Rabu, 26 Agustus 2020

God is the center

Berpusat pada Allah

1 Korintus 1:1-3


Surat Korintus disebut dengan surat kuno yang memiliki pola dasar Dari dan kepada (salam). Dengan kata lain, surat kuno dimulai dengan nama penulis, nama penerima dan salam. dalam arti bahwa nama, dan salam berada di awal atau pendahuluan surat, yang menunjukan pola dasar yang berbeda.


dari pola dasar yang paulus ikuti ini, ia melakukan beberapa perubahan yang lebih panjang dan bernuansa Kristiani. Ia biasanya menjelaskan siapa dirinya melalui beberapa sebutan yang dia anggap perlu ditekankan dalam relasinya dengan penerima surat atau yang sesuai dengan isi surat. Sebagai contoh, kepada jemaat Galatia yang meragukan kerasulannya, Paulus menyebut diri “seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Paulus menyebut diri “dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan injil Allah” (Rom 1:1), lalu ia memakai tiga ayat untuk menjelaskan injil yang dia beritakan (Rom 1:2-4). Dengan demikian bagi Paulus identitas pengirim berfungsi lebih dari pada sekadar pemberitahuan tentang siapa yang mengirim surat itu. Begitu pula dengan pendahuluan surat 1 Korintus dimana Paulus mengadakan perubahan pada identitas penerima surat. Ia menyebut mereka dengan ungkapan Kristiani tertentu.


Pada bagian salam, Paulus menggunakan dua kata, yaitu "kasih karunia dan damai sejahtera" yang sering juga ada dalam surat²nya yang lain (1Kor 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3; Ef 1:2; Flp 1:2; dll.). 


Dalam ayat ini terdapat dua nama sebagai pengirim surat, yaitu Paulus dan Sostenes. Paulus adalah rasul, sedangkan Sostenes hanyalah saudara seiman. dengan maksud bahwa keterangan sebelum nama Sostenes dengan kata “dan” bertujuan untuk memisahkan antara Paulus dan Sostenes (menegaskan bahwa Sostenes bukanlah rasul).


Sebagai seorang Yahudi yang memiliki kewarganegaraan Romawi (KPR 16:37; 21:39; 22:25) dan lahir di diaspora (KPR 22:3), dengan nama Yahudi (Saulus) dan nama Latin (Paulus).


Dalam pendahuluan surat ini, Paulus memberi penekanan pada statusnya sebagai rasul. Ketika Paulus menyebut diri dengan jabatan atau status seorang rasul, Ia sendiri mengakui bahwa Kristus mengutusnya untuk memberitakan injil, dalam artian sebagai bentuk penekanan.

1. kerasulannya adalah panggilan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang terpanggil secara khusus (Kis 9:1-18).

2. dia adalah rasul Kristus Yesus. yang berarti utusan Kristus Yesus, yang terpanggil dan di utus memberitakan Injil.


maksud Paulus menyebut diri sebagai rasul Kristus Yesus adalah  untuk menekankan bahwa Paulus memiliki tugas kerasulan yang khusus dari Kristus Yesus, yaitu memberitakan injil.  (1:17) dia menyatakan “sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil”. Seorang rasul memiliki dan berhak menjabat beragam tugas, namun Paulus mengetahui dengan pasti bahwa panggilannya yang terutama dan khusus adalah memberitakan injil (bdk. Kis 9:15-16).

3. kerasulannya terjadi melalui kehendak Allah. Kehendak Allah adalah segalanya bagi Paulus. sebab Allah yang memanggil Paulus, bkn sebaliknya. Bukan berasal dari manusia (Gal 1:16-17). Panggilan kerasulannya berasal dari Allah sendiri yang sejak dari dalam kandungan telah memilih dia (Gal 1:15).

Dengan kata lain kerasulannya bersumber dari inisiatif Allah, bukan keinginannya sendiri dan apalagi mencari keuntungan materi bagi diri sendiri (9:12, 15, 18; 2Kor 11:7-9). 


Lalu mengapa ada Sostenes? karena kemungkinan besar ia adalah sekretaris Paulus yang menuliskan surat 1 Korintus. Penjelasan bahwa bagian salam ditulis oleh Paulus sendiri (16:21) menyiratkan bahwa bagian lain ditulis oleh Sostenes di bawah pengawasan Paulus. Kemungkinan lain, Sostenes adalah rekan kerja yang bersama dgn Paulus pada saat surat ini ditulis. Penyebutan beberapa nama orang di pendahuluan surat Paulus memang kadangkala menunjukkan siapa saja yang sedang bersamanya.


kemudian Paulus menyebut Sostenes sebagai “saudara”. Sebutan ini sering dipakai sebagai persamaan kata “orang Kristen” (5:11). Saudara adalah orang untuknya Kristus mati (8:11). Jadi, sebutan ini memiliki makna rohani di dalamnya. Tidak semua orang layak disebut sebagai “saudara”. Yang layak disebut sebagai “saudara” adalah mereka yang sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa melalui pekerjaan Roh Kudus dan karya Kristus (Rom 8:14-17//Gal 4:6). Begitu pentingnya persaudaraan di dalam Kristus sampai-sampai mereka yang berdosa kepada saudara seiman dianggap berdosa kepada Kristus (8:11-12).


kemudian kepada identitas penerima suratnya (1:2). Yang menarik dari bagian ini adalah absennya kata-kata pujian tentang kehebatan Kota Korintus. Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus yang penting adalah jemaat Korintus, bukan tempat tinggalnya. maksudnya adalah Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat di Korintus adalah milik Allah. Mereka adalah jemaat Allah yang diperoleh dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28). Hal ini memang perlu ditegaskan Paulus karena mereka seringkali berpikir bahwa mereka milik rasul tertentu (1:12), padahal rasul-rasul itu hanyalah para pekerja saja (3:5-7). dalam artian bahwa para rasul adalah para pekerja sedangkan tuan/kepala/mandornya adalah Allah.  Segala sesuatu adalah tetap milik Allah (3:21-23).


kemudian sebutan “jemaat milik Allah” juga membedakan perkumpulan orang-orang percaya (5:1-5; 11:18; 14:23) dengan perkumpulan yang lain di Kota Korintus. yang berarti bahwa Gereja bukanlah organisasi buatan manusia untuk memelihara tradisi atau ibadah. Gereja harus berfokus pada Allah, karena Dialah yang empunya gereja tersebut.


Sebutan lain untuk orang percaya di Korintus adalah “dikuduskan dalam Kristus Yesus” (1:2b).  hal ini mengingatkan jemaat Korintus bahwa pengudusan yang dilakukan Kristus (1:30; 6:11) bukanlah sesuatu yang tidak memiliki pengaruh atau sekadar dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah proses pengudusan. Pengudusan adalah sebuah proses yang sudah dikerjakan Kristus dan harus terus-menerus dikerjakan. Implikasi dari hal ink adalah:

1. kekudusan mereka bukanlah sesuatu yang mereka usahakan, sama seperti kerasulan Paulus juga bukan hasil usaha Paulus

2. mereka dikhususkan untuk tujuan yang berpusat pada Kristus

 Paulus

3. tidak ada satu orang pun yang berhak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih rohani/kudus daripada orang lain. Semua adalah karya Kristus.


Kemudian kalimat  “di segala tempat” dan “Tuhan mereka dan Tuhan kita” menguatkan ide tentang kesatuan gereja secara menyeluruh. Arti yang terkandung di dalam ungkapan ini adalah di setiap tempat berkumpul bagi orang Kristen. Melalui ungkapan ini Paulus ingin mengajarkan bahwa yang penting bukanlah tempat berkumpul, tetapi apa yang dilakukan dalam perkumpulan itu, yaitu memanggil nama Tuhan. Maknanya adalah pengakuan tentang ke-Tuhanan Yesus sebagai karakteristik orang Kristen. Orang Kristen adalah orang-orang yang meyakini Yesus sebagai satu-satunya Tuhan (8:6). Praktik ibadah orang Kristen mungkin memiliki beberapa kesamaan dengan agama lain, tetapi yang menjadi pembeda adalah pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan (12:1-3). Paulus sengaja menekankan hal ini untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus adalah hanyalah bagian kecil dari gereja universal yang sangat besar. jemaat Korintus seharusnya memahami kesamaan antara mereka dengan jemaat yang lain. Mereka tidak boleh merasa diri lebih baik atau hebat dibandingkan jemaat-jemaat yang lain. Mereka tidak boleh memandang diri mereka begitu unik atau istimewa. Kebebasan Kristiani bukan berarti kebebasan mutlak yang tidak memperhatikan orang lain (6:12; 10:23). Dengan kesadaran bahwa sebuah gereja lokal adalah bagian dari gereja universal, maka gereja tersebut dimotivasi untuk saling berbagi dan menguatkan.


selanjutnya Paulus memberi "salam" menunjukkan bahwa bagi Paulus salam merupakan sesuatu yang sangat penting. bahkan dalam seluruh suratnya terlihat bahwa Paulus sangat menghargai arti sebuah salam di antara sesama orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk saling memberi salam (Rom 16:16; 1Kor 16:20; 2Kor 13:12). Dia sendiri juga banyak memberikan salam kepada orang lain atau sebuah jemaat lokal (band. Rom 16:1-15). sebab salam yang dilakukan Paulus bukan hanya menunjukkan bahwa tindakan memberikan salam merupakan sesuatu yang penting, namun juga menunjukan bahwa salam Kristiani merupakan hal yang unik. dalam salam tersebut Paulus sendiri menyatakan bahwa kasih karunia dan damai sejahtera hanya akan turun atas orang-orang yang sungguh-sungguh menerima kebenaran injil yang sejati (Gal 6:16). artinya bahwa orang kristen diperintahkan untuk memberikan salam umum kepada semua orang sebagai bagian dari budaya dan salam Kristiani kepada sesama orang percaya.


kmudian dari kalimat terakhir menunjukan bahwa semua aspek kehidupan manusia itu adalah kasih karunia Allah. hanya saja, jemaat Korintus tampaknya mengalami kesulitan untuk menghargai kasih karunia Allah.


kemuadian lagi adalah “damai sejahtera". Ungkapan yang merupakan salam Yahudi (Shalom) 1 Sam 25:5-6; Dan 10:19; Yak 2:16. Jadi dari pemahaman seperti ini kita dapat melihat bahwa melalui salam pembuka dalam suratnya Paulus berharap agar jemaat Korintus mengalami sejahtera secara menyeluruh. Dengan meletakkan “damai sejahtera” setelah “kasih karunia” Paulus ingin mengajarkan bahwa damai yang sejati hanya dapat muncul dari kasih karunia Allah. Kasih karunia adalah sumber kehidupan orang percaya, sedangkan damai sejahtera adalah hasil dari hidup yang didasarkan pada kasih karunia. Jemaat dapat hidup berdamai dengan orang lain kalau mereka lebih dahulu mendapat kasih karunia Allah dalam bentuk perdamaian dengan Bapa. dan inj disebut sebagai perdamaian sejati.


sebab itu salam orang Kristen bukan sekedar basa-basi. Salam juga bukan kata-kata sakti yang memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Salam bukan bersumber dari kekuatan orang yang menyampaikan salam. Kuasa salam terletak pada diri Allah. Allah Bapa memberikan kasih karunia dan damai melalui karya penebusan Yesus Kristus.


Yang menarik dari 1:3b ini adalah “Yesus Kristus”. ini terlihat bahwa cara pandang Paulus adalah sangat berpusat pada Kristus. Semua berkat rohani yang diterima oleh orang Kristen hanya berasal dari Bapa melalui Yesus Kristus (1:4).


Kesimpulannya adalah:


sebenarnya sudah waktunya gereja benar-benar menjadi gereja. Gereja bukan kumpulan orang yang membawa agenda dan keinginan pribadi. Gereja bukan sekadar organisasi yang kering dan berfokus pada aspek material belaka. Gereja adalah milik Allah dan harus diatur berdasarkan prinsip-prinsip dari Sang Pemilik. Jika ini yang terjadi, maka jemaat pasti akan dimampukan untuk berjalan dalam kekudusan, sebagaimana status mereka di dalam Kristus dan tujuan dari panggilan ilahi bagi mereka.


sama halnya dengan manusia, manusia dipanggil dipilih Allah untuk melakukan misi Allah, untuk melakukan pekerjaan Allah dalam memuliakan Allah, dan manusia harus hidup seturut dengan kehendak dan dibawa aturannya Allah, sebab Allah adalah Tuan/Raja/Bapa yang tertinggu dari Hidupnya .

GBU..

Orang Tua Rohani (Spiritual Parent)

 1 Korintus 4:14-21

Menjadi orang tua rohani


Orang tua memiliki peranan penting untuk memperhatikan anak-anaknya dan harus mengajarkan hal-hal yang baik, yang pantas untuk dilakukan oleh anak-anaknya. Lebih dari itu orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak yang sudah seharusnya memberikan teladan/panutan bagi anak-anaknya.


Oleh sebab itu sebagai orang tua tidak bolwh hidup secara sembarangan. Karena pengaruh orang tua kepada anak sangat kuat. Hal seperti ini sangat dipahami oleh Paulus. itu sebabnya dia menyatakan diri sebagai orang tua secara khusus sebagai seorang bapak bagi jemaat di Korintus.


Salah satu bentuk kasih sayang dari seorang bapak adalah peduli dengan anaknya dan tidak akan membiarkan anaknya berlarut-larut dalam kesalahan. Teguran seorang bapak sangat dibutuhkan ketika anaknya berada dalam jalur yang salah. Inilah yang dilakukan oleh Paulus ketika melihat ada kesombongan yang muncul pada Jemaat di Korintus.


meskipun Paulus belum bisa hadir di untuk jemaat namun bentuk kepeduliannya dapat dilihat ketika ia hendak mengirimkan Timotius untuk menyampaikan kebenaran yang diajarkan oleh Paulus yang adalah bapak rohaninya juga.


Timotius dikirim bukan tanpa maksud. Paulus ingin juga supaya jemaat belajar untuk rendah hati dan mau mendengarkan orang yang berada di bawah mereka.


kebenarannya adalah supaya jemaat dapat mengikuti teladan Paulus yang Paulus ikuti dari Tuhan Yesus Kristus (ayat 17). rupa-rupanya Paulus sedang mengarahkan jemaat untuk melihat dirinya yang sudah belajar dan hidup dengan rendah hati sebagaimana Yesua Kristus yang tersalib juga adalah rendah hati.


Jika Yesus dengan kerendah hatiannya mau menerima siapa saja yang percaya kepada-Nya demikian juga kita yang percaya kepada-Nya harus bisa rendah hati dan menerima siapapun tanpa memandang bulu.


bukan hanya Paulus. kita juga bisa mengatakan turutilah teladanku/ikutlah aku. namun dengan pengertian bahwa kita sudah benar-benar mengikuti Yesus dan menjadikan Yesua sebagai norma dari setiap tindakan hidup kita.


GBU..

 1 Korintus 4:11-13

Yang terpenting adalah kekayaan Rohani bukan Materi


Pada bagian ini Paulus memberikan penekanan pada nasihatnya dengan menunjukkan sesuatu yang kontras dengan keadaan jemaat Korintus yang  merasa diri kaya.


Paulus menceritakan bahwa dirinya dan rasul-rasul yang lain lapar dan haus (4:11a). Keadaan ini berbeda dengan keadaan jemaat Korintus yang telah merasa kenyang (4:8). Secara jasmani Paulus memang kerap mengalami kekurangan sampai tidak bisa makan (2Kor 11:27; Flp 4:11-12), bahkan dia menyebutkan bahwa dia mengalami ketelanjangan dan tidak memiliki tempat yang tetap bahkan mengusahakan pekerjaannya sendiri.


Namun secara rohani dia dikenyangkan oleh injil. Sebaliknya, jemaat Korintus yang merasa kenyang secara jasmani maupun rohani sebenarnya belum seberapa kenyang karena masih tidak dapat mengkonsumsi makanan keras (3:2; 4:8).


Dalam hal ini Paulus menegaskan bahwa semua itu masih terus menerus dia alami. Hal ini nampak pada frase "sampai pada saat ini." 


Paulus sengaja menunjukkan dirinya dengan keadaan yang demikian supaya jemaat sadar bahwa mereka terlalu sombong dan tidak pernah memperhatikan Paulus sebagai hamba Tuhan secara khusus Paulus yang dipandang rendah oleh karena diragukan kerasulannya.


Dengan adanya realita seperti ini kita harus belajar baik melalui keadaan Jemaat maupun Paulus. Seringkali orang Kristen bersikap seperti Jemaat Korintus yang tidak peduli dengan keadaan hamba Tuhan dan bahkan menganggapnya sebagai seorang yang rendah dan tidak berguna dan memperlakukannya seperti bukan hamba Tuhan. Dengan adanya sikap seperti ini sebagai jemaat Tuhan sudah seharusnya kita belajar untuk membuka mata dan memlerhatikan para hamba Tuhan dengan sebaik mungkin. Sebab mereka adalah utusan Tuhan yang dipercayakan untuk memlihara iman kita bersama.


Dari sikap Paulus kita dapat belajar bahwa sebagai hamba Tuhan kita harus bisa hidup mandiri dan menunjukkan bahwa Tuhan yang telah mempercayakan tugas pelayanan yang mulia senantiasa memelihara kita dalam keadaan apapun. Lebih dari itu bahwa kehidupan kita tidak bergantung pada kelimpahan hidup manhsia melainkan kelimpahan sang Tuan yaitu Tuhan yang kita layani.


Jadi dapat dimengerti juga bahwa Kekayaan rohani tidak dapat diukur dengan kekayaan secara materi. Sebab banyak orang yang kaya secara materi namun tidak memiliki pemahaman Injil yang benar sehingga menggunakan kekayaan tersebut untuk keaombongan diri sendiri dan merendahkan orang lain.


Bagaimana dengan keadaan kita sekarang ?


GBU..

 1 Korintus 4:1-5


Menyatakan yang benar tidak sama dengan memposisikan diri sebagai yang paing benar


Jika kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari, seberapa seringkah kita berlaku cepat untuk menghakimi orang lain karena ketidaksukaan kita ? 


penghakiman itu tidaklah salah namun menjadi salahnya jika penghakiman itu didasarkan atas ukuran kita sendiri itulah yang menjadi salah. sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa jemaat di Korintus, mereka telah menghakimi Paulus (4:3) dan melupakan jasa-jasa Paulus yang telah berjuang untuk kota Korintus (4:7-13), mereka juga meragukan Paulus (9:1-3). Lebih dari itu mereka memilih Apolos dan Kefas untuk mereka ikuti.


Bagaimana respon Paulus ?

Paulus menegaskan posisinya sebagai Hamba Kristus dan meskipun Paulus milik jemaat yang melayani keselamatan jemaat namun jemaat tidak bisa serta merta memperlakukannya semau mereka sendiri tanpa dasar apapun. Oleh sebab itu Paulus di sini perlu untuk menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Kristus dan banya Kristuslah yang menentukan Paulus benar atau tidak.


Hal tersebut juga dimaksudkan bahwa Apa yang dilakukan dan disampaikan bukan sekedar perkataan biasa yang muncul dari dirinya sendiri melainkan dari Hikmat Allah. itu sebabnya dia menekankan bahwa hamba Kristus harus dapat dipercaya (ay.2). di sisi lain Paulus menunjukkan kesungguhan dan ketaatannya dalam mematuhi apa yang dikehendaki oleh Allah untuk menyampaikan Injil yang adalah rahasia Allah yang dulu tidak disingkapkan namun sekarang telah dinyatakan melalui Yesus Kristus yang di Salib.


Hal ini bukan berarti Paulus memposisikan dirinya sebagai yang paling benar, hal ini dapat dimengerti melalui perkataannya bahwa:


1 Korintus 4:4 (BIMK)  Saya tidak merasa bersalah dalam hal apa pun juga, tetapi itu bukan bukti bahwa saya memang tidak bersalah. Tuhan sendirilah yang menentukan saya bersalah atau tidak.


Paulus di sini sangat tegas dan di lain kata dia hendak mengatakan bahwa meskipun dirinya bersalah biarlah Tuhan yang menghakimi dan menghukumnya.


perkataannya bukan main-main. Dari sini kita tahu bahwa Paulus sangat bertangggung jawab dalam tugas pelayanannya untuk menyampaikan apa yang benar.


poin penting yang perlu kita perhatikan bahwa:

-Perlu bagi kita untuk melihat bagaimana cara kita menghakimi orang lain. jgn sampai kita menghakimi dengan di dasarkan atas ketidaksukaan kita sendiri tetapi hakimilah menurut ukuran Alkitab atau firman Tuhan.

-Perlu bagi kita untuk memahami bahwa kebenaran harus tetap ditegakkan dan jgn sampai kebenaran ditindas oleh ketidakbenaran/kefasikan. jangan biarkan kebenaran itu dihakimi oleh ketidakbenaran. sebab jika demikian dunia ini akan semakin kacau balau.


GBU..

 1 Korintus 4:1-2


Bagaimana orang memandang

 kita ?


Menjadi orang Kristen seringkali menjadi sorotan banyak orang. Inilah keunikan dalam Kekristenan. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pendapat orang lain ketika memandang setiap aspek kehidupan kita. Tidak sedikit juga yang menyampaikan hal-hal yang negatif kepada orang-orang Kristen oleh karena sikap yang tidak baik.


kita adalah milik Kristus. Oleh sebab itu kita perlu memperhatikan dengan baik bagaimana kita hidup supaya tidak seperti orang bebal melainkan seperti orang yang arif (Efesus 5:15). Sebab kita adalah Hamba Allah.


Jika kita hamba Allah sudah seharusnya orang lain melihat kita sebagai hamba Allah bukan hamba dosa dan hamba-hamba lainnya (1 Korintus 4:1). Sebagai hamba Allah kita dipercayakan untuk menyampaikan sesuatu yang mulia yaitu rahasia Allah, yaitu Injil Yesus Kristus.


pertanyaannya bagi kita, apakah kita dapat dipercaya sebagai hamba-hamba Allah yang sudah seharusnya menyampaikan Injil kerajaan Allah ? dan apakah respon orang lain terhadap kita ??


GBU..

Bukan kebijaksanaan manusia

 1 Korintus 2:1-5

Bukan Kebijaksanaan manusia


Pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan dalam pemberitaan firman Tuhan. Sebab tanpa adanya pengetahuan pemberitaan tidak akan lengkap. Namun perlu diketahui bahwa pengetahuan bukanlah yang utama.


Faktanya ada banyak orang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang firman Allah namun terjebak pada pengetahuan itu sendiri. maksudnya bayak orang yang pintar tidak lagi menyampaikan Injil dengan hikmat dari Allah tetapi justru mengandalkan hikmat sendiri. Injil tidak lagi disampaikan dengan kekuatan Allah melainkan kekuatan manusia.


Rasul Paulus memberikan isyarat yang penting bagi setiap Hamba Tuhan untuk tidak mengandalkan pengetahuannya sendiri dalam pemberitaan firman Allah. Justru Rasul Paulus menyatakan bahwa ia datang dalam kelemahan, dengan sangat takut dan gentar (ayat 3) dan bukan dengan kebijaksanaan dunia.


1 Korintus 2:1 (BIMK)  Saudara-saudara! Pada waktu saya datang kepadamu dan memberitakan kepadamu tentang rencana Allah yang belum diketahui oleh dunia,  saya tidak memakai kebijaksanaan dunia ini atau berbicara dengan kata yang muluk-muluk. 


Rasul Paulus datang dalam kelemahan. maksudnya, meskipun ia pandai dan memiliki pengetahuan yang cukup luas namun ia tidak menggunakan kepandaiannya sebagai sarana utama dalam penyampaian firman Tuhan. kelemahan menunjukkan adanya ketergantungan penuh kepada hikmat dan kekuatan dari Tuhan.


1 Korintus 2:4 (BIMK)  Berita yang saya sampaikan kepadamu tidak saya sampaikan dengan kata-kata yang memikat menurut kebijaksanaan manusia. Saya menyampaikan itu dengan cara yang membuktikan bahwa Roh Allah berkuasa.


Takut dan gentar menunjukkan bahwa Rasul Paulus tidak mau kalau kepercayaan jemaat Korintus nantinya bukan didasarkan atas kuasa Allah melainkan pada hikmat dan kebijaksanaan manusia. hal terlihat bahwa;


1 Korintus 2:5 (BIMK)  Saya berbuat begitu, supaya kepercayaanmu kepada Kristus tidak berdasarkan kebijaksanaan manusia, melainkan berdasarkan kuasa Allah. 


Di samping itu rasa takut dan gentar menunjukkan kesadaran yang penuh bahwa yang disampaikan bukanlah cerita dongeng, legenda atau mitos belaka melainkan suatu fakta yang otentik yang memiliki makna yang dalam di dalam hidup manusia, secara khusus bagi keselamatan Jiwa manusia. Itu sebabnya pemberitaan benar-benar difokuskan pada Yesus Kristus yang disalibkan dan bukan yang lain, apalagi dirinya sendiri.


Jadi dapat dimengerti bahwa Kepercayaan yang dilandaskan atas kebijaksanaan manusia adalah kepercayaan yang sia-sia. oleh sebab itu jangan sampai orang yang mendengarkan Injil yang kita sampaikan bergantung pada kebijaksanaan manusia.


Mari kita sampaikan Injil dalam kelemahan dan rasa takut dan gentar dengan mengandalkan penuh kekuatan dan hikmat Allah, supaya orang yang mendengarnya benar-benar mengerti makna dari Injil yang kita beritakan secara khusus tentang Yesus yang di Salib.


GBU..

Kebanggaan Sejati

 1 Korintus 1:18-31


Kebangagaan atas Pembenaran, Pengudusan dan Penebusan Kristus


Dosa membuat manusia menjadi ceroboh dalam melakukan segala hal. meskipun menurut manusia itu baik namun semua yang dilakukan meleset jauh dari sasaran Allah ketika menciptakan manusia. manusia diciptakan untuk mengasihi Allah. Namun faktanya manusia lebih mengasihi diri sendiri. manusia telah memusuhi Allah.


 Alkitab sendiri mengatakannya bahwa manusia adalah seteru Allah (Roma 5:10). bukan Allah yang membuat permusuhan dengan manusia melainkan manusialah yang membuat permusuhan dengan Allah. Sebab manusia telah dicobai oleh keinginannya sendiri untuk melakukan tindakan-tindakan yang jahat yang sama sekali tidak bijaksana (Yakobus 1:14).


contoh sederhana dari ketidakbijaksanaannya manusia dapat dilihat bagaimana manusia menggunakan kelebihannya sebagai kebanggaannya sendiri dan menganggap bahwa itu sudah benar. Tapi sayang Allah tidak berkenan kepada manusia yang demikian. Sebab maksud semuanya itu lebih ditujukan kepada pemuliaan diri sendiri, bukan untuk Allah. Jika kita berbangga kita harus berbangga karena apa yang telah Allah kerjakan bagi kita.


1 Korintus 1:31 (BIMK)  Jadi, seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Orang yang mau berbangga-bangga, harus berbangga atas apa yang dilakukan Tuhan." 


Salib Kristus mengajarkan kepada kita tentang kebanggaan yang benar. Salib Kristus membuat kita menjadi bijaksana dan memahami bahwa kita adalah orang-orang yang dulunya bermusuhan dan tidak benar dihadapan Allah yang kemudian dibenarkan di dalam Diri Yesus Kristus yang tersalib. kita yang tidak kudus telah dikuduskan melalui darah-Nya yan kudus. kita yang diperbudak oleh dosa telah ditebus dan dibebaskam dari kutuk dosa. Semua ini bukan karena kita tapi karena Allah.


Itu sebabnya "Orang yang bijaksana tidak pernah berbangga atas dirinya sendiri melainkan berbangga atas apa yang Allah kerjakan bagi dirinya atas pembenaran, pengudusan dan penebusan Kristus di kayu Salib."


Paulus mengajarkan dan mengingatkan kepada kita betapa pentingnya memahami dengan baik tentang arti Salib bagi orang percaya. Sebab melaluinya kita tahu bagaimana seharusnya kita harus hidup dihadapan Allah dan sesama.


GBU..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...