Rabu, 26 Agustus 2020

Salib Kristus (Cross of Christ)

 1 Korintus 1:18-31


Ada apa di balik Salib ?


Meskipun Salib merupakan peristiwa yang memalukan dan merupakan bentuk penghukuman yang Kejam dan menakutkan kala itu namun di dalam Salib Kristus mengandung banyak arti.


Ketika Yesus disalibkan Dia berbeda dengan yang lain. Sebab Dia tidak bersalah dan tidak seharusnya Dia diperlakukan demikian. Namun Dia mau menjalani itu untuk menunjukkan betapa Dia yang kaya itu rela menjadi miskin demi kita yang miskin supaya kita menjadi kaya di dalam Dia.


Itu sebabnya peristiwa Salib Kristus merupakan peristiwa yang tidak wajar namun mengajar. Sebab dengan melihat Salib, kita diajar dan dapat mengenal Siapa diri kita ini dihadapan Allah dan siapa Allah bagi kita. seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Apologet terkenal di abad ke-17 bahwa:


"Mengenal Allah tanpa mengenal kebobrokan diri kita sendiri membuat kita sombong. mengenal kebobrokan kita sendiri tanpa mengenal Allah membuat kita putus asa. Mengenal Yesus Kristus menyebabkan keseimbangan karena Ia menunjukkan kepada kita keduanya, Allah sekaligus kebobrokan kita."


Melalui peristiwa salib, kita dapat mengerti bahwa kematian Yesus di sana adalah cara Allah menunjukkan kebobrokan dan kelemahan diri kita serta menunjukkan kepedulian  dan kasih Allah kepada kita yang telah rusak, bobrok dan berdosa terhadap Allah.


Tujuannya tidak lain yaitu, Supaya kita tidak menjadi sombong dan bermegah atas diri kita sendiri. Sebaliknya kita menjadi rendah hati dan bermegah dalam Tuhan (ayat 29-31).


Melaui peristiwa salib ini kita dapat mengerti bahwa "ketika orang masih bermegah atas dirinya sendiri sebenarnya orang tersebut belum benar-benar mengerti tantang apa itu Salib dan mengapa Yesus disalib"


Jika kita mengaku Kristen namun dalam prakteknya kita masih memegahkan diri kita dari segala kelebihan kita maka kristen kita perlu dipertanyakan dan direnungkan kembali. Sebab Kekriatenan tidak pernah menvajarkan kepada kita untuk bersikap Sombong dan bermegah atas diri sendiri.


GBU..

Two Choices

 1 Korintus 1:18-24


Jika ada dua Pilihan manakah yang harus kita Pilih ? percaya Yesus atau tidak ??


Pemberitaan Salib tentang Yesus merupakan suatu peristiwa yang unik dan peristiwa ini memiliki respon yang yang ber berbeda-beda. Setidaknya ada 3 respon yang menarik yang dapat kita mengerti pada bagian ini.


Pertama, Respon orang Yahudi. Paulus sebagai orang Yahudi sangat memahami seperti apa pandangan orang Yahudi mengenai Salib Kristus. Itu sebabnya Dia menyatakan bahwa berita salib merupakan batu sandungan bagi mereka. Sesuai dengan pemahaman orang Yahudi, Mesias adalah Raja yang besar yang akan memerintah Israel sebagaimana Daud membawa kemenangan bagi mereka dan kedatangan-Nya akan memberikan revolusi yang besar bagi kesejahteraan mereka baik secara ekonomi, politik maupun sosial.


Oleh sebab itu bagaimana mungkin Raja yang dipandang seperti itu dapat mengalami penderitaan yang berat sebagaimana yang Yesus alami dan tidak bisa membalas ketika dipukul, diludahi, dicacimaki, ditelanjangi bahkan disalibkan. Lebih lagi mereka memandang bahwa orang yang digantungkan pada sebuah tiang adalah orang yang terkutuk


(Ulangan 21:23) (TB)  "maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu."


Melalui hal inilah orang-orang Yahudi menyimpulkan bahwa Yesus bukanlah Mesisas yang meraka nanti-nantikan dan hingga sampai saat ini bagi mereka yang percaya akan hal ini masih menanti-nantikan kedatangan sang Mesias itu di tembok ratapan. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan bahwa berita Salib merupakan batu sandungan bagi mereka.


Kedua, Orang-orang bukan Yahudi secara khusus Romawi. Bagi orang-orang Romawi maupun yang lainnya - Salib merupakan peristiwa yang memalukan - Sebab Salib adalah tempat yang diperuntukkan untuk menghukum para penjahat kelas atas dengan tujuan mempermalukan mereka. Dengan demikian ketika disampaikan bahwa Yesus adalah Tuhan maka mereka akan menyangkal dengan alasan bahwa Tuhan tidak mungkin mati apalagi mati dengan cara yang keji seperti disalibkan. Itu sebabnya bagi mereka berita Salib adalah kebodohan semata yang merupakan berita terburuk yang pernah mereka dengar.


Ketiga, Bagi orang-orang Yahudi maupun non Yahudi yang percaya. Bagi orang percaya, Salib merupakan berita yang Paling penting sebab apa yang telah Allah janjikan mengenai keturunan perempuan telah digenapi melalui peristiwa Salib yang merujuk pada penebusan dosa umat manusia. kematian Yesus dikayu Salib merupakan satu-satunya korban Yang sempurna yang dilakukan satu kali untuk selama-salamanya untuk menebus dosa manusia (Ibrani 9:15-28),


Ayat 9:27-28 (TB)

27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, 

28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.


Oleh sebab itu orang percaya (Kristen) tidak perlu lagi mempersembahkan korban hewan kepada Tuhan sebab semua yang dilakukan diperjanjian lama merupakan bayangan yang akan datang dan wujudnya adalah Kristus. tidak hanya berhenti pada kematiaan-Nya melainkan dilanjutkan dengan kebangkitan-Nya yang menunjukkan bahwa kuasa dosa/maut tidak lagi berkuasa atas-Nya dan atas orang-orang yang percaya kepadaNya. Lebih dari itu Ia memberikan jaminan keselamatan yang kekal bagi setiap yang percaya kepadaNya.


Dalam hal ini kita diperhadapkan dengan dua pilihan yang serius yang akan menentukan hidup kita kelak


" Jika Yesus bukan Tuhan maka sia-sialah kita yang percaya kepada-Nya dan pastilah kita binasa. Namun jika Yesus adalah benar-benar Tuhan maka binasalah orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya dan berbahagialah kita yang percaya kepada-Nya sebab kita memiliki jaminan hidup yang kekal di Sorga bersama dengan-Nya."


Kita Orang Kristen meyakini bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat. sebab hanya Dialah satu-satunya yang memberikan kepastian akan jaminan keselamatan kepada manusia. Selain Dia tidak ada.


Jika kita bijaksana sudah seharusnya kita memilih untuk percaya kepada Yesus sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup.


GBU.

Serving God or Man ? (Melayani Tuhan atau manusia ? )

Melayani Tuhan atau melayani diri sendiri ?


Roma 16:17-20


Jangan pernah kita berpikir ketika kita sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita maka kita hidup dengan aman di dunia ini dan tidak ada yang mengganggu kita. Sebab dunia dimana kita tinggal adalah tempat kumpulan orang-orang berdosa. Itu sebabnya sebagai murid Kristus kita perlu untuk waspada dengan mereka yang masih tinggal dalam dosa (memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa). sebab setiap tindakan yang mereka lakukan adalah usaha untuk membuat kita yang percaya kepada Tuhan berbalik kepada diri kita sendiri atau berpusat pada diri sendiri.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus kalau mereka itu hanya melayani perut mereka sendiri (ay.18). Kata perut  dalam bhs.Yunani "koilia" dapat juga berarti hati (Hati yang merujuk pada pusat keinginan dan perasaan) jadi jelas bahwa pernyataan "Heautwn koilia" merujuk pada keinginan hati manusia itu sendiri bukan Allah. Orang-orang seperti ini harus dihindari (ay.17). Maksudnya adalah ketika kita berhadapan dengan orang yang bersikeras dengan keinginan hatinya maka sebaiknya kita menjauh dari mereka dan tidak terlibat dalam perdebatan yang tidak harmonis. Oleh sebab itu kita perlu bijaksana dan memikirkan apa yang baik untuk dilakukan dan bersih terhadap yang jahat. Dengan kata lain jangan kita menodai diri kita yang sudah disucikan dengan darah kristus dengan apa yang jahat.


masalahnya tidak sedikit orang yang tidak sadar dengan apa yang dikerjakannya apakah dirinya sedang melayani Tuhan atau melayani diri sendiri. ketidaksadaran ini sangat mungkin terjadi jika firman Tuhan jarang atau tidak pernah dibaca maupun direnungkan. Dan orang-orang yang seperti ini pasti bersikap keras kepala dan bersikeras dengan kemauannya sendiri.


Kita harus menyadari bahwa "Orang yang bersikeras dengan keinginan hatinya sendiri adalah orang yang melayani diri sendiri dan orang yang melayani diri sendiri sudah pasti tidak melayani Kristus dan orang yang tidak melayani Kristus pasti tidak melayani Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan"


Jadi mana yang seharusnya kita lakukan, melayani diri sendiri atau Kristus ? Jika melayani Kristus sudahkah kita memikirkan dan melakukan kehendakNya dalam hidup kita ??


GBU..

Giving Honour (memberi hormat)

Sudahkah kita memberi hormat kepada saudara-saudara kita ?


Roma 16:16


Tidak sedikit orang-orang sekarang memahami ciuman sebagai sesuatu yang negatif dan berkaitan dengan nafsu seksual. Itu sebabnya ketika menemukan kata cium atau sejenisnya maka pikirannya sudah mengarah kepada hal-hal yang bersifat porno. sehingga melalui hal ini tidak sedikit orang menganggap alkitab adalah kitab porno. salah satunya adalah kitab kidung Agung yang paling banyak mendapat tuduhan semacam ini.


Jika kita perhatikan lagi dengan baik maka kita akan mengerti bahwa Rasul Paulus juga menulis tentang kata "cium." Apakah dalam hal ini Rasul Paulus menginginkan orang-orang Roma untuk melakukan hal-hal yang bersifat porno ? tidak.


Untuk memahami Alkitab kita tidak boleh memakai sudut pandang kita sendiri dalam penafsirannya. semua harus dilihat sesuai dengan konteksnya.


Ayat 16 perintah " bersalam-salamlah dengan cium kudus" merupakan perintah yang mulia yang Paulus berikan kepada orang-orang di Roma. Paulus tidak hanya berhenti pada cium tetapi menambahkannya dengan "Cium Kudus", artinya bahwa ciuman ini bukan merujuk pada ciuman sebagai ekspresi birahi atau nafsu. 


Yustinus Martir, menyatakan bahwa praktik cium kudus merupakan bagian dari liturgi ibadah. Tapi yang pasti bahwa praktik ini digunakan sebagai tanda persaudaraan di antara jemaat.


Ciuman tersebut dilakukan sebagai pemberian salam yang menunjuk pada kedekatan hubungan kekeluargaan, yaitu kekeluargaan dalam Tuhan.


Ciuman juga berarti sebagai tanda penghormatan terhadap status seseorang yang dianggap lebih tinggi (Arrian Alex. 4.11.3; bnd. Luk. 7:38, 45). Pemberian salam ini biasanya dilakukan pada: leher, tangan, mata, dan atau bagian-bagian tubuh yang lain (bnd. Epictetus Disc. 1.19.24). Namun yang pasti maksud Paulus adalah bukan kepada anjuran yang bersifat porno.


Sebagai seorang Yahudi Paulus tentu sangat memahami budaya Yahudi dan Romawi yang tidak menghendaki ciuman yang kotor (dengan mulut) di depan umum. sebagaimana yang dianjurkan oleh Rabbi Akiba bahwa ciuman harus dilakukan dengan mencium tangan.


Yang pasti dorongan Rasul Paulus adalah agar Jemaat tetap memberikan penghormatan terhadap satu sama lain dengan kesadaran bahwa mereka adalah satu-kesatuan di dalam Yesus Kristus sebagai kepala Gereja.


"Jika kita mengaku diri sebagai Jemaat Kristus sudah selayaknya kita saling memberikan salam hormat kepada saudara-saudara seiman kita dengan cara yang kudus dan kesadaran bahwa kita satu keluarga di dalam Tuhan"


Jadi Penekanan Paulus bukanlah pada ciumannya melainkan bagaimana sebagai umat Tuhan yang telah dipersatukan dalam Kristus harus senantiasa memberi hormat satu dengan yang lain dan tetap menjaga keintiman dalam keluarga Allah. penghormatan dapat diterapkan sesuai dengan konteks budaya yang ada dengan kesadaran bahwa Yesus Kristus telah mempersatukan kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya.


Sudahkah kita menunjukkan penghormatan kita yang kudus kepada saudara-saudara seiman kita sebagai satu saudara dalam Kristus ??


GBU..

Teaching in Hoping (pengajaran dalam pengharapan)

Pengajaran dalam Pengharapan seorang Hamba Tuhan


Roma 15:22-33

Menjelang akhir penulisan suratnya, Paulus menuliskan sebuah harapannya kepada orang-orang Roma ketika nantinya dipertemukan dengan mereka. Dalam tulisan tersebut jika kita perhatikan dengan baik maka kita akan mendapat pengajaran penting di dalam harapan yang Paulus utarakan kepada orang-orang di Roma.


Pengajaran pertama yang kita dapatkan adalah tentang "Pentingnya orang percaya untuk terlibat dalam pelayanan Misi." (Roma 15:24)


Paulus berharap  agar orang-orang percaya di Roma terlibat dalam pelayanannya dengan mengambil bagian untuk mengantarkan Paulus dalam perjalanan menuju ke Spanyol. Hal ini mungkin terlihat sepele, namun Paulus sedang mengajarkan bahwa pelayanan tidak harus ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang besar seperti berbicara di tempat ibadah di depan banyak orang tetapi juga dari hal-hal yang mungkin bagi manusia terlihat biasa dan kurang diperhatikan.


Demikian juga dengan pelayanan dalam gereja, mungkin ada beberapa jemaat yang tidak mempunyai transportasi sehingga tidak bisa datang ke Gereja sendiri karena tempat yang cukup jauh maka Seorang Hamba Tuhan yaitu Pemimpin Gereja harus memberikan pemahaman yang benar tentang apa itu pelayanan dan mendorong jemaat yang memiliki transportasi untuk melibatkan diri dalam pelayanan antar Jemput. 


Mungkin orang orang kurang memperhatikan pelayanan yang seperti ini tetapi Tuhan memperhatikan semua hal yang kita kerjakan. bukankah itu yang Paulus sampaikan kepada kita semua bahwa segala sesuatunya harus kita lakukan seperti untuk Tuhan bukan manusia (kolose 3:23). Ingat bahwa jika kita mengerjakannya untuk Tuhan maka jerih lelah kita tidak sia-sia (1 Korintus 15:58).


Pengajaran kedua adalah tentang "Memberi dalam kekurangan." (Roma 15:25)


Rasul Paulus bukanlah seorang yang kaya. Dalam pelayanannya justru Ia banyak mengalami banyak hal yang buruk. Dia pernah ditindas, kehabisan akal, dianiaya, dihempaskan (2 Korintus 4:7-12), Lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, bekerja dengan tangan yang berat (1 Korintus 4:11-12). Itu sebabnya dalam hal ini Rasul Paulus mengajarkan supaya Jemaat Roma juga memiliki hati memberi secara khusus kepada mereka yang membutuhkan sekalipun tidak hidup berkelimpahan.


Pengajaran ketiga adalah "Melayani orang-orang yang Tuhan pakai untuk membawa kita kepada keselamatan" (Roma 15:27)


Adalah wajib bagi kita mengingat orang-orang yang Tuhan pakai untuk melayani kita sampai kita mengerti firman Tuhan dengan baik dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat yang hidup. Kita harus senantiasa mengormati orang-orang yang demikian, memperhatikan dan bahkan memberi bantuan ketika dalam keadaan kekurangan.


Pengajaran keempat adalah tentang "Pentingnya berdoa untuk pelayanan hamba Tuhan." (Roma 15:30-33).


Hamba Tuhan adalah orang yang Tuhan pakai untuk memberitakan kabar baik dari Allah. kita semua yang percaya adalah hamba Tuhan. Paulus mengajar kita bahwa kita harus senantiasa mendoakan saudara-saudara kita yang berjuang dalam pemberitaan kabar baik supaya ttp mendapatkan kekuatan meskipun dalam pelbagai pencobaan dan penderitaan.


Dari keempat pengajaran yang diberikan melalui pengharapan Paulus di atas akhirnya kita mengetahui bahwa "Pelayanan bukan hanya berbicara pada hal-hal yang besar yang dilakukan di depan banyak orang melainkan juga hal-hal yang kecil yang sering tidak diperhatikan orang yang tidak diketahui banyak orang."


Dari renungan ini kita juga mengerti bahwa "Pesan apapun yang kita sampaikan kepada orang lain hendaknya mengandung pengajaran yang mendorong orang yang mendengarnya untuk melibatkan diri dalam pelayanan Injil."


GBU.

Sudahkah saya berani membicarakan kebenaran Allah ?


Dalam banyak hal terkadang kita merasa malu ketika dipercayakan untuk berbicara atau menyampaikan firman Allah di depan banyak cendekiawan atau ahli-ahli kitab yang memiliki pengetahuan yang lebih baik dari kita. Hal inilah yang sering membuat banyak orang Kristen menjadi tidak percaya diri dan merasa takut dalam menyampaikannya dan bahkan tidak mau lagi untuk berbicara di depan para cendekiawan dan ahli-ahli kitab. 


Namun perlu kita ketahui bahwa Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tidak perlu takut dan cemas dalam menyampaikan firman Allah meskipun di depan banyak orang yang sudah tahu.


Rasul Paulus mendorong kita untuk melihat hal yang sangat penting yang harus tetap dilakukan oleh orang Kristen yaitu tetap memberitakan Injil keselamatan Yesus kepada mereka sekalipun mereka sudah mengetahui hal tersebut. Rasul Paulus tidak peduli dengan orang-orang percaya di Roma yang dia sendiri yakin bahwa mereka sebenarnya penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun rasul Paulus tetap memberikan nasihat, ajararan untuk mengingatkan dan menguatkan iman mereka (Roma 15:14-21).


Alasan yang terbaik yang dinyatakannya adalah karena Kasih karunia Allah (Roma 15:15). Kasih karunia Allah mendorong bukan hanya Rasul Paulus tetapi juga kita semua orang-orang Percaya untuk menjadi orang yang berani memberitakan Injil kepada siapapun dan tidak perlu merasa takut dan ragu meskipun di depan orang-orang yang Pintar dan memiliki pemahaman yang luas. Sebab Injil kasih karunia Allah yang adalah Kebenaran itu tidak diberitakan kepada orang-orang tertentu melainkan kepada semua orang termasuk mereka yang sudah memiliki pemahaman yang banyak tentang firman Allah juga masih perlu untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain.


Yang terpenting kita menyampaikannya sesuai dengan apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita untuk memimpin orang pada ketaatan oleh perkataan dan perbuatan yang benar dalam Kristus. oleh karena itu selama yang kita sampaikan adalah kebenaran oleh kasih Karunia Allah yang di anugerahkan bagi kita tidak perlu merasa takut untuk menyampaikannya meskipun di depan banyak orang yang pandai.


Sudah seharusnya kita harus saling mengingatkat satu dengan yang lain tanpa memandang bulu supaya setiap kita juga boleh belajar untuk rendah hati dan tidak merasa lebih tahu dari yang lain.


Berkat yang kita terima, Anugerah yang diberikan kepada kita harus dibagikan kepada orang lain dengan penuh keberanian. Secara khusus mereka yang belum percaya bahwa Yesus adalah Injil (kabar baik) itu sendiri. Yesus adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6).


Kita tidak perlu merasa takut selama yang kita sampaikan adalah Kebenaran.


GBU..

 Apakah Tuhan berkenan menerima persembahanku ?


Jangan kita berpikir bahwa setiap orang yang datang beribadah adalah orang yang sungguh-sungguh dekat dan beriman kepada Tuhan. terdapat banyak faktor mengapa orang datang beribadah.


Bisa jadi orang datang beribadah karena dorongan dari keluarga, bisa jadi karena menjaga image dari keluarga atau masyarakat setempat supaya ketika mereka melihatnya memujinya sebagai orang yang saleh. Bisa jadi karena ada sesuatu yang menarik di tempat orang tersebut beribadah. Bisa jadi karena takut mendapat hukuman dari Tuhan. pada intinya kedatangan orang beribadah itu tidak bisa dijadikan sebagai patokan bahwa orang tersebut sudah hidup benar dan memiliki iman yang benar dihadapan Tuhan.


Itu sebabnya banyak sekali penipuan yang terjadi melalui cara orang beribadah. Ada banyak orang tidak sungguh-sungguh ketika mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan. Namun sebagai orang percaya Tuhan tidak perlu heran dengan adanya tindakan seperti ini sebab tindakan-tindakan seperti yang sudah disebutkan di atas bukanlah hal yang baru melainkan sesuatu yang terjadi secara turun-temurun akibat dosa (pemberontakan) manusia kepada Tuhan.


Contoh yang jelas dapat kita lihat melalui bagaimana Kain dan Habel ketika mereka mempersembahkan korban syukur dihadapan Tuhan (Kejadian 4:1-16). Dalam hal ini dapat kita pahami bahwa Kain tidak dapat menerima ketika melihat bahwa persembahan Habel diterima oleh Allah sedangkan persembahannya tidak diterima.


Perlu diketahui bahwa persembahan Habel yang diterima Tuhan terjadi bukan karena Tuhan pilih kasih melankan karena Iman yang benar dari Habel (Ibrani 11:4). Jika demikian maka sudah barang tentu bahwa Kain tidak benar-benar beriman kepada Tuhan saat ia mempersembahkan korban di hadapan Tuhan.


Alkitab menuliskan bahwa pada dasarnya Kain tidak memiliki sukacita saat ia melakukan yang baik dihadapan Tuhan (ayat 6-7). Hal ini terlihat jelas ketika Kain membunuh Habel adiknya (ayat 8).


Apa yang dilakukan oleh Kain merupakan contoh yang nyata dari setiap fenomena-fenomena yang terjadi sekarang ini dimana orang datang ke gereja sepertinya terlihat saleh, mempersembahkan korban syukur dengan puji-pujian penyembahan kepada Tuhan namun hatinya tidak demikian.


Bukankah nabi Yesaya pernah mengingatkan tentang hal ini ketika ia menegur bangsa Israel bahwa:


Yesaya 1:11-13 (TB)

11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 

12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 

13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.


Pada akhirnya kita mengerti bahwa persembahan yang benar bukan masalah apa yang kita berikan kepada Tuhan melainkan apakah motivasi kita dalam memberikan persembahan tersebut.


Tuhan tidak menginginkan sesuatu yang kita miliki. Yang diinginkan Tuhan adalah hati dan hidup kita yaitu kesungguhan kita dalam mempersembahkan hidup kita sepenuhnya dihadapan Tuhan dengan motifasi yang benar yaitu kesadaran bahwa kita telah ditebus oleh pengorbanan Yesus di kayu salib dan kita telah dilepaskan dari ikatan dosa yang membuat kita selalu bermasalah secara khusus dengan Tuhan.


Kekristenan mengajarkan dengan jelas bahwa datang dihadapan Tuhan itu bukan karena takut dihukum dan lain sebagainya melainkan karena kita sadar bahwa Kristus telah menyelamatkan hidup kita dari Murka Allah dan kebinasaan kekal.


Bagaimana dengan korban syukur yang selama ini kita berikan kepada Tuhan ? sudahkah kita memberikannya dengan sukacita dan motifasi yang benar ??


GBU..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...