang begitu besar dan indah yang berada dalam keterbatasan. Lalu jika demikian halknya yang terjadi siapakah yang menciptakan Allah ? beberapa hal yang harus diketahui bahwa Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu sebab Dia berada diluar ruang dan waktu. Lebih lagi bahwa sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu ada penyebabnya dan Allah tidak berada pada ruang dan waktu. Itu sebabnya tidak ada yang mengadakan atau membuat Allah itu ada. Dengan kata lain Allah itu ada dengan sendirinya dan Allah yang ada dengan sendirinya itu mengakibatkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini ada.


Apakah masuk akal mempercayai Allah ?

Mempercayai Tuhan itu lebih masuk akal jika dibandingkan dengan percaya bahwa percaya Tuhan itu tidak masuk akal. Sebab jika dikatakan percaya dengan Tuhan itu tidak masuk akal lalu kita percaya kepada siapa ? apakah kita harus percaya kepada dewa-dewa lain ? bukankah dewa-dewa itu juga makhluk yang tidak kasap mata yang tidak dapat diketahui dengan pasti juga oleh manusia. Mengapa saya mengatakan demikian karena jika setiap orang memiliki dewa yang berbeda-beda apakah itu bisa diterima. Sepertinya tidak, karena jika setiap orang memiliki dewa masing-masing maka setiap manusia akan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. Dengan demikian akan terjadi pertikaian karena setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Jika manusia juga mengatakan percaya Allah tidak masuk akal apakah percaya kepada manusia itu masuk akal ? saya pikir ini tidak benar sebab jika percaya kepada manusia, pertanyaannya adalah ada berapa banyak manusia yang ada di dunia ini ? jika demikian manakah yang harus kita percayai ? bisakah kita percaya kepada semua manusia di dunia ini ? hal ini merupakan tindakan yang sangat mustahil dan tidak bisa dilakukan oleh manusia. Sebab manusia memiliki kebenaran masing-masing. Ukuran setiap manusia pasti bnerbeda-beda itu sebabnya kita tidak bisa percaya kepada manusia. Satu-satunya yang masuk akal adalah kita harus percaya bahwa mempercayai Allah itu sangat masuk akal. Allah adalah kebenaran yang absolut yang menjadi standar kebenaran manusia. Jika tidak ada manusia yang dapat dipercaya maka satu-satunya yang dapat dipercaya adalah Allah.

Allahlah yang memampukan manusia untuk memikirkan ada atau tidaknya kebenaran. Kenapa banyak orang tidak percaya Allah dan menganggap kepercayaan kepada Allah adalah sesuatu yang masuk akal. Sebenarnya mereka percaya hanya saja tidak mau mengakuinya. Sebab keberadaan tentang adanya Allah tidak bisa disangkal dengan ilmu pengetahuan atau pemikiran manusia. Manusia terbatas sedangkan Allah tidak terbatas. Lebih dari itu ada atau tidaknya Allah tidak ditentukan oleh pendapat manusia yang terbatas. Sebab Allah yang tidak terbatas itu tidak bisa dibatasi dengan batasan manapun yang dibuat oleh manusia.

Bisakah kita mengenal Allah

Manusia bisa mengenal Allah tapi perlu diperhatikan bahwa pengenalan manusia kepada Allah tidaklah secara utuh. Mengapa demikian ? Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan tidak mungkin manusia memiliki pengenalan yang utuh tentang Allah. Sebab ciptaan pasti lebih rendah jika dibanding dengan penciptanya. Jika manusia dapat mengenal Allah bagaimana caranya ? Pengenalan manusia terhadap Allah didapatkan melalui wahyu atau pernyataan umum yaitu alam semesta. Namun demikian pengenalan ini hanya sebatas pengenalan akan keberadaan Allah yaitu sifat-sifatnya. Sifat-sifat yang seperti apa ? Sifat-sifat Allah dapat diketahui melalui bagaimana alam semesta ini ada tertata dengan sangat teratur. Hal ini menunjukkan bahwa Allah itu adalah Pribadi yang teratur. Dengan kata lain Allah tidak suka dengan kekacauan. Lebih lagi ketika segala sesuatunya teratur maka hal itu akan terlihat sangat indah dan ketika sudah indah maka setiap ciptaannya khususnya adalah manusia yang melihatnya pun akan kagum dengan keindahan yang ada. Keteraturan alam semesta ini juga menunjukkan betapa telitinya Allah dalam menempatkan dan mengatur segala sesuatunya. Ketelitian Allah juga menunjukkan bahwa Allah melihat segala sesuatunya secara detail dengan kata lain Allah mengetahui segala sesuatu yang dibuatnya bahkan sampai yang paling kecilpun Allah tahu.

Keteraturan alam semesta ini juga menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Pribadi yang cerdas tetapi lebih dari itu, Allah adalah Allah yang bijaksana dalam mengatur dan menempatkan segala sesuatunya sehingga semuanya terlihat indah. Bagaimana bisa demikian? Jika memperhatikan bagaimana setiap planet yang ada berputar sesuai dengan batas-batas yang ditetapkannya sehingga tidak terjadi tabraakan dan sebagainya. Itu sebabnya manusia bisa mengenal Allah karena Allah sendiri yang menyatakannya kepada manusia. Manusia bisa mengenal Allah dengan melihat bagaimana setiap manusia diberikan kemampuan berpikir yang cerdas sehingga dapat memikirkan banyak hal untuk membuat sesuatu yang menarik dan Indah. Karekter-kararkter yang seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa manusia tidak bisa memilikinya tanpa ada yang memberinya. Siapa yang memberi ? tidaklah lain adalah Allah. Manusia memiliki sifat dasar yang sama seperti Allah hanya saja Allah tidak pernah berbuat kesalahan sedangkan manusia sering berbuat kesalahan.

Bagaimana kita mengenal kebenaran ?

Manusia tidak bisa menemukan kebenaran di dalam dirinya sendiri atau orang lain yang pada hakekatnya adalah manusia. Sebab manusia terbatas adanya. Manusia yang terbatas tidak mungkin mengenal kebenaran itu secara absolut. Mengapa tidak bisa absolut ? Sebab setiap manusia melihat kebenaran itu dengan cara pandang yang dimiliki masing-masing. Dengan kata lain kebenaran yang dimaksud oleh satu orang tidaklah sama dengan kebenaran yang dimaksud oleh orang lain. Jika demikian apakah kita bisa menemukan kebenaran dalam diri manusia. Saya pikir tidak. Kebenaran hanya dapat ditemukan di dalam Dia yang telah menciptakan alam semesta termasuk manusia yang ada di dalamnya. Sebab Dialah kebenaran itu sendiri ? Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah adalah kebenaran itu sendiri ? Dari mana kita mengetahuinya ? Allah adalah kebenaran itu sendiri yang kemudian memberikan kemampuan kita berpikir kepada manusia untuk memikirkan tantang kebenaran itu sendiri. Tapi sayangnya banyak manusia yang tidak mengakui kebenaran yang sejati itu karena menganggap bahwa dirinya paling benar. Itu sebabnya banyak orang mengatakan bahwa kebenaran itu relative sehingga setiap orang memiliki kebenaran masing-masing. Hal yang seperti ini bukanlah kebenaran sebab kebenaran yang sejati adalah satu adanya dan itu adalah Allah. Maka dari itu untuk mengenal kebenaran kita harus mengenal Allah yang adalah kebenaran dan sumber dari kebenaran yang dipikirkan manusia. Kenapa harus mengenal Allah sebab jika pengenalan akan Allah itu ada maka kebenaran yang sejati itu akan diketahui dan manusia tidak lagi merasa bahwa dirinya paling benar diantara yang lainnya. Memang manusia yg sudah jatuh dalam dosa tidak mampu mengenal Allah dengan benar tanpa Allah sendiri yang memperkenalkan atau menunjukkan diri-Nya kepada manusia. Bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia ? Karena Allah tahu bahwa manusia pasti tidak akan memiliki pengenalan yang benar akan Dia, Allah datang ke dunia dengan menjadi sama seperti manusia. Menjalani kehidupan seperti manusia yang dikenal di dalam Yesus Kristus yang mati dan kemudian bangkit dari kematian-Nya. Dalam hal ini Allah memperbaiki manusia yang sudah kacau oleh karena pembrontakan atau perlawanannya dengan Allah dan Allah ingin manusia kembali kepada kebenaran dan bergantung pada kebenaran di dalam Yesus Kristus sebagaimana yang dikatakan bahwa diri-Nya adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Ketika mengenal kebenaran secara otomatis kita akan memperoleh hidup. Kemudian ketika orang memperoleh hidup. Jika demikian bagaimana Allah bisa menjadi manusia bukankah Allah tidak bisa dilihat, bukankah Allah iu suci dan manusia tidak suci. Sehingga tidak mungkin Alah langsung  datang dengan kesucian-Nya karena jika demikian maka manusia pasti tidak tahan dan pastinya habis lenyap. Itu sebabnya Allah datang dalam wujud manusia supaya manusia mengenal-Nya.Apakah Allah Eksis ?

Keberadaan Allah telah lama menjadi problema bagi setiap orangkhususnya bagi yang sering mempertanyakan bahwa apakah Allah itu ada atau tidak. Banyak orang meragukan keberadaan Allah dengan berbagai alasan yang berdasarkan realita yang dapat  dilihat dengan mata jasmani. Orang-orang Ateis adalah orang-orang yang menyangkal akan adanya Allah bukan hanya itu saja mereka juga menyalahkan orang-orang yang percaya kepada Allah. sebab jika Allah itu ada dimanakah buktinya ? dapatkah kita mempercayai sesuatu yang tidak bisa kita lihat dan tidak pasti ? dan jika memang Allah ada dimana Dia sekarang dan bagaimana Allah bisa ada atau siapa yang menciptakan Allah ? kemudian jika memang menurut orang yang percaya kepada Allah bahwa Allah itu baik bukankah itu hanya kebohongan semata sebab jika diperhatikan bahwa dunia ini penuh dengan kejahatan, dengan kata lain bahwa sebenarnya Alllah tidak ada.

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk dikaji dan diuji kebenarannya apakah yang disangka bahwa Allah itu tidak ada benar atau salah. Untuk menunjukkan bahwa Allah itu ada adalah hal yang lebih mudah jika dibandingkan dengan menunjukkan bahwa Allah tidak ada, mengapa demikian ? memang meskipun banyak orang tidak percaya Allah dengan suatu alasan bahwa Allah tidak ada sebab setiap kita tidak dapat melihatnya. Yang menjadi pertanyaan bersama adalah apakah untuk mempercayai sesuatu hal kita harus melihatnya terlebih dahulu ? bukankah ada banyak hal yang kita percayai di dunia ini tanpa kita dapat melihatnya secara jelas dengan mata jasmani kita ? sebagai contoh sederhana adalah pikiran dan perasaan. Jika seseorang ditanya apakah seseorang itu memiliki pikiran atau tidak orang itu pasti menjawab saya percaya bahwa saya memilikinya, demikian halnya dengan perasaan. Sebab jika dilontarkan sebuah pernyataan seperti “dasar tidak punya otak atau dasar tidak punya pikiran dan juga perasaan” tentunya orang itu akan marah dan merasa tidak terima sebab orang itu berkeyakina kalau dirinya memiliki keduanya (pikiran dan perasaan). Jadi jelas bahwa walaupun pikiran dan perasaan itu tidak dapat dilihat secara jelas seperti apa bentuknya namun dapat diketahui melalui dampaknya. Jika diperhatikan seperti contoh di atas maka dapat dimengerti bahwa respon kemarahan dan rasa tidak terima itu menunjukkan bahwa pikiran dan perasaan itu ada meskipun tidak bisa dilihat. Bukankah kemarahan adalah dampak dari perasaan seseorang dan  bukankah rasa tidak terima juga adalah dampak yang timbul dari pikiran sesorang ? sama halnya dengan pikiran dan perasaan demikian juga Allah yang walaupun tidak terlihat tetapi Dia ada. Bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah itu ada ? melalui dampak dari karya-karya-Nya yang dapat kita lihat yaitu Alam semesta.

Mengapa dengan alam semesta ? ada apa dengan dengan Alam semesta ? siapakah yang membuat alam semesta itu ada ? atau alam semesta bisa ada dengan sendirinya. Alam semesta tidak ada dengan sendirinya meskipun ada yang mengaakan bahwa alam semesta ini terrbentuk dari ledakan besar yang kemudian membentuk suatu tatanan yang ada. Jika diperhatikan lagi bukankah hasil ledakan itu sesuatu yang tidak teratur ? bisakah yang tidak teratur menghasilkan sesuatu yang teratur ? bisakah sepeda motor, mobil, truk, dan sebagainya yang tabrakan mengahsilkan sesuatu yang teratur ? tentunya yang terjadi adalah kekacauan. Jadi bukankah peryataan bahwa Alam semesta terbentuk dari sebuah ledakan besar adalah sesuatu yang justru tidak masuk akal. Hal yang sangat mungkin adalah bahwa alam semesta bisa terbentuk sedemikian rupa pasti ada yang membentuk atau menjadikannya, jika demikian hanya siapakah yang membuat alam semesta itu ada ? tentunya adalah Pribadi yang sangat cerdas dan penuh hikmat dan Pribadi ini pastinya melampaui ruang dan waktu. Mengapa demikian ? sebab hanya Pribadi yang sangat cerdas penuh hikmat serta melampaui ruang dan waktulah yang dapat mengadakan atau menciptakan alam semesta yang begitu besar dan indah yang berada dalam keterbatasan. Lalu jika demikian halknya yang terjadi siapakah yang menciptakan Allah ? beberapa hal yang harus diketahui bahwa Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu sebab Dia berada diluar ruang dan waktu. Lebih lagi bahwa sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu ada penyebabnya dan Allah tidak berada pada ruang dan waktu. Itu sebabnya tidak ada yang mengadakan atau membuat Allah itu ada. Dengan kata lain Allah itu ada dengan sendirinya dan Allah yang ada dengan sendirinya itu mengakibatkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini ada.


Apakah masuk akal mempercayai Allah ?

Mempercayai Tuhan itu lebih masuk akal jika dibandingkan dengan percaya bahwa percaya Tuhan itu tidak masuk akal. Sebab jika dikatakan percaya dengan Tuhan itu tidak masuk akal lalu kita percaya kepada siapa ? apakah kita harus percaya kepada dewa-dewa lain ? bukankah dewa-dewa itu juga makhluk yang tidak kasap mata yang tidak dapat diketahui dengan pasti juga oleh manusia. Mengapa saya mengatakan demikian karena jika setiap orang memiliki dewa yang berbeda-beda apakah itu bisa diterima. Sepertinya tidak, karena jika setiap orang memiliki dewa masing-masing maka setiap manusia akan bertindak sesuai dengan kepercayaannya. Dengan demikian akan terjadi pertikaian karena setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Jika manusia juga mengatakan percaya Allah tidak masuk akal apakah percaya kepada manusia itu masuk akal ? saya pikir ini tidak benar sebab jika percaya kepada manusia, pertanyaannya adalah ada berapa banyak manusia yang ada di dunia ini ? jika demikian manakah yang harus kita percayai ? bisakah kita percaya kepada semua manusia di dunia ini ? hal ini merupakan tindakan yang sangat mustahil dan tidak bisa dilakukan oleh manusia. Sebab manusia memiliki kebenaran masing-masing. Ukuran setiap manusia pasti bnerbeda-beda itu sebabnya kita tidak bisa percaya kepada manusia. Satu-satunya yang masuk akal adalah kita harus percaya bahwa mempercayai Allah itu sangat masuk akal. Allah adalah kebenaran yang absolut yang menjadi standar kebenaran manusia. Jika tidak ada manusia yang dapat dipercaya maka satu-satunya yang dapat dipercaya adalah Allah.

Allahlah yang memampukan manusia untuk memikirkan ada atau tidaknya kebenaran. Kenapa banyak orang tidak percaya Allah dan menganggap kepercayaan kepada Allah adalah sesuatu yang masuk akal. Sebenarnya mereka percaya hanya saja tidak mau mengakuinya. Sebab keberadaan tentang adanya Allah tidak bisa disangkal dengan ilmu pengetahuan atau pemikiran manusia. Manusia terbatas sedangkan Allah tidak terbatas. Lebih dari itu ada atau tidaknya Allah tidak ditentukan oleh pendapat manusia yang terbatas. Sebab Allah yang tidak terbatas itu tidak bisa dibatasi dengan batasan manapun yang dibuat oleh manusia.

Bisakah kita mengenal Allah

Manusia bisa mengenal Allah tapi perlu diperhatikan bahwa pengenalan manusia kepada Allah tidaklah secara utuh. Mengapa demikian ? Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan tidak mungkin manusia memiliki pengenalan yang utuh tentang Allah. Sebab ciptaan pasti lebih rendah jika dibanding dengan penciptanya. Jika manusia dapat mengenal Allah bagaimana caranya ? Pengenalan manusia terhadap Allah didapatkan melalui wahyu atau pernyataan umum yaitu alam semesta. Namun demikian pengenalan ini hanya sebatas pengenalan akan keberadaan Allah yaitu sifat-sifatnya. Sifat-sifat yang seperti apa ? Sifat-sifat Allah dapat diketahui melalui bagaimana alam semesta ini ada tertata dengan sangat teratur. Hal ini menunjukkan bahwa Allah itu adalah Pribadi yang teratur. Dengan kata lain Allah tidak suka dengan kekacauan. Lebih lagi ketika segala sesuatunya teratur maka hal itu akan terlihat sangat indah dan ketika sudah indah maka setiap ciptaannya khususnya adalah manusia yang melihatnya pun akan kagum dengan keindahan yang ada. Keteraturan alam semesta ini juga menunjukkan betapa telitinya Allah dalam menempatkan dan mengatur segala sesuatunya. Ketelitian Allah juga menunjukkan bahwa Allah melihat segala sesuatunya secara detail dengan kata lain Allah mengetahui segala sesuatu yang dibuatnya bahkan sampai yang paling kecilpun Allah tahu.

Keteraturan alam semesta ini juga menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Pribadi yang cerdas tetapi lebih dari itu, Allah adalah Allah yang bijaksana dalam mengatur dan menempatkan segala sesuatunya sehingga semuanya terlihat indah. Bagaimana bisa demikian? Jika memperhatikan bagaimana setiap planet yang ada berputar sesuai dengan batas-batas yang ditetapkannya sehingga tidak terjadi tabraakan dan sebagainya. Itu sebabnya manusia bisa mengenal Allah karena Allah sendiri yang menyatakannya kepada manusia. Manusia bisa mengenal Allah dengan melihat bagaimana setiap manusia diberikan kemampuan berpikir yang cerdas sehingga dapat memikirkan banyak hal untuk membuat sesuatu yang menarik dan Indah. Karekter-kararkter yang seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa manusia tidak bisa memilikinya tanpa ada yang memberinya. Siapa yang memberi ? tidaklah lain adalah Allah. Manusia memiliki sifat dasar yang sama seperti Allah hanya saja Allah tidak pernah berbuat kesalahan sedangkan manusia sering berbuat kesalahan.


Bagaimana kita mengenal kebenaran ?

Manusia tidak bisa menemukan kebenaran di dalam dirinya sendiri atau orang lain yang pada hakekatnya adalah manusia. Sebab manusia terbatas adanya. Manusia yang terbatas tidak mungkin mengenal kebenaran itu secara absolut. Mengapa tidak bisa absolut ? Sebab setiap manusia melihat kebenaran itu dengan cara pandang yang dimiliki masing-masing. Dengan kata lain kebenaran yang dimaksud oleh satu orang tidaklah sama dengan kebenaran yang dimaksud oleh orang lain. Jika demikian apakah kita bisa menemukan kebenaran dalam diri manusia. Saya pikir tidak. Kebenaran hanya dapat ditemukan di dalam Dia yang telah menciptakan alam semesta termasuk manusia yang ada di dalamnya. Sebab Dialah kebenaran itu sendiri ? Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah adalah kebenaran itu sendiri ? Dari mana kita mengetahuinya ? Allah adalah kebenaran itu sendiri yang kemudian memberikan kemampuan kita berpikir kepada manusia untuk memikirkan tantang kebenaran itu sendiri. Tapi sayangnya banyak manusia yang tidak mengakui kebenaran yang sejati itu karena menganggap bahwa dirinya paling benar. Itu sebabnya banyak orang mengatakan bahwa kebenaran itu relative sehingga setiap orang memiliki kebenaran masing-masing. Hal yang seperti ini bukanlah kebenaran sebab kebenaran yang sejati adalah satu adanya dan itu adalah Allah. Maka dari itu untuk mengenal kebenaran kita harus mengenal Allah yang adalah kebenaran dan sumber dari kebenaran yang dipikirkan manusia. Kenapa harus mengenal Allah sebab jika pengenalan akan Allah itu ada maka kebenaran yang sejati itu akan diketahui dan manusia tidak lagi merasa bahwa dirinya paling benar diantara yang lainnya. Memang manusia yg sudah jatuh dalam dosa tidak mampu mengenal Allah dengan benar tanpa Allah sendiri yang memperkenalkan atau menunjukkan diri-Nya kepada manusia. Bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia ? Karena Allah tahu bahwa manusia pasti tidak akan memiliki pengenalan yang benar akan Dia, Allah datang ke dunia dengan menjadi sama seperti manusia. Menjalani kehidupan seperti manusia yang dikenal di dalam Yesus Kristus yang mati dan kemudian bangkit dari kematian-Nya. Dalam hal ini Allah memperbaiki manusia yang sudah kacau oleh karena pembrontakan atau perlawanannya dengan Allah dan Allah ingin manusia kembali kepada kebenaran dan bergantung pada kebenaran di dalam Yesus Kristus sebagaimana yang dikatakan bahwa diri-Nya adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Ketika mengenal kebenaran secara otomatis kita akan memperoleh hidup. Kemudian ketika orang memperoleh hidup. Jika demikian bagaimana Allah bisa menjadi manusia bukankah Allah tidak bisa dilihat, bukankah Allah iu suci dan manusia tidak suci. Sehingga tidak mungkin Alah langsung  datang dengan kesucian-Nya karena jika demikian maka manusia pasti tidak tahan dan pastinya habis lenyap. Itu sebabnya Allah datang dalam wujud manusia supaya manusia mengenal-Nya.


Gbu....

Teologi Injil Sinoptik

BAB I

Pendahuluan

 

Latar Belakang

         Dalam kitab perjanjian baru terdapat empat kitab yang disebut sebagai kitab Injil yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Diantara keempat kitab Injil ini ada tiga kitab Yang disebut sebagai Injil Sinoptik yaitu Matius, Markus, dan Lukas. Meskipun alamat penulisan berbeda-beda tetapi ketiganya sama-sama menguraikan tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia ini. Biasanya diantara ketiga Injil termasuk dalam menggunakan  garis besar secara umum seperti pengenalan, pelayanan Yohanes Pembabtis dan babtisan dan pencobaan Yesus, pelayanan terbesar di Galilea, perjalanan dan pelayanan melalui Samaria, Perea dan sekitar Yudea serta  passion week, kematian dan kebangkitan Yesus di Yerusalem. Mereka juga menuliskan penekanan yang sama di dalam pengajaran Yesus Kristus yakni mulai dari kehadiran, natur, dan pwerwujudan dari kerajaan Allah. Hal ini bukan berarti di dalam Injil Yohanes tidak menceritakan kehidupan dan pelayanan Yesus. Injil Yohanes juga menceritakan tentang Yesus hanya saja di dalamnya terdapat perbedaan-perbeadaan baik secara materi, penekanan, geografi dan struktur.

         Meskipun ada banyak komentar tentang ketidakakuratan Injil di dalam kitab injil dengan alasan bahwa tidak semua penulis adalah saksi mata atau murid dari Yesus secara langsung (yang dimaksud adalah Lukas dan Markus) dan jarak penulisannya yang sangat lama, Namun realitanya tidak demikian. Sebab meskipun ada sebagian penulis yang bukan termasuk saksi mata dan jarak penulisannya cukup lama namun Injil tersebut memiliki pokok bahasan yang sama tentang perkataan-perkataan Yesus, kesaksian kitab perjanjian lama, saksi mata (sebagai sumber penulisan dalam kitab Injil) dan tradisi lisan. Itu sebabnya di dalam Injil khususnya Injil sinoptik memiliki sudut pandang teologi yang sama yaitu tentang kerajaan Allah sebagai upaya dari pekerjaan Yesus yang merupakan pokok bahasan dari kitab Injil. Pembahasan tentang kerajaan Allah tentunya tidak akan terlepas dari pekerjaan Allah Tritunggal yaitu di dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itu sebabnya uraian tentang Teologia Injil sinoptik juga tidak bisa lepas dari pokok pikiran penulis tentang pekerjaan Allah Tritunggal.

 

Rumusan Masalah

         Dengan melihat latar belakang yang ada maka penulis merumuskan suatu masalah yang akan menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.

Teologi apa yang terdapat dalam Injil sinoptik ?

Apakah impliksi dari Teologi yang terdapat dalam Injil Sinoptik ?

 

Tujuan Masalah

         Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut.

Untuk mengetahui Teologi apa saja yang terdapat dalam Injil Sinoptik.

Untuk mengetahui implikasi dari setiap Teologi yang ada dalam Injil Sinoptik.


BAB II

Pembahasan

Teologi Injil Sinoptik

         Injil Sinoptik bukan hanya memiliki sudut tentang bagaimana Yesus Kristus hidup, melayani, mengajar, menderita sengsara, mati dan kemudian bangkit pada hari yang ketiga. Lebih dari itu, setiap penulis dalam Injil Sinoptik juga memiliki sudut pandang teologi yang sama. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pokok pembahasan yang ada di dalamnya seperti halnya tentang Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, Dosa, Keselamatan dll. Untuk memahami bagaimana pandangan Teologi dalam Injil Sinoptik tentang beberapa pokok-pokok penting di atas penulis mengajak untuk melihat uaraiannya di bawah ini.

 

Allah

         Berdasarkan penulis PB yang lain yang menyatakan adanya keyakinan terhadap Allah yang Maha Mulia dan kebergantungan manusia terhadap Allah secara trus menerus, demikian juga dengan Penulis dalam Injil Sinoptik. Injil Sinoptik juga memberikan perhatian penuh terhadap atribut-atribut Allah.

 

Pemeliharaan Allah atas anak-anak-Nya

          Allah adalah Allah yang senantiasa memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya atau orang yang senantiasa berharap dan bergantung kepada-Nya (Mat. 6:26; 10:29). Sebagai wujud dari pemeliharaan Allah atas umat-Nya. Di dalam pemberitaan-Nya Yesus juga merujuk kepada keselamatan orang-orang di luar Yahudi atau orang-orang Yunani (Luk. 21:28).  Dengan kata lain bahwa pemeliharaan Allah itu menyeluruh. Jadi dapat dipahami bahwa tidak sedikitpun yang tidak diperhatikan Allah dalam kehidupan manusia.

 

Penghakiman Allah bagi semua orang (Mat.3:7; 7:1; Luk.3:7)

         Allah adalah Allah yang adil. Dengan kata lain, Allah tetap menghukum orang-orang yang berlaku jahat, orang-orang yang memiliki tabiat seperti ular (Mat.3:7; Luk.3:7). Allah juga akan menghakimi barang siapa yang suka menghakimi sesamanya dengan munafik (7:1).

 

Kuasa Allah (Mrk. 12:24-27)

        Pada dasarnya Allah berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya. Sebab Allah Maha Kuasa. Kuasa Allah mencakup Alam semesta.  baik dalam PL maupun PB sama-sama menyatakan bahwa Tuhan dianggap sebagai dasar kekuatan kuasa. Tuhan adalah sumber dari semua  dan exousía (Mt. 26:64).

 

Ketritunggalan Allah (Mrk. 1:9-11; Mat. 3:13-17; Luk. 3:21-22)

        Dalam ketiga kitab Injil sinoptik semuanya menuliskan tentang peristiwa dimana Yesus dibabtis oleh Yohanes, lalu ada burung Merpati yang turun di atas Yesus, kemudian terdengar suara dari Surga yang mengatakan “Inilah Sang Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Dalam peristiwa tersebut menyatakan adanya ketiga pribadi dari Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus yang hadir dalam wujud yang berbeda-beda. Ketritunggalan Allah juga terlihat jelas ketika Yesus naik ke surga dan memberikan perintah kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil dan membabtiskan mereka dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:18-20).

 

Yesus Kristus

         Pernyataan penting yang menunjukkan pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi di dalam ketiga Injil yang merupakan bentuk pengakuan Yesus sebagai Kristus Anak Allah yang hidup.

 

Mat 16:16

Mark 8:30

Luke 9:20

You are the Christ, the Son of the living God

You are the Christ

You are the Christ of God

 

Dari pernyataan ini ketiga penulis jelas menekankan siapakah Yesus berdasarkan pengakuan Petrus. Dalam hal ini penekanannya sama-sama menyatakan bahwa Yesus adalah Kristus yaitu Anak Allah yang Hidup. Baik matius, Markus maupun Lukas inigin menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dijanjikan atau dinubuatkan oleh para nabi terdahulu. Dalam penyebutan Kristus, Matius di dalam Injilnya menggunakan nama Kristus sebanyak lima kali. Sebagaimana tertulis dalam:

”Silsilah Yesus Kristus, kemudian Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus (1:6)

Dari pembuangan ke Babel sampai kepada Kristus (1:17)

Pemberitaan tentang kelahiran Yesus Kristus (1:18)

Herodes yang bertanya-tanya tentang tempat Mesias akan dilahirkan (2:4)

Yohanes sewaktu dipenjara mendengar tentang “pekerjaan Kristus” (11:2)

Demikian juga dengan Markus meskipun menekankan bahwa Yesus adalah seorang hamba  tetapi Markus tidak mengabaikan pemberitaan tentang Yesus yang adalah “Kristus” meskipun hanya digunakan sebanyak tujuh kali dalam injilnya. Yesus sebagai Kristus ditunjukkan oleh Markus dengan berbagai tindakan yang dilakukan oleh Yesus ytang penuh dengan kuasa. Bukan hanya itu, pernyataan Kristus dalam Injil Markus juga diucapkan oleh musuh-musuh Yesus seperti yang tersirat dalam pertanyaan Imam Besar (Mrk. 14:61-62) dan orang-orang yang mengolok-olok Yesus (Mrk.15:32). Sebagaimana yang sudah tercatat dalam kitab Lukas bahwa Yesus adalah keturunan Daud. Hal ini sangat mungkin bahwa Lukas juga hendak menunjukkan garis keturunan Yesus yang sah sebagai keturunan raja. Bahkan Lukas dengan tegasnya menyatakan dalam tulisannya bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah (Luk. 9:20).

         Dengan melihat setiap pernyataan dalam kitab Injil sinoptik tentang Kristus maka dapat dipahami bahwa Kristus yang dimaksudkan adalah gelar yang disandang oleh Yesus yang adalah Mesias yang dijanjikan oleh para nabi tedahulu, dimana Allah telah mengurapi-Nya dan mengutus Dia. Lebih dari itu, ketiga Injil sama-sama menekankan bahwa Yesus benar-benar manusia yang dilahirkan dari anak dara Maria. Matius dan Lukas menekankan bahwa kemanusiaan Yesus dikandung oleh Roh Kudus (Mat. 1:18; Luk. 1:13), bahkan Matius menjelaskan bahwa Maria tidak bersetubuh dengan seorang laki-laki sebelum kelahiran Yesus (Mat. 1:18-25). Demikian ketiganya juga menekankan kemanusiaan-Nya dalam pencobaan (Mat. 4:1-11; Mrk. 1:12-13; Luk. 4:1-13).


Roh Kudus

         Di dalam Injil Sinoptik juga menggambarkan peranan Roh Kudus dan hal ini dapat diketahui dalam hubungannya dengan Kristus. Ketika Yesus dicobai di padang gurun Roh Kuduslah yang mendorong-Nya (Mrk.1:12) dan ketika dicobai sangat terbukti bahwa Yesus dapat melewati pencobaan tersebut tanpa melakukan dosa. Berkaitan dengan babtisan Kristus, di sana Roh Kudus muncul dalam wujud burung Merpati kemudian turun atas Yesus dan memberikan kuasa untuk pelayanan publik atau umum dan pernyataan ini ditulis oleh ketiga penulis Injil Sinoptik (Mat. 3 16-17; Mrk. 1:9-11; Luk. 3:21-22). Baik Matius, Markus dan juga Lukas mengindikasikan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah, Roh Kudus adalah Allah  itu sendiri. Hal ini dapat diketahui melalui pernyataan ketiga penulis bahwa ketika melakukan penghujatan kepada Roh Kudus maka tidak akan ada pengampunan (Mat.12:22-37; Mrk. 3:20-30; Luk. 11:14-23). Hanya Allahlah yang dapat mengampuni dosa. Jadi dalam hal ini sangat jelas bahwa Roh Kudus setara dengan Allah, sebab Roh Kudus adalah Allah itu sendiri.

 

Dosa

         Setiap penulis dalam Injil sinoptik melihat dosa sebagai sesuatu yang serius dan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia yang berdosa. Dalam istilah lain dosa disebut juga sebagai Opheiletēs yang adalah hutang “debtor,” terkadang kata ini merujuk pada hutang kepada Allah atau hutang tetangga oleh karena pelanggaran (Mat 6:12; Luk. 11:4; 13:4, dapat diartikan sebagai “pelanggar”). penggunaan ini mungkin bergantung pada Aramaic dan surat Ibrani dari kata hôb, hôbâh, hôbā˒ keduanya berarti “hutang” dan “dosa” atau “kesalahan.” Jadi ketika dosa digambarkan sebagai hutang maka dosa adalah sesuatu yang harus dibayar dengan lunas. Dalam hal ini manusialah yang memiliki hutang kepada Allah. Di dalam Injil Markus juga dijelaskan bahwa Anak Manusia datang untun melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi tebusan banyak orang (Mrl. 10:45). Kata tebusan tersebut juga mengacu pada hutang yang dimilikioleh manusia yaitu hutang dosa dan penebusan tersebut hanya dapat dilakukan oleh Anak Manusia yaitu Yesus Kristus.

 

Keselamatan

         Berkaitan dengan pandangan teologi dalam Injil Sinoptik tentang keselamatan dipahami bahwa keselamatan umat manusia hanya di dapat di dalam Yesus Kristus yang adalah Mesias yang dijanjikan sejak zaman para nabi, dimana Mesias yang dimaksud adalah Anak Allah yang hidup yaitu Imanuel (Allah beserta kita) Matius 1:21-23. Dalam (Mrk. 10:45; Mat.20:28; Luk.23:46) juga dijelaskan bahwa Anak Manusia (Yesus) datang ke dunia untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

         Adapun orang yang diselamatkan adalah orang-orang yang bertahan sampai kesudahannya Matius 24:13, orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang memiliki iman yang teguh yang diarahkan kepada Yesus Kristus (Mrk. 5:34).


BAB III

Penutup

Kesimpulan

         Dari setiap pemaparan yang sudah diuraikan dalam bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa meskipun penulis-penulis di dalam Injil Sinoptik tidak sama tetapi pandangan teologis yang dimiliki masing-masing penulis merujuk pada inti yang sama. Dengan kata lain pandangan teologis Markus, Lukas dan juga Markus baik tentang Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, dosa maupun keselamatan memiliki makna yang sama meskipun dalam hal ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda oleh setiap penulis. Dalam hal ini Allah dipandang sebagai Allah yang setia dalam memelihara ciptaan-Nya, Allah itu berkuasa dan menghukum manusia yang bersalah. Dengan kasih, Allah datang kedunia melalui Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang adalah penggenapan janji Allah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Yesuslah yang membayar dosa manusia melalui kematian-Nya di kayu salib. Dengan cara inilah ketika manusia percaya dan tetap berpegang teguh dalam Yesus manusia akan selamat.


Kepustakaan

 

Bromiley, Geoffrey W

1988 The International Standard Bible Encyclopedia, Revised, Vol-3, Gran Rapids. Mich: William. B. Eerdmans,

Elwell, Walter A dan Beitzel, Barry J.

1988 Baker Encyclopedia of the Bible, Vol-2, Grand Rapids, Mich: Baker Book House,

Freedman, David Noel

         1996 The Anchor Bible Dictionary, Vol – 4, New York: Doubleday,

The Anchor Bible Dictionary, Vol – 6, New York : Doubleday,

Guthrie, Donal,

         2016 Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta: Gunung Mulia,

Morris, Leon

         2006 Teologi Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas,

Packer, J. L., dkk,

2003 Ensiklopedia Fakta Alkitab: Bible Almanac – 1, Malang: Gandum  Mas,

Pasaribu, Marulak,

         2005 Eksposisi Injil Sinoptik, Malang: Gandum Mas,

Tulluan, Ola

         1999 Introduksi Perjanjian Baru, Batu: YPPII, 

Jumat, 23 Oktober 2020

Harta Rohani harta yang Terindah

 2 Korintus 4:7-15

Harta Rohani yang Indah


Harta pada umumnya berbicara tentang sesuatu yang kita miliki di dunia ini yang tentunya berbicara tentang hal-hal yang bersifat materi. seberapa banyak harta biasanya mempengaruhi identitas dan bagaimana orang tersebut dipandang.


Tidak sedikit orang yang punya pemahaman seperti ini berusaha semaksimal mungkin untuk mencari harta benda untuk dimiliki. Tanpa memperhatikan apakah cara yang dilakukan salah atau tidak orang tersebut tidak mempedulikannya yang terpenting adalah harta itu bisa dimiliki. harapannya adalah supaya dapat perhatian dari orang-orang yang afa disekelilingnya.


Demikianlah cara yang dilakukan kleh sebagian Orang yang memiliki pemahaman temtang harta duniawi.


Ada juga yang memahami bahwa barta terindah adalah keluarga. keluarga juga dipandang sebagai tempat dimana orang menghabiskan waktu untuk bernagi kasih dan menceritakan setiap isi hati.


Lebih dari semuanya itu Paulus memberikan konformasi kepada kita semua bahwa bukan harta duniawi yang berupa benda-benda material ataupun keluarga melainkan Anugerah Pelayanan yang diberikan Allah kepada kita itulah yang merupakan harta rohani yang indah dan berharga dalam hidup kita.


2 Korintus 4:7 (BIMK)  Tetapi harta rohani yang indah itu kami bawa pada diri kami yang tidak berharga ini yang dibuat dari tanah. Dengan demikian nyatalah bahwa kebesaran kuasa itu terletak pada Allah dan bukan pada kami. 


Perkataan tersebut diungkapkan atas kesadaran bahwa Rasul Paulus adalah orang yang tidak berharga yang kemudian dijadikan berharga oleh karena anugerah pelayanan dari Tuhan. dalam hal inilah rasul Paulus menunjuk dirinya sebagai bejana tanah liat yang dulunya rusak namun telah dibentuk menjadi sesuatu yang berharga. Tanah liat juga menunjuk pada keterbatasan dan ketidakmampuan serta kelemahan kita dalam melakukan sesuatu dimana tanpa bergantung pada Allah kita tidak ada apa-apanya.


oleh karenanya dalam pembuatan bejana ini tidak semudah yang kita bayangkan, artinya dalam pelayanan yang Tuhan anugerahkan kepada kita mengandung proses pembentukan yang panjang dan bahkan Proses itu mungkin dibutuhkan waktu seumur hidup kita.


Rasul Paulus dalam hal ini telah menunjukkan bagaimana Proses pembentukannya dalam pelayanannya yang penuh dengan berbagai macam takanan.


2 Korintus 4:8-10 (TB)

8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 

9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 

10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.


Semuanya ini bukan cerita fiktifnya rasul Paulus melainkan sebuah kenyataan yang menunjukkan adanya proses yang harus dilalui di dalam sebuah pelayanan. meskipun tekanan tersebut besar dan berat namun tidak ada satupun yang tidak dilewati. semua dapat dihadapi oleh karena Yesus Kristus.


Paulus sangat sadar bahwa jika Kristus yang diimaninya telah bangkit dari kematian dan kuasa Maut maka Dia juga akan membangkitkan kita dari gencaran maut yang berusaha menekan dan menguasai kita.


2 Korintus 4:14-15 (TB)

14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. 


oleh karena itu jangan kita mudah putus asa dan mengeluh dengan berbagai macam penondasan dan tekanan hidup yang ada melainkan syukuri itu dan tunjukkan bahwa kristus ada dalam diri kita dan sadari bahwa itu merupakan bagian dari harta rohani yang indah bagi kita.


GBU...

Senin, 21 September 2020

Akibat Tidak memberitakan Injil

Penyebab kecelakaan dalam Kekristenan

1 Korintus 9:16


Tidak sedikit orang yang kurang memahami esensi dari pemberitaan Injil dan konsekuensinya jika tidak memberitakan kepada orang lain. Itu sebabnya Penginjilan menjadi dingin dan orang lebih asik dengan dunianya sendiri.


Keegoisan orang (Kristen) sangat nampak saat orang itu tidak memberitakan Injil. Orang yang tidak mengabarkan Injil adalah orang-orang yang termasuk golongan orang yang egois (mementingkan diri sendiri). Sebab orang tersebut tidak peduli dengan orang lain. Jika percaya Injil berarti percaya Yesus jika percaya Yesus berarti mengikuti teladan-Nya dan jika mengikuti teladan-Nya maka sudah seharusnya rendah hati dan peduli dengan orang lain sebab Yesus sendiri telah mempedulikan orang lain termasuk Kita. Tanpa pengorbanan Yesus kita bukan apa-apa. Maka dari itu kerendahan hati ini harusnya diwujudnyatakan dalam keterlibatan kita dalam Penginjilan.


Dalam hal seperti ini banyak orang juga beralasan dengan mengatakan tidak bisa ini dan itu. Akibatnya penginjilan tidak berjalan.


Penginjilan adalah tugas semua orang percaya. Penginjilan sangat penting sekali. Itu sebabnya rasul Paulus sampai berkata bahwa:


1 Korintus 9:16 (TB)  Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.


1 Corinthians 9:16 (KJV)  For though I preach the gospel, I have nothing to glory of: for necessity is laid upon me; yea, woe is unto me, if I preach not the gospel!


ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΣ Α 9:16 (TR1894)  εαν γαρ ευαγγελιζωμαι ουκ εστιν μοι καυχημα αναγκη γαρ μοι επικειται ουαι δε μοι εστιν εαν μη ευαγγελιζωμαι


Rasul Paulus menyadari bahwa Jika tidak memberitakan Injil maka celakalah dirinya. Kata "ouai" celakalah merupakan kata yang merujuk pada penyangkalan. Dengan kata lain Paulus hendak menyampaikan bahwa jika dirinya tidak memberitakan Injil maka hal itu dianggap sebagai suatu penyangkalan terhadap apa yang dipercayainya, yaitu Injil Yesus Kristus atau Injil Salib. Menyangkal Injil berarti sama halnya menginginkan kebinasaan atas diri kita sendiri.


Rasul Paulus sangat serius menganggap hal ini karena baginya memberitakan Injil merupakan hutang dan hutang harus dibayar.


Roma 1:14-15 (TB)

14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.


Oleh sebab itu memberitakan Injil merupakan suatu keharusan bagi orang Percaya dan tidak alasan bagi kita untuk tidak memberitakan Injil.


"Tidak memberitakan Injil sama halnya dengan menyangkal Yesus Kristus yang adalah inti Injil"


SUDAHKAH KITA BERITAKAN INJIL MELALUI PIKIRAN, PERKATAAN DAN PERBUATAN KITA ?


GBU..

Jumat, 18 September 2020

Pengetahuan yang buruk (The bad Knowledge)

 Pengetahuan Yang Menjatuhkan


NOrang yang memiliki pengetahuan sangat dibutuhkan secara khusus untuk mengajar, membimbing dan memberikan wawasan yang lebih luas kepada orang lain. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang berpengetahuan itu baik dan memberi banyak manfaat.


Pengetahuan juga dapat menjatuhkan orang lain secara khusus mereka yang tidak memiliki banyak pengetahuan. Tidak sedikit juga orang yang berpengetahuan justru memakai pengetahuannya untuk merendahkan sesamanya dan mencari perhatian dari orang lain supaya dengan banyaknya pengetahuan yang dimiliki dipuji dan disanjung-sanjung atau disegani.


Selain memberi banyak manfaat, pengetahuan juga banyak memberikan dampak yang buruk jika tidak digunakan dengan tepat. Orang yang berpengetahuan juga sering mengabaikan orang lain dan bahkan mengolok-olok atau menghina orang yang pengetahuannya lemah/sedikit. Itu karenanya pengetahuan yang demikian tidaklah berarti.


Alkitab menegaskan bahwa orang yang merasa dirinya tahu banyak sebenarnya orang tersebut tidak memiliki pengetahian yang mendalam.


1 Korintus 8:2 (BIMK)  Orang yang menyangka bahwa ia tahu banyak, sebetulnya belum mengetahui yang sedalam-dalamnya. 


1 Corinthians 8:2 (KJV)  And if any man think that he knoweth any thing, he knoweth nothing yet as he ought to know.


ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΣ Α 8:2 (TR1894)  ει δε τις δοκει ειδεναι τι ουδεπω ουδεν εγνωκεν καθως δει γνωναι


Pengetahuan yang digunakan secara salah akan berdampak buruk bagi orang lain. Bukan hanya orang lain tetapi pada pribadi yang berpengetahuan tersebut.


Rasul Paulus memberikan suatu pengertian yang baik kepada Jemaat Korintus bahwa Jika memiliki pengetahuan yang banyak harusnya pengetahuan itu didasarkan atas kasih Allah. Sehingga dalam penerapannya pun tidak menimbulkan masalah baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.


Dalam konteks ini Rasul Paulus menjelaskan tentang pengetahuan yang merujuk pada  cara atau sikap  hidup jemaat Korintus yang berpengetahuan terhadap mereka yang lemah. Yaitu mereka yang masih beranggapan bahwa tidak baik jika makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala.


Maksud Paulus adalah Jika Jemaat tersebut sudah memahami bahwa tidak masalah makan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, namun mereka tidak boleh menerapkannya didepan mereka yang masih beranggapan bahwa itu tidak baik. Jika mereka ikut memakannya padahal hati mereka tidak berkata demikian dengan kata lain makan karena merasa sungkan atau terpaksa maka yang berpengetahuan itu telah membuat sesamanya dan dirinya sendiri  berdosa terhadap Kristus.


1 Korintus 8:10-12 (TB)

10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai "pengetahuan", sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?

11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena "pengetahuan"mu.

12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.


Memang makanan tidak membawa orang lebih dekat kepada Allah. Maksudnya makan makanan apapun tidaklah menjadi masalah namun Jika cara yang diterapkan merupakan batu sandungan bagi orang lain maka itulah yang bermasalah.


1 Korintus 8:8-9 (TB)

8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."

9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. 


Oleh karenanya sebagai orang percaya kita harus memahami hal ini dengan baik dan terus menjaga kebebasan kita secara khusus sikap dan perilaku kita di depan orang-orang yang memiliki cara pandang yang lain dengan kita, Supaya dengan demikian kita bisa menjadi berkat bagi orang yang ada disekitar kita.


1 Korintus 8:9 (TB)

9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.


Oleh karenanya jika kita memiliki pengetahuan yang banyak jangan kita terlalu bangga dengan hal itu. Sebab pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi marabahaya yang besar jika kita salah menggunakannya. Alangkah baiknya jika kita memiliki pengetahuan hendaknya kita menjaganya dan menggunakannya  dengan baik supaya jangan sampai orang lain tersandung oleh karena pengetahuan kita.


Pertanyaannya bagi kita, sudahkah kita menggunakan pengetahian kita dengan baik ? Seberapa sering kita merendahkan orang lain dengan pengetahian kita ? Seberapa sering kita menjadi batu sandungan bagi orang lain oleh karena pengetahuan kita ?


Mari bersama-sama kita menjaga dan menggunakan dengan baik pengetahuan kita supaya melaluinya Injil kerajaan Allah diberitakan..


GBU..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...