Jumat, 10 Juli 2020

FAITH

Jangan biarkan kebiasaan mengaburkan Iman kita
Matius 17:24-27

Pada bagian ini kita akan mengetahui bahwa ayat 24-27 tidak hanya sekedar membahas tentang pembayaran pajak bait Allah. jauh dari itu ayat tersebut berbicara tentang bagaimana seorang murid mengikuti Gurunya namun tidak benar-benar mengetahui dan meyakini dengan pasti siapa yang diikuti. Dengan kata lain beriman namun tidak tahu tentang apa atau siapa yang diimani. Hal ini terbukti bagaimana jawaban Petrus ketika ditanya oleh pemungut pajak bait Allah tentang hal yang berkaitan dengan Yesus.

Untuk mengetahui bagian ini kita harus mengetahui bahwa bagian ini masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membahas tentang Iman yang sejati sebagaimana berikut ini:

Matius 17:1-3 membahas bagaimana iman yang benar itu melibatkan dua hal yakni tindakan uang benar dan objek yang benar

Matius 17:14-21 Bericara tentang pertumbuhan iman dimana iman yang kecil (sebesar biji sesawi) sekalipun dapat memindahkan gunung yang dalam hal ini berbicara tentang penyeselaian masalah. dengan kata lain ini merupakan ungkapan metafora bahwa sebesar apapun masalah akan terselesaikan jika kita punya iman.

Matius 17:22-23 Merupakan penekanan Yesus kepada murid-muridNya yang belum percaya bahwa diriNya adalah Mesias yang akan disalib utk penebusan dosa manusia (dapat dilihat melalui kata "sedih").

Matius 17:24-27 adalah penegasan ulang bahwa Yesus adalah Mesias yang patut diikuti dan diimani dengan menunjukkan cara hidup yang benar.

Sebelum melangkah lebih jauh perlu diketahui bahwa Yesus dan murid-muridnya berada di Kapernaum yang merupakan kata dari bahasa Ibrani כָּפָר נַחוּם - "KAFAR"-"NAKHUM," artinya: desa dari Nahum. Kata כָּפָר - KAFAR, berarti desa/ village dan kata: נַחוּם - NAKHAM, artinya: penghiburan. Istilah ini dalam bahasa Yunani (καφαρναουμ - kapharnaoum yang terletak di pantai barat danau Galilea. 

sebuah kota pelabuhan yang menjadi operasional pelayanan Yesus (Luk. 4:16, 29-31; Mat. 4:13), kota tersebut juga termasuk rumah Petrus dan Andreas (Mark. 1:29). Matius juga sebagai Pemungut cukai mungkin tinggal di kapernaum sejak pelabuhan dan sekitarnya menjadi tempat penting untuk mengumpulkan pajak. oleh sebab itu kota ini sangat vital (penting) bagi hubungan para pedagang, wisatawan dan pemancing. 

Ketika Yesus dan murid-muridNya sampai ditempat itu seorang bea cukai atau penagih pajak bertanya kepada Petrus apakah Yesus yang adalah Guru Petrus juga membayar Pajak atau tidak. Dalam hal inilah Petrus menjawab bahwa Yesus juga membayar Pajak. Jawaban ini muncul secara spontan karena pembayaran tersebut sudah dianggap biasa.

Dalam hal ini perlu diketahui juga bahwa bait Allah Yerusalem membutuhkan biaya yang sangat besar untuk memeliharanya. setiap hari setiap pagi dan sore orang-orang Yahudi mengorbankan seekor anak domba berumur satu tahun. Di samping itu terdapat juga persembahan Anggur, tepung, dan minyak. Mereka juga harus membeli dan mempersiapkan Kemenyan setiap harinya untuk dibakar. Bahkan jubah para Imam juga selalu diganti dan harganya sejajar dengan baju seorang raja. oleh sebab itu bait Allah tersebut membutuhkan uang yang sangat banyak.

Dalam aturannya Setiap orang Yahudi yang berumur dua puluh tahun ke atas wajib membayar Pajak tahunan sebesar setengah Syikal (Kel. 30:13). setengah syikal ini sama dengan dua drakhma Yunani dan pajak tersebut biasa disebut juga Dirham.

Nilai pajak ini sekitar 8 Pence. Jumlah ini sangat besar sebab upah seorang pekerja pada zaman Yesus di Palestina dalam satu harinya adalah 3,5 Pence.  oleh sebab itu besarnya pajak adalah dua hari dari hasil pekerjaan atau upah kerja. Jika tidak membayar pajak ini maka bersiap-siap untuk disita harta bendanya oleh pengelola pajak sebab mereka punya wewenang dalam hal ini.

Setelah menjawab pertanyaan tersebut Petrus masuk rumah dan Yesus mendahuluinya dan bertanya kepada Petrus tentang hal itu Juga.

Pertanyaannya sederhana yaitu "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" (ay. 25).


Petrus menjawab, “Dari orang asing!” Jawaban ini tidak cocok dengan jawaban Petrus kepada pemungut bea. hal ini dapat diketahui bahwa Petrus menjawab dengan sembarangan dan tidak konsisten. Petrus tidak menyadari bahwa Yesus bukan orang Asing dalam bait Allah. Petrus tidak menyadari bahwa Bait Allah adalah kediaman Yesus. Hal ini terjadi karena reaksi Petrus kepada Kristus tidak tepat. sebab Jika Petrus mengakui Yesus sebagai Tuhan maka sudah pasti bahwa jawabannya kepada pemungut bea jelas bahwa Yesus tidak perlu membayar. sebab Yesua adalah Raja di atas segala raja dan Bait Allah adalah milikNya. seharusnya manusia yang membayar kepada Yesus sebagai Raja di atas segala raja.

Seberapa banyak orang Kristen yang berlaku seperti Petrus yang menganggap diri percaya dan mengikut Yesus namun pada kenyataannya sering tidak menempatkan Yesus sebagai Tuhan dan Raja atas hidupnya.

Iman Kristen haruslah iman yang diwujudkan dalam pikiran, perkataan dan tindakan yang bijaksana. sudah seharusnya Petrus menjawab dengan bijaksana dan bukan asal-asalan. Dalam situasi yang pelik seperti ini tentunya ada banyak pilihan mengenai keputusan yang diambil.

Pertama, Karena sudah berani bicara, maka harus dipertanggungjawabkan, dalam hal ini membayar bea. Tetapi hal ini dapat berdampak buruk terhadap status  Tuhan Yesus. Dia yang adalah Allah, Raja di atas segala raja masakan dibayarkan oleh anak buah.

Kedua, Mencabut omongan, katakan kalau tidak mau bayar. Hal ini akan memalukan Petrus.

Ketiga, Yesus yang bayarkan. Hal ini salah juga, karena Raja di atas segala raja seharusnya tidak perlu bayar.
kutipan kotbah Pdt. Sutjipto Subeno

Yesus adalah Allah dan Dia adalah sumber solusi dari setiap permasalahan kita. Nampak jelas dalam (ay. 27) dimana Ia tidak terjebak pada situasi yang mengharuskan untuk memilih dua pilihan saja membayar atau tidak.

Yesus menjawab Petrus: "Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

Jawaban ini dimaksudkan untuk menunjukkan siapa Yesus yang dipercayai oleh Petrus termasuk kita sekalian orang-orang percaya bahwa Ia tidak perlu membayar sebab Ia adalah Raja pemilik bait Allah dan Petrus juga tidak mendapat malu karena sudah terlanjur mengatakan bahwa Yesus membayar yang padahal tidak perlu.

Perintah tersebut mengindikasikan pembayaran tetap dilakukan namun yang membayar adalah ikan yang dipakai Tuhan. hal ini sepertinya menunjukkan bahwa Yesus tidak membawa dan memiliki uang sebesar itu. Yesus benar-benar miskin. Ya Yesus memang miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya. sebab di dalam kemiskinanNya Ia telah menyatakan anugerahNya bagi kita.

2 Korintus 8:9 (TB)  Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Lebih lagi hal ini mengajarkan secara khusus kepada Petrus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup

Penutup:
Pertama, Secara manusia kita sering mengabaikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat dan bahkan tidak benar-benar mengetahui siapa Dia dalam hidup kita sehingga segala sesuatu yang kita lakukan bukan berdasar atas kasih karunia yang Allah berikan kepada kita melainkan berdasar atas kebiasaan. Sebagaimana yang menjadi respon Petrus ketika ditanya oleh pemungut bea bait Allah. Dengan penegasan bahwa Yesus juga membayar karena itu sudah menjadi kebiasaan dan keharusan.

Hidup kita bukan sekedar kebiasaan yang tidak bermakna dan tidak ada tujuannya. Jauh dari itu hidup kita adalah hidup yang penuh penghayatan akan Anugerah Allah bagi kita.

oleh sebab itu hendaknya kita menghindari kebiasaa  yang membuat kita lupa dengan Tuhan.

Kedua, Yesus benar-benar Mesias. Dia adalah Juru Selamat kita. Dia adalah sumber dari setiap solusi dalam hidup kita. Dia adalah Maha Bjiaksana -Dia mau supaya kita yang percaya kepadaNya hidup dengan bijaksana baik dalam pikiran, perkataan dan perbiatan kita.

Di dalam kebijaksanaanNya, Yesus akan senantiasa memelihara umatNya dan memberikan solusi dari setiap masalah yang dihadapi oleh umatNya.

GBU

G. Scott Gleaves, Did Jesus Speak Greek ? - The Emerging evidence of Greek Dominan in First -  Century Palestine, (Eugene: Wipf and Stock Publishers, 2015)

John M'Clintock and James Strong, Cyclopedia of Biblical, Theological and Ecclesciastical Literatur, (New York: Harper & Brothers Publisher, 1874)

William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius Pasal 11-28, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...