Senin, 21 September 2020

Akibat Tidak memberitakan Injil

Penyebab kecelakaan dalam Kekristenan

1 Korintus 9:16


Tidak sedikit orang yang kurang memahami esensi dari pemberitaan Injil dan konsekuensinya jika tidak memberitakan kepada orang lain. Itu sebabnya Penginjilan menjadi dingin dan orang lebih asik dengan dunianya sendiri.


Keegoisan orang (Kristen) sangat nampak saat orang itu tidak memberitakan Injil. Orang yang tidak mengabarkan Injil adalah orang-orang yang termasuk golongan orang yang egois (mementingkan diri sendiri). Sebab orang tersebut tidak peduli dengan orang lain. Jika percaya Injil berarti percaya Yesus jika percaya Yesus berarti mengikuti teladan-Nya dan jika mengikuti teladan-Nya maka sudah seharusnya rendah hati dan peduli dengan orang lain sebab Yesus sendiri telah mempedulikan orang lain termasuk Kita. Tanpa pengorbanan Yesus kita bukan apa-apa. Maka dari itu kerendahan hati ini harusnya diwujudnyatakan dalam keterlibatan kita dalam Penginjilan.


Dalam hal seperti ini banyak orang juga beralasan dengan mengatakan tidak bisa ini dan itu. Akibatnya penginjilan tidak berjalan.


Penginjilan adalah tugas semua orang percaya. Penginjilan sangat penting sekali. Itu sebabnya rasul Paulus sampai berkata bahwa:


1 Korintus 9:16 (TB)  Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.


1 Corinthians 9:16 (KJV)  For though I preach the gospel, I have nothing to glory of: for necessity is laid upon me; yea, woe is unto me, if I preach not the gospel!


ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΣ Α 9:16 (TR1894)  εαν γαρ ευαγγελιζωμαι ουκ εστιν μοι καυχημα αναγκη γαρ μοι επικειται ουαι δε μοι εστιν εαν μη ευαγγελιζωμαι


Rasul Paulus menyadari bahwa Jika tidak memberitakan Injil maka celakalah dirinya. Kata "ouai" celakalah merupakan kata yang merujuk pada penyangkalan. Dengan kata lain Paulus hendak menyampaikan bahwa jika dirinya tidak memberitakan Injil maka hal itu dianggap sebagai suatu penyangkalan terhadap apa yang dipercayainya, yaitu Injil Yesus Kristus atau Injil Salib. Menyangkal Injil berarti sama halnya menginginkan kebinasaan atas diri kita sendiri.


Rasul Paulus sangat serius menganggap hal ini karena baginya memberitakan Injil merupakan hutang dan hutang harus dibayar.


Roma 1:14-15 (TB)

14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.


Oleh sebab itu memberitakan Injil merupakan suatu keharusan bagi orang Percaya dan tidak alasan bagi kita untuk tidak memberitakan Injil.


"Tidak memberitakan Injil sama halnya dengan menyangkal Yesus Kristus yang adalah inti Injil"


SUDAHKAH KITA BERITAKAN INJIL MELALUI PIKIRAN, PERKATAAN DAN PERBUATAN KITA ?


GBU..

Jumat, 18 September 2020

Pengetahuan yang buruk (The bad Knowledge)

 Pengetahuan Yang Menjatuhkan


NOrang yang memiliki pengetahuan sangat dibutuhkan secara khusus untuk mengajar, membimbing dan memberikan wawasan yang lebih luas kepada orang lain. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang berpengetahuan itu baik dan memberi banyak manfaat.


Pengetahuan juga dapat menjatuhkan orang lain secara khusus mereka yang tidak memiliki banyak pengetahuan. Tidak sedikit juga orang yang berpengetahuan justru memakai pengetahuannya untuk merendahkan sesamanya dan mencari perhatian dari orang lain supaya dengan banyaknya pengetahuan yang dimiliki dipuji dan disanjung-sanjung atau disegani.


Selain memberi banyak manfaat, pengetahuan juga banyak memberikan dampak yang buruk jika tidak digunakan dengan tepat. Orang yang berpengetahuan juga sering mengabaikan orang lain dan bahkan mengolok-olok atau menghina orang yang pengetahuannya lemah/sedikit. Itu karenanya pengetahuan yang demikian tidaklah berarti.


Alkitab menegaskan bahwa orang yang merasa dirinya tahu banyak sebenarnya orang tersebut tidak memiliki pengetahian yang mendalam.


1 Korintus 8:2 (BIMK)  Orang yang menyangka bahwa ia tahu banyak, sebetulnya belum mengetahui yang sedalam-dalamnya. 


1 Corinthians 8:2 (KJV)  And if any man think that he knoweth any thing, he knoweth nothing yet as he ought to know.


ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΣ Α 8:2 (TR1894)  ει δε τις δοκει ειδεναι τι ουδεπω ουδεν εγνωκεν καθως δει γνωναι


Pengetahuan yang digunakan secara salah akan berdampak buruk bagi orang lain. Bukan hanya orang lain tetapi pada pribadi yang berpengetahuan tersebut.


Rasul Paulus memberikan suatu pengertian yang baik kepada Jemaat Korintus bahwa Jika memiliki pengetahuan yang banyak harusnya pengetahuan itu didasarkan atas kasih Allah. Sehingga dalam penerapannya pun tidak menimbulkan masalah baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri.


Dalam konteks ini Rasul Paulus menjelaskan tentang pengetahuan yang merujuk pada  cara atau sikap  hidup jemaat Korintus yang berpengetahuan terhadap mereka yang lemah. Yaitu mereka yang masih beranggapan bahwa tidak baik jika makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala.


Maksud Paulus adalah Jika Jemaat tersebut sudah memahami bahwa tidak masalah makan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, namun mereka tidak boleh menerapkannya didepan mereka yang masih beranggapan bahwa itu tidak baik. Jika mereka ikut memakannya padahal hati mereka tidak berkata demikian dengan kata lain makan karena merasa sungkan atau terpaksa maka yang berpengetahuan itu telah membuat sesamanya dan dirinya sendiri  berdosa terhadap Kristus.


1 Korintus 8:10-12 (TB)

10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai "pengetahuan", sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?

11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena "pengetahuan"mu.

12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.


Memang makanan tidak membawa orang lebih dekat kepada Allah. Maksudnya makan makanan apapun tidaklah menjadi masalah namun Jika cara yang diterapkan merupakan batu sandungan bagi orang lain maka itulah yang bermasalah.


1 Korintus 8:8-9 (TB)

8 "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."

9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. 


Oleh karenanya sebagai orang percaya kita harus memahami hal ini dengan baik dan terus menjaga kebebasan kita secara khusus sikap dan perilaku kita di depan orang-orang yang memiliki cara pandang yang lain dengan kita, Supaya dengan demikian kita bisa menjadi berkat bagi orang yang ada disekitar kita.


1 Korintus 8:9 (TB)

9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.


Oleh karenanya jika kita memiliki pengetahuan yang banyak jangan kita terlalu bangga dengan hal itu. Sebab pengetahuan yang kita miliki bisa menjadi marabahaya yang besar jika kita salah menggunakannya. Alangkah baiknya jika kita memiliki pengetahuan hendaknya kita menjaganya dan menggunakannya  dengan baik supaya jangan sampai orang lain tersandung oleh karena pengetahuan kita.


Pertanyaannya bagi kita, sudahkah kita menggunakan pengetahian kita dengan baik ? Seberapa sering kita merendahkan orang lain dengan pengetahian kita ? Seberapa sering kita menjadi batu sandungan bagi orang lain oleh karena pengetahuan kita ?


Mari bersama-sama kita menjaga dan menggunakan dengan baik pengetahuan kita supaya melaluinya Injil kerajaan Allah diberitakan..


GBU..

Senin, 07 September 2020

Tetap menjaga keseimbangan (Keep to Balance)

 Tetap jaga keseimbangan

1 Kor. 7:25-40


Masalah percabulan adalah masalah yang harus disikapi dengan serius. Karena itu Paulus begitu keras menegur jemaat yang terlibat dalam masalah ini. Paulus disini menyoroti masalah tersebut, hanya saja saat ini lebih diarahkan kepada tanggung jawab sebagai umat pilihan Allah. Paulus menyoroti empat hal:

1). jika seorang pria memilih untuk tidak terikat perkawinan dengan gadisnya, ia harus memusatkan perhatian pada Tuhan (ayt 32);

2). jika seorang pria memilih untuk terikat dalam lembaga perkawinan, ia harus menyenangkan istrinya (ayt 33)

3). bagi gadis yang tidak menikah, sebaiknya mereka memusatkan perhatian kepada perkara Tuhan supaya tubuh dan jiwa mereka tetap kudus (ayt 34a);

4). bagi yang ingin terikat dalam perkawinan mereka harus dapat menyenangkan suaminya (ayt 34b). 


Dalam kondisi yang dikatakan darurat ini, Paulus terus berusaha mengimbau agar jemaat tetap menjalankan tanggung jawab yang Tuhan percayakan, karena tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Himbauan Paulus di ayt 29 dan 30 ini sebenarnya "orang- orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri; orang-orang yang menangis, seolah-olah tidak menangis. dn sebagainya". Sebenarnya Paulus tidak sedang bertujuan membingungkan, karena ayat-ayat ini diucapkan agar jemaat Korintus selalu mengingat bahwa tugas utama mereka adalah melayani Tuhan atau memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan. bahkan dari hal ini dapat dilihat dua pelajaran penting:

1). orang percaya dituntut untuk memikirkan pelayanan secara serius, bukan hanya kepentingan pribadi saja.

2). mereka yang serius dalam pelayanan harus juga perlu memperhatikan keseimbangan antara pelayanan dan keluarga, sehingga tanggung jawabnya dapat terlaksana dengan baik. 


karena itu dari tiap kita yang mempunyai kebutuhan dan pergumulan pribadi yang berbeda-beda, kita harus menjaga keseimbangan antara keduanya?

meskipun sulit, akan tetapi yang terpenting disana adalah bagaimana kita dapat menjaga keseimbangan antara persoalan dengan pelayanan.

bagaimana? dengan meminta kekuatan dan petunjuk kepada Tuhan.

 sebab, orang yang menaruh harapnya kepada Tuhan akan melewati segala sesuatu dengan maksimal dan dengan rasa ucapan syukur. yang sudah tentu bisa menjaga keseimbangannya.


GBU..

Minggu, 06 September 2020

Bebas Dalam Kristus

 Roma 8 : 1

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

pada saat manusia jatuh dalam dosa, pada saat itulah manusia menanggung kutukan dari Allah dan manusia mengalami keterpisahan dengan Allah. manusia yang berdosa tentu mendapatkan hukuman dan hukuman atas dosa adalah maut (Rm. 6:23). itu sebabnya manusia yang seolah-olah trlihat seperti hidup tetapi pada dasarnya manusia itu mati (spiritual) (Ef. 2:1-2). hal ini mengindikasikan bahwa manusia menjalani kehidupan yang berujung pada kebinasaan. sebab tidak ada sesuatu hal yang dapat dilakukan oleh usaha manusia untuk memperkenan dirinya dihadapan Allah. meskipun manusia menaati hukum (Taurat) yang Allah berikan untuk dipatuhi. sebab hukum yang Allah berikan bukanlah suatu dasar untuk memperkenan manusia kepada Allah melainkan untuk menunjukkan manusia akan dosa2 yang telah dilakukan (Rm. 3:20) serta menuntun manusia pada kedatangan satu Pribadi yang dapat menggenapi hukum tersebut, tidak lain Pribadi itu adalah Yesus Kristus.


Yesus Kristus dikatakan tidak pernah melakukan dosa sama sekali hal ini bukan berasal dari pengakuan Yesus sendiri (Yoh. 8:46) tetapi juga dari pengakuan orang lain (1 Pet. 2:22). masih banyak bukti lain lagi tentang hal ini. Allah tahu bahwa manusia mengalami beban yang sangat berat dalam hidupnya (Mat. 11:28). dalam kondisi yang seperti ini Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia untuk memberikan keselamatan kepada manusia (Yoh. 3:16). Yesus datang untuk memberikan kemerdekaan kepada manusia sehingga manusia terhindar dari hukuman yang mengerikan dari Allah ketika manusia itu percaya kepada Yesus. kehadiran Yesus membuat Allah berhenti dari murka-Nya dan manusia tidak lagi berjalan kepada kebinasaan Roma 8 : 1

"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." 


Perlu diingat bahwa hal ini berlaku bagi orang yang ada dalam Kristus. namun demikian dengan adanya kemerdekaan atau kebebasan manusia dari hukuman dosa ini bukan berarti manusia hidup sebebas mungkin sesuai dengan kemauannya sendiri ttp harus menunjukkan dan menggunakan kebebasan ini sebagai kesempatan untuk melayani seorang akan yang lain dalam kasih (Agape). supaya orang lain yang belum menerima kasih ini juga dapat merasakan kasih dari Allah yang diberikan kepada kita yang sudah menerimanya. manusia yang berada dalam Kristus tidak boleh hidup dalam keegoisan, karena jika demikian maka manusia itu belum berada dalam Kristus dan sudah pasti masih berada dalam penghukuman Allah.


betapa bersyukurnya kita yang sudah menerima kasih Allah dalam Yesus Kristus karena kita telah dibebaskan dari hukuman kekal Allah. itu sebabnya sudah menjadi tugas kita untuk membagikan kasih itu kepada orang yang belum mengalaminya. sebab kemerdekaan yang kita miliki adalah kemerdekaan dalam kasih (Gal. 5:13).


GBU..

Penampilan seorang Kristen

 Penampilan seorang kristen

1 Kor. 7:17-24


Ada orang yang menjadi Kristen, lalu mengganti namanya atau menambahkan nama 'kristen' di samping nama aslinya. Ada pula yang mengganti kebiasaan berpakaiannya, mungkin biasa bersarung peci, sekarang berjas dengan pakai dasi. Tentu boleh-boleh saja hal itu dilakukan. namun persoalannya, apakah itu perlu dan berguna? Bahkan yang lebih penting lagi: apakah dalam konteks tertentu tidak menjadi batu sandungan? 


Contoh yang diungkapkan oleh Paulus adalah mengenai bersunat atau tidak bersunat. Orang-orang Yahudi menekankan sunat sebagai hukum yang wajib. Apakah orang Kristen harus bersunat? Atau sebaliknya tidak perlu bersunat (ayt 18). Bagaimana dengan hamba yang menjadi Kristen, perlukah ia menuntut pembebasan dirinya dari tuannya sendiri (ayt 21)? Bagi Paulus, bersunat atau tidak bersunat, itu tidak penting. Tetapi menjadi hamba atau kemudian merdeka juga tidak penting (menikah atau tidak menikah). Yang penting adalah firman Tuhan dilakukan dalam kehidupan setiap orang percaya (ayt 19). 


Bagi Paulus, perubahan penampilan menjadi lebih 'kristen' itu tidak penting. Yang lebih penting adalah perubahan hidup Kristen itu sendiri. Kristen adalah orang yang dibebaskan dari dosa, untuk masuk dalam perhambaan kepada Kristus (ayt 22). Mungkin dengan tetap tinggal dalam status hamba, seorang anak Tuhan bisa memenangkan majikannya. 


Di sini kita belajar bahwa Paulus dapat mengatur dalam hal menampilkan dirinya sebagai Kristen. Yang penting hidup Kristen harus bisa dilihat sebagai kesetiaan mengabdi kepada Kristus, supaya menjadi berkat bagi lingkungannya. Maka tetaplah hidup "seperti yang ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil Allah" (ayt 17). 


Oleh sebab itu, mana yang lebih penting untuk ditampilkan: nama dan "asesoris" Kristen atau tingkah laku Kristen? 


ingat bahwa kristen adalah seorang yang telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba Kristus


GBU..

Nikmati masa yang baru bersama Kristus (Enjoy your Live with Jesus)

1 Kor. 6:9-11

Sebagian orang memiliki masa lalu yang manis dan indah, sementara orang lain memiliki masa lalu yang hampa dan buruk. Demikian jg kita, pasti memiliki masa lalu yang berbeda. 


Jika dilihat dari sudut pandang Allah, kita semua memiliki masa lalu yang teramat pekat. Namun sering kali akan  memprotes akan hal buruk itu. Bagaimana dengan orang yang tak pernah berbuat dosa seperti yang dilakukan orang yang perilakunya biadab? Mereka baik, sopan, rajin beribadah, tekun beramal, tidak mencuri, tidak menipu, tidak memperkosa. Tidakkah hidup demikian relatif baik, indah dan dapat menjadi teladan? Sayang kita terjebak penilaian dunia ini. Menurut penilaian Alkitab, dosa seperti kikir atau memfitnah saja bisa membuat orang tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah. Semua orang sudah kehilangan kemuliaan Allah (Rom. 3:23). Maka termasuk masa lalu terpuji seperti sikap fanatik Paulus pun, dalam penilaian baru Paulus tidak lebih seumpama sampah (kotoran binatang ==> Flp. 3:8). 


Masa lalu yang terpuji di mata manusia sekali pun telah cemar oleh egoisme, kesombongan, pembenaran diri. Itulah maksud firman yang mengatakan bahwa yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17). Sebab itu kita tidak lagi menilai sesama orang beriman menurut kenyataan masa lalunya (baik atau tidak), tetapi dari fakta yang Kristus sudah perhitungkan kepada masing-masing (2 Kor. 5:16). 


Seluruh hidup kita adalah milik Kristus. Kristus sudah menebus kita menjadi milik-Nya selamanya. Seluruh segi diri kita, roh, jiwa, tubuh; seluruh ruang dalam diri kita; Seluruhnya, sepenuhnya dicintai-Nya dan ingin diisi oleh-Nya saja. Oleh karena karya Roh Kudus di dalam hati kita, kita merespon kasih Kristus. Kita memberi diri diampuni, diselamatkan, disucikan, dikuduskan, dibenarkan-Nya. Akibatnya dosa dan kehidupan lalu sudah berlalu. Dosa bukan lagi kodrat orang, yang sudah milik Kristus. Dosa adalah cerita lama, lembaran lama. Kini kita dipandang sebagai orang baru, dan sedang terus menerus diperbarui-Nya. Maka mengapa berdosa lagi? Bila dosa bukan sifat kita lagi, ia tidak harus menjadi realitas kita. Jika Kristus sudah memasukkan kita ke masa baru-Nya, mengapa masih hidup seolah di masa lalu? 


sebab itu hargailah masa hidup barumu bersama Kristus dan lupakan masa lalu, yaitu dosa.

GBU...

Selasa, 01 September 2020

Cara Kristus (The Way of Christ)

 Selesaikan konflik dengan cara Kristus

1 Kor. 6:1-8


Konflik itu wajar. dan ini memperlihatkan relasi yang nyata. Bila suatu relasi tak pernah mengalami konflik, jangan-jangan relasi itu tidak pernah ada atau semu. Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat hubungan kita dengan sesama bebas konflik. Melainkan bagaimana menyelesaikan konflik dengan baik, menjunjung tinggi kemanusiaan, menghormati kebenaran dan memenangi semua pihak dengan kasih. Pertanyaan ini mendesak di kalangan Kristen masa kini. Konflik yang berkepanjangan dan yang "diselesaikan" dengan cara yang salah, makin hari makin meluas bahkan  juga menyeret orang Kristen. 


Situasi yang disoroti Paulus adalah konflik yang sampai harus diselesaikan di pengadilan. Tidak jelas bagi kita konflik apa yang terjadi. Paulus hanya menyebut bahwa konflik itu menyangkut masalah keadilan. Jadi bisa saja penyebabnya mirip dengan yang sering terjadi kini. Misalnya soal warisan, hutang-piutang, atau ketidakjujuran dalam transaksi bisnis, dan sebagainya. Masalah-masalah seperti itu tidak hanya terjadi di kalangan orang bukan Kristen. Di antara sesama orang Kristen pun sering terjadi. Lalu bagaimana sebaiknya mencari jalan keluar dari konflik seperti itu agar keadilan tetap ditegakkan, tetapi tidak perlu sampai ke pengadilan? Mengapa demikian? Karena ini tidak sesuai dengan kenyataan masa depan kelak. Orang Kristen akan diikutsertakan Allah dalam mengadili dunia ini. Maka bagaimana mungkin para partner Allah dalam menghakimi dunia kelak, malah memberi diri dihakimi oleh yang akan mereka hakimi.


Jika orang Kristen mencari keadilan dari orang yang tidak beriman, mereka mempermalukan Tuhan dan menyangkali sebuah harapan mulia mereka kelak. Terkait dengan itu, Paulus mengingatkan bahwa dalam diri orang Kristen harus ada kesediaan mengalah dan berkorban. Ini memang prinsip penting. Kita mengalami sendiri bahwa sering kali konflik selesai dengan mudah, bila ada salah satu pihak yang berinisiatif lebih dulu mengalah, berkorban, mengampuni, mempraktikkan kasih Kristus. 


Oleh sebab itu, sebagaimana Kristus membenarkan kita dengan kasih-Nya yang berkorban, kitapun harusnya menyelesaikan konflik dengan prinsip yang sama, yang digunakan oleh Kristus untuk diri kita sendiri.


Tuhan memberkati...

Kawin atau Lajang

 1 Korintus 7:1-7

Manakah yang Lebih baik ? menikah atau tidak ??


Mungkin ada beberapa orang yang mengira bahwa bagian ini menjelaskan kalau tidak menikah itu lebih baik daripada menikah. Jika tidak menikah pelayanan akan menjadi lebih baik sebab tidak memikirkan atau terbeban dengan hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Tetapi apakah Rasul Paulus mengatakannya demikian ?


Kita harus menyimak ayat ini dengan baik. Paulus tidak pernah mengatakan mana yang lebih baik menikah atau tidak. meskipun  dalam ayat pertama dia berkata "Adalah lebih baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin".  di sini rasul Paulus hanya menyatakan tentang kebaikan dari hidup tanpa menikah/selibat, tetapi ia tidak merendahkan pernikahan dan seks dalam pernikahan itu. Namun di sisi lain dia juga mengatakan bahwa:


1 Korintus 7:2 (TB)  tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.


Dalam hal ini Paulus mengetahui apa yang menjadi permasalahan bagi jemaat Korintus. Masalahnya di sini bukanlah pertanyaan tentang pernikahan pada umumnya, melainkan yang ditanyakan adalah masalah hubungan seksual. Sepertinya ada sebagian orang di Jemaat di Korintus memandang negatif hubungan seksual itu. Mereka kuatir bahwa ikatan/hubungan rohani mereka dengan Tuhan akan tercemari dengan aktivitas "daging" seperti hubungan seks ini, bahkan dalam ikatan pernikahan. hal ini terlihat dalam ayat 5 yang menyebutkan:


1 Korintus 7:5 (TB)  Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.


Itu sebabnya disarankan juga bahwa:


1 Korintus 7:3-4 (TB)

3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. 

4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.


Hal ini dikatakan karena mengingat bahaya percabulan yang sangat tinggi di kalangan kota korintus secàra khusus bagi Jemaat. itu sebabnya Rasul Paulus menegaskan lebih baik kawin daripada terjerumus dalam dosa percabulan.


Dalam hal ini Paulus juga menyadari bagaimana manusia yang tidak bisa hidup seorang diri saja. Itu karenanya jika hal2 seperti seks dilakukan oleh suami Istri itu sah adanya. Disamping itu hal ini juga tidak akan menggangu kerohanian atau pelayanan seseorang. seks adalah anugerah dari Allah namun seks baru dikatakan sah jika keduanya sudah saling terikat satu dengan yang lain di dalam sebuah pernikahan yang kudus dimana keduanya menjadi satu daging.


Jadi manakah yang lebih baik ? kawin atau tidak kawin ? keduanya baik, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Sebab setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda.


Oleh sebab itu kita tidak perlu membeda-bedakan baik atau tidaknya pelayanan berdasarkan kawin atau tidak kawin. Yang terpenting adalah jika pelayanan dilakukan dengan hati yang tulus dan kesadaran penuh bahwa kita sudah ditebus dengan darah yang mahal dan kita hidup untuk melayani Tuhan maupun sesama maka pelayanan itu baik di mata Tuhan


GBU..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...