Selasa, 24 Agustus 2021

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen"

Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib

Fakta kematian Yesus memiliki dasar pembuktian yang sangat kuat, baik dari data biblikal maupun extra biblikal. Namun fakta ini ditolak oleh Quran yang muncul sekitar 600 tahun kemudian setelah peristiwa penyaliban & kematian Yesus. Kesarjanaan modern dari berbagai spektrum teologis dari konservatif sampai liberal tidak ada yang menolak salah satu fakta mendasar ini, bahwa Yesus memang telah disalibkan & mati. Bahkan scholar yang dikenal liberal, agnostic & atheis seperti John Dominic Crossan, Bart Ehrman & Gerd Ludemann tidak ada yang berpendapat bukan Yesus yg disalib atau Yesus tidak mati disalib. Namun para sarjana Islam tetap bertahan melawan pendapat mayoritas scholar ini dengan tetap meyakini bahwa Yesus tidak mati sesuai apa yang dinyatakan Quran.

Muncul pertanyaan berkaitan dengan konteks sejarah dari pernyataan Quran tersebut, apakah pernyataan ini memiliki kaitan dengan data sejarah sebelumnya? Atau pernyataan yang benar-benar baru? Sebelum menganalisisnya kita lihat dulu teks Quran yang berbicara tentang hal ini serta melakukan survey terhadap berbagai pendapat para sarjana & ulama Islam dari masa ke masa.

Teks yang menjadi acuan yaitu QS An Nisaa 4:157.

"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa"

Berdasarkan teks ini muncul teori substitusi (substitution theory) yang menyatakan bahwa bukan Yesus (Isa) yang disalibkan. Namun teori ini tidak terima beberapa sarjana Islam lainnya dengan tafsiran tersendiri atas teks tersebut, mereka berpendapat Yesus memang disalibkan tetapi tidak mati atau hanya pingsan, pendapat ini dikenal dengan nama teori pingsan (swoon theory). Masih ada teori lain namun kurang begitu dikenal yaitu dual sphere/figurativ docetism theory. Kita tidak menganalisis lebih jauh teknis penafsiran atas teks itu dari pendapat-pendapat yang berbeda tersebut. Namun kita lebih menekankan pada analisis sejarah atas teori-teori tersebut. Jika kita menyimak sejarah tafsir Islam, maka terlihat jelas bahwa substitution theory & figurativ docetism theory lebih banyak dipegang para sarjana & ulama Islam awal sedangkan swoon theory lebih populer di masa belakangan.

Hasil gambar untuk jesus crucified swoon theory

Sarjana Islam awal yang diketahui memegang substution theory ini yaitu al-Kalbi (763M) dan sejarawan Islam awal Ibn Ishaq (767M) yang juga menulis biografi Muhammad yang pertama. Selanjutnya ahli tafsir Islam awal yang terkenal Al-Tabari (923M) kemudian sarjana Islam lainnya seperti Abd Al-Jabbar (1025M), Al-Baydawi (1286M), Ibn Kathir (1373M), Al-Suyuti (1505M) dll. Namun mengenai siapa "orang pengganti" tersebut terdapat banyak variasi pendapat. Ada yang menyatakan bahwa dia salah satu murid Yesus dan ada juga menyatakan dia salah satu orang Yahudi yang menangkap Yesus. Ada yang menyebutkan nama orang itu Yudas dan ada beberapa nama lainnya seperti Natyanus (al-Kalbi), Tatanus (Al-Baydawi), Serjes (Ibn Ishaq).

Namun ahli tafsir lainnya mengkritisi substitution theory dengan mengajukan dual sphere/figurative docetism theory seperti Ja'far Ibn Muhammad Al-Sadiq (750M), Al-Sijistani (971M) & Abu Al-Futuh al-Razi (1131M). Theory ini beranggapan bahwa tubuh fisik Yesus yang disalib tetapi jiwanya tidak disalib sehingga tidak ada "orang pengganti" dalam peristiwa penyaliban Yesus. Dari data sejarah tafsir Islam sejak lahirnya Islam sampai abad pertengahan, belum ada data tentang sarjana Islam yang memegang swoon theory, nanti pada abad belakangan mulai banyak sarjana Islam terutama para apologet Islam yang memegang teori ini seperti Ahmed Deedat orator Islam yang terkenal. Termasuk Irena Handono yang menuliskan buku khusus tentang hal ini.

Dari penelusuran berbagai data biblikal, non biblikal & extra biblikal pra Islam ditemukan hanya beberapa dokumen sejarah saja yang memiliki kaitan dengan substitution & figurativ docetism theory namun sama sekali tidak ada petunjuk mengenai swoon theory. Data sejarah tersebut bagian dari injil apokrif & dokumen-dokumen gnostik pada abad ke-2 s/d 5 yaitu The Second Treatise of the Great Seth & Apocalypse of Peter serta pengajaran dari Basilides & Cerinthus sebagaimana ditulis oleh Ireneus (Adv. haer). Sedangkan data awal untuk swoon theory kita bisa mengaitkannya dengan ide tentang teori pingsan yang pertama kali dimunculkan oleh Venturini pada sekitar abad ke-17.

Menurut Ireneus (Adv. haer. 1.24.4), the gnostic Basilides mengajarkan bahwa Yesus tidak menderita melainkan orang lain yang mengantikan dia disalib yaitu Simon dari Kirene “Rather a certain Simon of Cyrene was compelled to bear his cross for him … and through ignorance and error it was he who was crucified.”. Sedangkan Cerintus menurut Ireneus ((Adv. haer. 1.26.1), Cerintus memiliki pemahaman adanya perbedaan antara Yesus duniawi (the earthly Jesus) dengan Kristus sorgawi (the heavenly Christ). Sehingga yang disalib adalah Yesus duniawi tetapi Kristus sorgawai tidaklah mati “in the end Christ withdrew again from Jesus—Jesus suffered and rose again, while Christ remained impassible inasmuch as he was a spiritual being.”.

Dalam the Apocalypse of Peter (VII.81.7–25) salah satu dokumen gnostik dari Nag Hammadi Library, kita bisa membaca bahwa menurut dokumen ini Petrus melihat ada dua figur yang terlibat dalam penyaliban. Salah seorang mengalami penyiksaan dengan dipaku kaki & tangannya dan orang yang lainnya melihatnya dari atas pohon sambil tertawa melihat peristiwa itu berlangsung. “The Savior said to me, ‘The one whom you saw on the tree, happy and laughing, is the living Jesus; but the one into whose hands and feet they drive the nail is his fleshly part. It is the substitute being put to shame, the one who came to being in his likeness.’”.

Hal yang serupa juga dinyatakan dalam dokumen gnostik lainnya dalam The Second Treatise of the Great Seth (VII.51.20–52.3) “I visited a bodily dwelling. I cast out first the one who was in it, and I went in … He was an earthly man; but I, I am from above the heavens.”. Dalam dokumen ini, Yesus dianggap menolak menyatakan bahwa dia yang disalib melainkan orang lain yaitu Simon "..It was another, their father, who drank the gall and the vinegar; it was not I … It was another, Simon, who bore the cross on his shoulder” (VII.56.6–11).

Dari berbagai data ini, kita bisa melihat adanya pemahaman gnostik yang beranggapan bahwa Yesus tidak disalibkan melainkan orang lain. Pemahaman lainnya bahwa bukanlah Yesus sesungguhnya yang disalibkan melalui hanya tubuh duniawinya saja. Apakah ini mirip dengan pengajaran Quran? yah, untuk substitution theory mirip dengan orang pengganti seperti Simon berdasarkan pengajaran Basilides & The Second Treatise of the Great Seth dan untuk figurativ docetism mirip dengan pengajaran Cerintus & the Apocalypse of Peter. Mungkin karena adanya kemiripan ini sehingga Menachem Ali menyebut tentang The Second Treatise of the Great Seth dalam sebuah seminar saat membahas penyaliban Yesus. Jika kita membandingkan sejarah tafsir Islam atas persoalan ini, adanya kemiripan ini memiliki kaitan dengan pendapat para sarjana Islam awal yaitu substitution & figurativ docetism theory. Hal ini menunjukan juga bahwa swoon theory memang benar-benar pendapat baru yang tidak memiliki rujukan sejarah pada masa lahirnya Islam maupun masa pra Islam.

Namun masalah yang substansial, apakah keterangan tersebut merupakan fakta sejarah yang riil atau tidak. Pernyataan-pernyataan dari Basilides, Cerintus, the Apocalypse of Peter & The Second Treatise of the Great Seth jelas bukanlah fakta sejarah melainkan imajinasi dari para pengikut gnostik. Makanya sejak awal para bapa gereja seperti Ireneus dalam bukunya yang membahas ajaran sesat, telah membantah hal itu seperti pengajaran Basilides & Cerintus tersebut. Demikian pula dengan dokumen gnostik the Apocalypse of Peter & The Second Treatise of the Great Seth yang berisi sinkretisme antara kekristenan & gnostik. Bahkan dari antara dokumen-dokumen tersebut terdapat detail signifikan tertentu yang kontradiktif, seperti yang disalibkan orang lain vs tubuh duniawi Yesus.

Perlu diketahui bahwa munculnya injil apokrif & dokumen gnostik nanti banyak terjadi mulai abad ke-2 yaitu sejak meninggalnya generasi para rasul. Pada abad pertama, ajaran-ajaran dalam kekristenan belum banyak muncul karena masih ada para rasul yang langsung mengcounter ajaran tersebut seperti surat rasul Yohanes menanggapi ajaran docetism. Sejak meninggalnya para rasul, mulai banyak bermunculan pengajar sesat dan juga menuliskan ajaran-ajarannya tersebut yang dikategorikan sebagai injil apokrif. Salah satu motivasi penulisan injil apokrif ini yaitu ingin memasukan bahan-bahan yang tidak ada dalam injil kanonik khususnya kehidupan masa kecil Yesus. Selain itu memasukan pengajaran gnostik dipadukan secara sinkretistik dengan kekristenan seperti paham docetism.

Banyak orang yang tidak paham termasuk Menachem Ali yang mencoba mengambil beberapa bagian tertentu dari injil apokrif untuk menjustifikasi Islam. Justru pemahaman dari kalangan kekristenan gnostik ini lebih menekankan pada aspek keilahian Yesus. Namun kesesatan mereka, terletak pada pemahaman kristologi yang tidak seimbang karena mereka umumnya menolak kemanusiaan Yesus. Hal ini sudah ditanggapi oleh rasul Yohanes dalam suratnya. Makanya mereka menolak Yesus bisa mati karena dianggap Yesus hanya sepenuhnya ilahi. Sehingga sungguh ironi, jika Quran mengadopsi hal ini namun disisi lain menolak keilahian Yesus yang justru posisi Yesus begitu ditinggikan sebagai figur ilahi dalam dokumen-dokumen gnostik tersebut.

Menarik menyimak pendapat salah seorang scholar Raymond Brown dalam bukunya The death of the Messiah, Volume 1 and 2: From Gethsemane to the grave, a commentary on the Passion narratives in the four Gospels (1094). New York; London: Yale University Press. Brown menuliskan

"..Islamic apologists have pointed out that Mohammed would have had no trouble accepting the crucifixion of Jesus; therefore the fact that he did not accept it shows he got revelation on the subject from God. But we do not know how much orthodox Christianity Mohammed knew; the Arabian Christianity he was acquainted with probably came from Syria and was heterodox. It may have brought with it the gnostic substitution views described above. (Tröger, “Jesus” 217, maintains that certainly the Islamic commentators on the Koran were familiar with gnostic texts.)..". 

Menurut Brown informasi yang terdapat dalam Quran tersebut kemungkinan didapatkan dari ajaran kekristenan heretik yang ada di Arabia. Hal ini sejalan dengan beberapa pendapat scholar lainnya seperti J. Spencer Trimingham dalam bukunya Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times, London, Longman, 1979.

Dari analisis historis ini kita bisa melihat bahwa anggapan bahwa Yesus tidak mati di kayu Salib, baik pendapat yang menyatakan bukan Yesus yang disalibkan tetapi orang lain maupun pendapat Yesus memang disalib tetapi tidak mati hanya pingsan, kesemua teori ini tidaklah memiliki dasar yang kuat. Rujukan sejarah yang ada dari substitution & figuratif docetisme theory justru membuktikan adanya pengaruh injil apokrif & dokumen gnostik terhadap Quran. Dan dokumen-dokumen itu seperti kisah tentang penyaliban bukan merupakan fakta sejarah melainkan imajinasi dari pengikut gnostik yang dianggap sebagai sebuah fakta sejarah dalam Quran.

Selasa, 15 Juni 2021

Sikap hidup Kristen Terhadap Harta

 Matius 6:19-24 (Sikap terhadap harta)

Saudara-saudara, ketika kita memperhatikan kehidupan manusia di muka bumi ini kita akan melihat bahwa demi untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing setiap orang berlomba-lomba untuk mencari uang atau harta kekayaan dalam berbagai macam pekerjaan. Hal inilah yang membuat banyak orang pada akhirnya tegila-gila dengan harta duniawi yang dimilikinya.

Artinya bagi sebagian besar orang mengejar harta duniawi itu harus dan wajib karena jika tidak maka kehidupan tidak akan terpenuhi.

Nah. Jika kita menyelidikinya lagi mengapa hal seperti ini bisa terjadi ?

1. Mungkin sebagian orang menjawab bahwa itulah tuntutan dunia, dan

2.sebagian menjawab tanpa uang kita tidak bisa hidup di dunia ini. Jadi untuk hidup di dunia ini kita harus punya uang.

3.Sebagian lagi mungkin menjawab selama masih hidup kita harus mencari uang sebanyak mungkin supaya anak cucu kita nanti tidak hidup susah (atau dengan kata lain, itu adalah warisan bagi anak-anaknya).

4. Mungkin juga sebagian menjawab bahwa jika tidak memiliki uang/harta kita tidak akan bisa menikmati hidup ini.

5. Mungkin juga orang akan menjawab harta itu penting untuk nama baik atau kehormatan.

Saudara-saudara ini adalah beberapa kemungkinan yang saya sampaikan dari banyak kemungkinan yang yang lain yang tidak saya sebutkan.

Dengan adanya kemungkinan inilah akhirnya terbentuklah sebuah slogan yang terkenal yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Slogan ini mengindikasikan bahwa kita harus mempergunakan waktu kita sebaik mungkin untuk menghasilkan uang.

Maka dengan sangat gamblang bahwa harta itu menempati posisi pertama dalam hidup manusia. Hartalah yang menjadi prioritas utama dalam hidup manusia.

Nah karena harta yang menjadi prioritas utama dalam hidup manusia maka tidak heran yang disampaikan sedikit-sedikit pasti menyangkut keuangan. Benar atau tidak ? (Dijawab dalam hati masing-masing). Oleh karena itu manusia tidak lagi menjadi manusia karena manusia berpikir secara materialistik.

Dalam konteks orang Kristen biasanya hal ini dijadikan sebagai alasan untuk memenuhi kebutuhan jasmani demi untuk mendukung kegiatan rohani. Oleh karena itulah sering ada istilah berkat jasmani dan rohani (biasanya kalau makanan itu disebutkan sebagai berkat jasmani dan firman Tuhan biasanya berkat rohani). Jika kita pelajari secara seksama saudara-saudara. Sebenarnya semua berkat itu adalah berkat rohani ketika kita menerimanya dengan syukur.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.. Mari kita perhatikan lagi bahwa ada paradoks yang terlihat jelas di sini yang terkait dengan keuangan atau harta.

Di sisi lain kita percaya bahwa semua kekayaan material yang Tuhan berikan itu adalah berkat untuk kita manusia namun di sisi lain harta itu juga akan sangat membahayakan dalam hidup kita. (Akan dibahas pada poin berikutnya.

Harta adalah sesuatu yang berlimpah, yang dengan sendirinya sangat bernilai dan berharga, atau setidaknya menurut pendapat kita sangat berharga. Namun, harta itu juga dapat menghalang-halangi jalan kita menuju kehidupan kekal.

Masalah harta ini tidaklah muncul baru-baru ini, artinya sejak zaman dulu sudah terjadi banyak sekali masalah yang terkait dengan harta. Bahkan pada zaman Tuhan Yesus ini juga menjadi masalah yang sangat serius. Itu sebabnya Tuhan Yesus perlu untuk membahas hal ini dan mengingatkan kepada manusia dalam khotbahnya di bukit supaya setiap orang yang mendengarnya dapat memikirkan ulang tentang sikap hidupnya terhadap harta.

Hal ini disampaikan setelah Kristus memperingatkan orang-orang farisi dan yang mengikuti Dia agar tidak mendambakan kehormatan manusia, Ia selanjutnya memperingatkan kita agar tidak mendambakan kekayaan dunia. Dalam hal ini pula kita harus berjaga-jaga, supaya kita tidak menjadi seperti orang-orang munafik, dan berbuat seperti yang mereka perbuat. Kesalahan mereka yang mendasar adalah bahwa mereka memilih dunia sebagai upah mereka. 

Padahal Justru sebaliknya. Tuhan Yesus menegaskan supaya jangan mengumpulkan harta dunia.

SIKAP PERTAMA TERHADAP HARTA DUNIAWI

Matius 6:19 (TB) "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

Ayat ini sedikit membingungkan saya ketika membandingkannya dengan 2 Tesalonika 3:10.

2 Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

sekilas dari kedua ayat ini sepertinya bertentangan satu dengan yang lain. Sepertinya Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda dengan Paulus.

Apakah memang benar demikian ? Tentu tidak.

Kalimat "Jangan mengumpulkan harta di bumi"

Kata Yunaninya (teks aslinya) berbunyi: Μὴ (not) θησαυρίζετε (store up) ὑμῖν (for yourself) θησαυροὺς (treasures) ἐπὶ (Upon) τῆς (the) γῆς (earth)

Secara literal artinya: jangan menimbun harta di bumi untuk dirimu sendiri

Alasan yang kuat mengapa Tuhan Yesus perlu mengatakan kalimat seperti ini adalah karena ketika manusia sudah merasa diri memiliki sesuatu yang dapat diandalkan yaitu harta atau uang maka di situlah manusia merasa nyaman, memiliki dan itu menjadi yang utama sehingga manusia akan berkata "Kita tidak perlu lagi Tuhan". Saya mampu melakukan sendiri.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Ketenangan, kenyamanan diri dan rasa memiliki inilah yang sebenarnya salah satu berhala dalam diri manusia. Sebab kenyamanan ini bukan kenyamanan yang sejati. Kenyamanan ini justru akan membawa hidup kita semakin jauh dari Tuhan. Kenyamanan ini bagaikan katak yang diletakkan dalam panci berisi air yang sedang direbus. Sepertinya hangat dan nyaman untuk didiami tetapi tanpa sadar katak itu telat menyadari bahaya dari air yang perlahan-lahan bertambah panas sehingga matilah katak itu.

Demikianlah nasib orang yang prioritasnya harta dan sudah merasa nyaman dengannya tanpa sadar orang tersebut akan mati dalam kenyamanannya. Hal yang seperti ini bisa melanda siapa saja termasuk para pendeta, majelis atau pemimpin-pemimpin Gereja, termasuk juga saudara dan saya. Oleh karena itu kita perlu hati-hati.

A. Alasan tidak boleh mengumpulkan harta di bumi

Dalam hal ini kita harus tahu bahwa "cinta akan harta bisa menyebabkan kehilangan yang tragis. Semakin kita menimbun materi, semakin kita kehilangan mereka. Lebih dari itu hati kita pun lenyap bersamanya."

Mengapa bisa lenyap ? Karena di bumi ini tidak ada yang kekal. Tuhan Yesus mengatakan bahwa ngengat karat merusaknya dan pencuri membongkarnya. (Ayat.19)

Ketika kita memperhatikan kata merusak, membongkar dan mencuri, sebenarnya ini mengindikasikan bahwa harta/kekayaan adalah sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Oleh sebab itulah saya pernah mengatakan bahwa adalah hal yang sia-sia ketika kita mempertahankan dan memperjuangkan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan.

Hal yang sama juga pernah dikatakan dalam kitab Pengkhotbah 3:9-10 (TB) demikian: Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. 

Telah disebutkan bahwa semua hanya melelahkan diri orang tersebut.

Oleh karena itulah Tuhan Yesus menegaskan kepada kita semua supaya tidak membuang-buang tenaga untuk hal yang sia-sia yang justru akan merugikan diri kita sendiri.

Jangan sampai kita memiliki cara pandang yang salah dalam hidup ini sehingga kita terjerumus ke dalam kegelapan yang sangat gelap. Tuhan Yesus menegaskan kepada kita semua bahwa mata kita adalah pelita bagi tubuh kita. Ungkapan “mata adalah pelita tubuh” (ayat 22) mengajarkan bahwa seluruh aktivitas seseorang ditentukan (atau, paling tidak, dipengaruhi) oleh mata. Bagi kita yang tidak tuna netra maupun tidak terbiasa, seluruh aktivitas kita sehari-hari membutuhkan mata.

Secara metaforis, mata menyiratkan sebuah cara pandang. Ini berbicara tentang nilai dan arti hidup. Ini tentang fokus dalam kehidupan. Cara pandang mempengaruhi seluruh tindakan. Jika seseorang menganggap harta sebagai hal yang paling penting, orang tersebut tentu akan mengejarnya sekuat tenaga. Seluruh waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan pada harta. Hal-hal lain menjadi tidak terlalu berarti. Satu-satunya cara pandang yang benar adalah cara pandang yang di dasarkan atas dasar firman Allah atau Alkitab. Secara khusus hidup dan perkataan Tuhan Yesus sebagai Firman Allah yang hidup. Artinya yang harus kita pikirkan adalah bukan bagaimana kita semakin menjadi serupa dengan dunia ini dengan mengikuti semua pola atau sistem dari dunia yang sudah penuh dengan ini. Melainkan bagimana kita bisa menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Di sinilah Tuhan Yesus mau menunjukkan bagaimana seharusnya manusia hidup sebagaimana tujuan yang sejati dari diciptakannya manusia yaitu bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk memuliakan Allah. Bukan untuk kesenangan diri sendiri melainkan untuk menyenangkan hati Allah.

Dengan kata lain pernyataan atau nasehat serta pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus sesungguhnya itu adalah isi hati atau kehendak Allah sendiri kepada umat-Nya serta merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada kita.

SIKAP KEDUA: MENGUMPULKAN HARTA DI SORGA

Yesus menghendaki hal yang sebaliknya dari apa yang dipikirkan oleh manusia yaitu supaya harta itu dikumpulkan di sorga. Hal ini sebenarnya berbicara bagaimana kita seharusnya hidup senantiasa menyenangkan Allah. Tuhan Yesus mau supaya kita bergantung kepada Dia sepenuhnya. Percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang menjadi sumber dari segala keperluan kita.

Tuhan mau supaya kita memprioritaskan kerajaan Allah lebih dari segala kekayaan dunia ini. Sebab dengan demikian semua keperluan kita akan dicukupkan dengan sendirinya oleh Tuhan. Memprioritaskan kerajaan Allah berarti menjadikan Allah yaitu Yesus Kristus itu sendiri sebagai Firman Allah yang hidup sebagai satu-satunya Tuan dalam hidup kita. Serta mendedikasikan seluruh hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesus bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan seperti mamon sekaligus Allah. Untuk memahami perkataan ini kita perlu mempertimbangkan konteks perbudakan kuno. Esensi dari perbudakan adalah kepemilikan yang tunggal dan dedikasi sepenuh waktu. Tidak ada seorang budak yang menjadi milik bersama beberapa tuan. Seorang budak hanya mengabdi pada satu tuan. Pengabdian ini bersifat sepenuh waktu (24 jam sehari). Seorang budak hanya bisa bebas dari tuannya apabila ia dibeli oleh tuan yang lain. Kalaupun seorang budak dimiliki bersama oleh dua tuan, mustahil budak itu dapat menjadi budak yang baik bagi dua tuannya.

Demikian pula dengan tuntutan Allah kepada kita. Allah adalah pemilik tunggal kehidupan kita. Ia yang menciptakan kita. Ia yang menebus kita dari dosa-dosa kita. Seluruh hidup kita – tenaga, fokus, hati, dan waktu – harus ditujukan pada Allah saja. Apa yang kita pikirkan setiap hari adalah bagaimana menyenangkan hati tuan kita.

Sauadara-saudara perlu diketahui bahwa nilai hidup kita bukan ditentukan seberapa banyak harta kita di dunia ini melainkan ditentukan oleh seberapa besar dedikasi kita pada Allah.

Selasa, 11 Mei 2021

Duduk di Sebelah kanan Allah

 "Makna duduk di sebelah kanan Allah"

Mazmur 110:1
Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu."

Matius 22:41-46 (TB)  Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kata-Nya:
"Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?" Kata mereka kepada-Nya: "Anak Daud."
Kata-Nya kepada mereka: "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata:
Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.
Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?"
Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorang pun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.

Markus 16:19
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Terangkatlah Ia (Yesus) ke sorga
Mark 16:19 (ASV)
So then the Lord Jesus, after he had spoken unto them, was received up into heaven, and sat down at the right hand of God.

Mark 16:19 (KJV)
So then after the Lord had spoken unto them, he was received up into heaven, and sat on the right hand of God.

ΜΑΡΚΟΝ 16:19 (TR1894)
ο μεν ουν κυριος μετα το λαλησαι αυτοις ανεληφθη εις τον ουρανον και εκαθισεν εκ δεξιων του θεου

ἀνελήμφθη        εἰς       τὸν     οὐρανὸν
Was taken up     into      the       heaven

Dalam Vine's Dictionary

ἀναλαμβάνω
(Strong's #353 — Verb — analambano — an-al-am-ban'-o )

"to take up" (ana), "to take to oneself, receive," is rendered "to receive" in Mark 16:19; Acts 1:2,11,22 , RV, "He was received up" (AV, "taken"); Mark 10:16; 1 Timothy 3:16

Jadi ayat ini jelas menyampaikan bahwa Yesus benar benar terangkat dan diterima dengan membawa dirinya sendiri dalam kerajaan sorga.

Kemana kah Yesus  membawa diri-Nya sendiri ?
Jawabannya jelas ke dalam surga (into heaven).
Bagaimana mungkin Yesus ke surga dengan sendiri-Nya ??

Dalam hal ini kita perlu tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah yaitu Firman Allah dan Firman itu bersama sama dengan Allah (Yohanes 1:1)

Tentang hal ini sebenarnya jelas bahwa dalam kitab suci pasal pertama dan ayat pertama menunjukkan keberadaan Firman itu sebagai Pencipta yaitu Allah sendiri yang tentunya ada dalam kerajaan Sorga sebagai Raja segala raja.

Dalam targum juga tertulis demikian

בראשׁית בְּחוּכְמָא בְּרָא יְיָ:
In wisdom (be-hukema) the Lord created.

https://www.sefaria.org/Targum_Jerusalem,_Genesis 1:1

Sebagaimana yang dijelaskan oleh rasul Yohanes bahwa Firman itu menjadi manusia. Firman itu keluar dari Allah tanpa meninggalkan Allah (Yohanes 8:42)

Jadi Firman yang bersama-sama atau di dalam Allah itu telah berinkarnasi menjadi manusia tanpa kehilangan keallahan-Nya.
Hal ini dilakukan dengan maksud:

1. Allah ingin menyatakan siapa sejatiNya Allah itu kepada manusia. (Melalui Kasih Allah yang besar). Lebih dari itu ingin menunjukkan bagaimana seharusnya manusia hidup di hadapan Allah.

Contoh kecil yang dapat kita pelajari adalah melalui Pencobaan di Padang Gurun. Di situ Yesus sedang menunjukkan bagaimana hidup yang seharusnya dijalani oleh manusia dalam menyikapi setiap masalah.
Yesus sedang menunjukkan perbedaan kehidupan Adam yang pertama dan Adam yang terakhir.
Ia mau supaya hidup kita tidak seperti Adam pertama yang gagal oleh karena nafsunya. Namun seperti Adam yang terakhir yang tetap berpusat pada firman Allah.
2. Allah ingin menunjukkan bahwa Dia setia dalam Perjanjian-Nya.
Kasih setia Allah melalui perjanjian-Nya dari Kejadian 3:15, dan di sampaikan kepada Abraham kemudian melalui para nabi telah digenapi dalam diri Yesus Kristus
3. Allah ingin menunjukkan bagaimana manusia seharusnya hidup. (Hidup seperti Yesus sebagai manusia sejati yang tidak berbuat dosa).
4. Untuk menyelesaikan masalah terbesar manusia (dosa)
5. Untuk memberi kemenangan bagi manusia yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat.

Kemenangan itu nyata dalam kebangkitan-Nya dari antara orang mati kemudian di konfirmasi dengan kenaikan-Nya ke sorga  dalam frasa duduk di sebelah kanan Allah.

Ungkapan “Duduk di sebelah kanan” adalah suatu ungkapan alegoris.

Jangan diartikan secara harafiah..

Kata tersebut juga tidak menunjukkan bahwa Allah itu lebih dari satu dan Yesus bukan Allah.

Jangan kita memahami tentang Allah dengan logika matematika. Ketika berbicara tentang Allah hal ini sudah mencakup ranah supranatural dan harus dipahami dengan logika metafisika.

Kata “kanan” sering digunakan oleh orang-orang Yahudi sebagai simbol kekuatan, kekuasaan dan kemuliaan (Mazmur 118:16; Keluaran 15:12;Keluaran 15:12)

Ungkapan “disebelah kanan” (kenapa tidak disebelah kiri, belakang atau depan) adalah : “Diam dalam Kerajaan Sorga” (bahasa Tradisi Yahudi, mengkiaskan sisi kanan adalah kebaikan atau kemuliaan -Ulangan 33:2

Kata “Duduk” menyatakan “pemeritahan, kedudukan dan posisi, penghormatan.

Maka “Duduk di sebelah kanan Allah” dalam ayat-ayat diatas adalah lambang dari kekuasaan, kekuatan/kemenangan, penghormatan, kedudukan Yesus Sang Mesias sebagai pemegang otoritas keAllahan sejati.

Gelar yang menurut harapan mesianik Yahudi akan diterapkan bagi Raja Mesias ini juga berhubungan erat dengan ungkapan “duduk di sebelah kanan Allah”. Mengapa demikian ? Ungkapan simbolik ini muncul dalam kaitan dengan pola bangunan Bait Suci (Ibrani:בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ‎ – BEIT-HAMIQ’DASH) di mana istana raja-raja keturunan Raja Daud berada di sebelah selatan ruang Mahakudus (devir) Bait Allah yang menghadap ke timur. Ini berarti istana Daud berada “di sebelah kanan” ruang mahakudus yang melambangkan kehadiran Allah.

Oleh sebab itulah Yesus Kristus dalam kemenangan-Nya atas maut telah menyelesaikan tugas-Nya di dunia dan pergi kembali ke sorga sebagai Raja yang berkuasa tidak hanya di sorga tetapi juga di bumi (Matius 28:18).

Jadi Jelas mengapa Yesus harus ke sorga ? Jawabannya adalah karena dari sana lah Dia berasal.

Yohanes 16:28 (TB) Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa."

Dan di sorga lah Dia sedang menyediakan tempat bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya supaya kita juga mendapat sukacita dan bahagia bersama dengan Dia. Asalkan kita percaya.

Yohanes 14:1-3 (TB) "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Dalam hal ini kita juga tidak perlu gelisah sebab Roh penghibur telah diberikan kepada setiap kita yang percaya kepada-Nya. Dan Roh itulah yang akan mengajar, membimbing, mengindahkan kita dalam kehidupan yang kita jalani ini sehingga kita semakin hari semakin serupa dengan Kristus dan hidup seperti halnya Kristus.

Jika kita berada dalam Yesus Kristus yang adalah Firman Allah maka kita akan hidup tetapi jika kita di luar Yesus Kristus maka kita akan mati.

GBU..

Sabtu, 01 Mei 2021

Hanya Allah Satu-satunya Hakim bagi manusia

 Yakobus 4:11-12

Terkadang tanpa disadari manusia sering terjebak dalam tindakan yang salah dengan menghakimi sesamanya tanpa melihat kepada Firman Allah. Dengan mudah memfitnah atau menyalahkan orang lain karena aturan-aturan yang dibuat sendiri yang pada dasarnya bukan sesuatu hal yang esensi kemudian hal itu dipaksakan supaya dilakukan dan ketika tidak dilakukan maka dengan semena-mena menghardik atau memarahinya serta menyalahkannya.

Tanpa disadari, sebenarnya tindakan seperti ini merupakan tindakan yang salah dan pemaksaan terhadap hati nurani orang lain.

Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! (ay. 11).

Kata Yunani, katalaleite, berarti berbicara apa saja yang dapat menyakiti atau melukai orang lain. Kita tidak boleh membicarakan yang buruk-buruk, meskipun itu benar, kecuali kita dipanggil untuk itu, dan ada kepentingan untuk itu. Terlebih lagi kita tidak boleh menceritakan hal-hal buruk apabila itu salah, atau sepanjang pengetahuan kita mungkin salah. Bibir kita harus dibimbing oleh hukum kebaikan,

Jangan kita salah mengerti dengan pernyataan Yakobus dalam suratnya.

Dasar Yakobus di sini adalah bahwa orang-orang Kristen tidak boleh menjelek-jelekkan saudaranya, apalagi hal ini dilakukan di depan umum. Jangan kita merasa diri benar dari yang lain. Jangan kita menghakimi sesama kita secara berlebihan.

Orang yang menganggap diri selalu benar dari yang lain adalah orang yang belum mengerti firman Tuhan serta belum mengalami firman Tuhan meskipun firman Tuhan dibaca setiap hari.

Orang yang berpegang pada prinsip sendiri adalah orang yang jauh dari firman Allah. Prinsip manusia semuanya harus diarahkan dan disesuaikan dengan firman Allah.

Janganlah menjadi kesukaan kita untuk menyebarkan kesalahan-kesalahan orang lain, membocorkan hal-hal yang rahasia, hanya untuk menyingkapkannya di depan umum. Juga, jangan suka melebih-lebihkan kesalahan mereka yang sudah diketahui, melebihi apa yang sepantasnya diterima mereka.

Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya. Hukum Musa mengatakan, janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu (Im. 19:16). Hukum Kristus mengatakan, jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi (Mat. 7:1).

Rasul Yakobus dengan tegas disini sedang mencela orang-orang yang dengan sesuka hatinya sendiri suka mencela sesamanya dan menyalahkan sesamanya jika yang dilakukan tidak sesuai dengan kehendaknya. Padahal hal itu tidak menjadi masalah. Orang yang demikianlah sebenarnya yang mencela hukum Allah.

"Orang yang bertengkar dengan saudaranya dan mengecamnya karena apa saja yang tidak ditentukan dalam firman Allah, berarti merendahkan firman Allah, seolah-olah firman Allah bukan peraturan yang sempurna."

Jangan mencoba-coba untuk menegakkan aturan dan prinsip sendiri. Tindakan ini merupakan bentuk perendahan hukum-hukum Allah.

Terakhir.

Perlu diingat bahwa. Yakobus tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak boleh sama sekali menghakimi sesama - yang dimaksudkan adalah jangan sekali-kali menekankan prinsip kita kepada orang lain dan menyalahkan orang lain jika tidak sesuai dengan prinsip kita, padahal prinsip itu tidak sesuai dengan hukum Allah.

Orang yang suka menegakkan prinsip sendiri sebagai aturan hidupnya dan orang lain adalah orang yang melawan hukum Allah.

Oleh karenanya jika menghakimi - hakimilah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Perlu diingat juga bahwa jangan sekali-kali menghakimi orang dengan mengatasnamakan firman Tuhan jika kita tidak benar-benar mengerti firman Tuhan dan jika kita tidak pernah menggali serta mengeksegese dan mengekspose firman Tuhan dengan baik.

GBU..


Rabu, 28 April 2021

Who are You ??

 IDENTITAS DIRI ORANG KRISTEN

Pribadi Paulus

1. Paulus Seorang Hamba Kristus Yesus
2. Paulus Seorang Rasul Kristus
3. Paulus milik Yesus yang disucikan

1. Paulus sebagai Hamba Kristus Yesus

Dalam pengenalannya terhadap orang-orang Kristen yang ada di Roma, Paulus sedang memberikan suatu pernyataan yang isinya tentang dirinya sendiri dan bagaimana dirinya menjadi seorang pelayan Injil.

Seperti pada umumnya dalam budaya Yunani-Romawi menulis surat, Paulus memperkenalkan dirinya secara khusus tentang statusnya ketika menulis surat tersebut. Dengan Jelas disebutkan bahwa Paulus seorang hamba Kristus Yesus. Meskipun sepertinya dalam menulis surat Roma ini ditemani oleh rekan sekerjanya (Timotius) Roma 16:21, Dengan semgaja Paulus ingin memperkenalkan dirinya secara pribadi kepada orang-orang yang ada di Roma. Adapun tujuannya tidak lain adalah untuk meyakinkan para pembacanya tentang identitasnya dan bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya.

Dengan tegas dalam kesempatan ini Paulus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Kristus Yesus (δούλος Χριστοῦ  ᾿Ιησοῦ), doulos christou Iēsou). Dalam hal ini terdapat dua hal penting yang perlu dibahas terlebih dahulu yakni Hamba dan Kristus Yesus.

Kata hamba yang digunakan oleh Paulus adalah doulos yang berarti "hamba." Meskipun terlihat aneh bagi orang Yunani namun bagi orang Yahudi kata tersebut tidak aneh.

https://bible.org/seriespage/1-study-and-exposition-romans-11-7

Beberapa komentator berpendapat bahwa karena perbedaan besar antara perbudakan Yahudi seperti yang dipraktikkan di zaman Perjanjian Lama dan perbudakan Roma abad pertama, Paulus hanya memikirkan konsep Yahudi ketika berbicara tentang hubungannya dengan Kristus.

Kata yang sama yang digunakan oleh Paulus adalah ebed yang merujuk pada hubungan tuan dan hamba. Adapun maksud Penulis tersebut digunakan dalam hubungannya antara umat Tuhan dengan Tuhan. Lebih dari itu kata tersebut merujuk pada tokoh-tokoh dalam perjanjian lama seperti; Musa (Yos. 1:1; 14:7), Daud (Mzm. 89:3; 2 Sam. 7:5, 8), Elia (2 Raj. 10:10).

Dalam hal ini dapat diketahui bahwa:
Paulus sedang menunjukkan dirinya sebagai salah seorang yang Kudus dari tokoh-tokoh yang Kudus dalam perjanjian lama,
Paulus mengucap syukur atas keberadaannya sebagai hamba Kristus Yesus.
Meskipun demikian, tidak cukup hanya di situ. Tujuan utamanya sebenarnya bukan untuk menyombongkan diri sebagai salah seorang yang Kudus, melainkan  untuk menunjukkan sebuah komitmen untuk melayani Yesus.
Galatia 2:20 "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Dalam pengertian lain istilah hamba Kristus Yesus dapat dimengerti sebagai budak atau hamba firman Allah, Kebijaksanaan, kebenaran, kebajikan yang identik pada diri Yesus Kristus.

{Origen, The Fathers of the Church, Commentary On teh Epistle to The Romans, Books 1-5, Translated by Thomas P. Scheck, (Washington, D.C: The Catholic University of America Press), hlm.62}

Artinya bahwa Paulus tidak melayani daging, kesombongan atau keserakahan, iri hati dan sebagainya. Hal ini terjadi karena ia memandang Yesus sebagai TUHAN.
Pernyataan ini ditegaskan juga dalam ayat lain bahwa orang yang masih memikirkan dirinya sendiri adalah seteru salib Kristus.

Filipi 3:18-19 (TB)  Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.

Noted:
Bukan hanya Paulus, melainkan juga setiap orang percaya adalah hamba Kristus yang sudah seharusnya memiliki komitmen untuk melayani Yesus Kristus yang artinya menjadi hamba Firman Allah, kebijaksanaan dan kebenaran. Itulah identitas diri kita sebagai orang percaya yang sudah diselamatkan dalam Yesus Kristus.

2. Paulus sebagai Rasul

Pengenalan selanjutnya tidak bisa dipisahkan dari pengenalan yang pertama yaitu sebagai hamba Kristus Yesus (δούλος Χριστοῦ  ᾿Ιησοῦ), doulos christou Iēsou). Artinya dengan mengawali dirinya sebagai hamba untuk mempertegas bahwa kerasulannya bukan secara kebetulan, bukan juga dari keinginannya sendiri dan bukan juga oleh karena orang lain (teman, sahabat, orang tua dan orang-orang terdekatnya). Kerasulan Paulus adalah dari TUHAN sendiri.

Kisah Para Rasul 9:1-6, 10, 15-16 (TB) Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,
dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.
Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"
Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.
Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!"
Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.
Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."

Dari pernyataan tersebut kita tahu bahwa Paulus dengan berani dan tegas mengatakan kerasulan nya adalah dari sang Tuan yang dia layani sekarang. Sang Tuan, yaitu Yesus Kristus lah yang mengutus Paulus menjadi Rasulnya. Hal ini dapat terlihat jelas ketika memperhatikan apa yang dimaksud dengan kata Rasul yang ditulis oleh Paulus. Kata yang ditulis adalah ἀπόστολος (apostle) yaitu rasul dan Kata ini adalah kata yang digunakan Tuhan Yesus untuk menggambarkan hubungan-Nya dengan Allah,

Ibrani 3:1 (TB)  Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus,

Yohanes 17:3 (TB)  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Paulus yang adalah seorang hamba dari Yesus Kristus telah dipercayakan untuk menyampaikan kebenaran dari Sang Tuan itu sendiri. Oleh karenanya otoritasnya bukan pada diri Paulus melainkan dari Dan Tuan, Yesus Kristus. Jadi dengan menjelaskan dirinya sebagai hamba Kristus dan kemudian melanjutkannya dengan menjadi rasul-Nya kita mendapati ada dua hal Penting yaitu;

Paulus adalah orang yang rendah hati. Dengan kata lain, segala hal yang dilakukan dan disampaikan itu bukan bersumber dari dirinya sendiri melainkan dari sang Tuan, Yesus Kristus.
Adanya kepatuhan yang total dari Paulus. Kepatuhan terwujud dari dirinya yang mau diutus oleh Tuhan dengan tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun. Kisah Para Rasul 20:24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Noted:
Setiap kita yang percaya adalah hamba Kristus yang juga sekaligus rasul (utusan) Kristus yang juga diutus oleh Kristus untuk menyampaikan Firman Kebenaran-Nya bagi dunia yang penuh dengan dosa ini. Dengan memahami hal ini sudah semestinya kehidupan kita sebagai hamba-hamba Kristus 1) memelihara sikap yang rendah hati. Dalam pengertian lain tidak menganggap diri lebih hebat dan benar dari yang lain serta tidak mudah menyalahkan orang lain dengan hanya melihat satu atau dua kesalahan yang dilakukan. Sebab kita adalah sama-sama orang berdosa yang dipakai oleh Allah untuk menjadi alat/instrumen bagi kemuliaan-Nya.
Kalaupun kita bisa melakukan banyak hal itu karena Tuhan yang telah memampukan kita. Kemudian selain memelihara sikap yang rendah hati ada lagi yang disebut sebagai 2) kepatuhan total. Maksudnya lakukanlah semua yang kehendaki Allah bagi diri kita. Sebab kita adalah hamba segaligus utusan-Nya. Dalam mengutus tentunya Sang Tuan tidak akan membiarkan kita begitu saja, Dia juga akan memperlengkapi kita dengan berbagai karunia yang ada. Lebih lagi jaminan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan damai sejahtera telah dan pasti disediakan bagi setiap kita yang patuh secara total.

3. Paulus menjadi milik Allah yang disucikan

Jaminan keselamatan, hidup yang penuh kebahagiaan, damai sejahtera merupakan suatu kepastian bagi orang yang percaya kepada Kristus. Hal ini benar karena kita adalah milik Allah dalam Yesus Kristus. Sebagai milik Allah kita dipisahkan dari kehidupan dunia yang penuh dengan kejahatan. Dalam mengutus hamba-Nya, Allah tidak sekedar mengutus begitu saja. Paulus tidak hanya sekedar seorang hamba dan rasul biasa melainkan hamba dan rasul yang dikuduskan oleh Kristus.

Dalam hal ini Paulus tidak menggunakan kata "hagios" melainkan Kata ἀφωρισμένος (having been set apart) yang berarti telah dipisahkan. Maksudnya Paulus ingin menjelaskan kepada pembaca termasuk kita semua yang percaya bahwa Paulus memang sudah ditentukan sejak awal oleh Allah untuk dipisahkan atau dikhususkan melayani Dia sebagai seorang yang menyampaikan dan memberi teladan kebenaran bagi kemuliaan-Nya.

Galatia 1:15 (TB)  Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 

Jadi jelas bahwa kerasulan Paulus merupakan kasih karunia dari Allah semata dan itu sudah ditentukan sejak dalam kandungan.

Pemisahan harus terjadi supaya setiap orang tahu siapa Allah melalui utusan-Nya yang telah dipisahkan dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Artinya bukan persoalan yang gampang untuk menjadi utusan karena Allah mau setiap utusan Allah harus menjadi cermmin bagi orang lain untuk melihat kemuliaan Allah. Sebagai cermin ada hal-hal yang harus diperhatikan;

Agar orang dapat bercermin dengan baik dan jelas maka cermin itu haruslah bersih. Sebab jika tidak bersih maka pandangan orang tersebut terhadap dirinya pasti kabur.
Sebagai cermin harus dapat menunjukkan siapa diri orang yang bercermin itu. Hal ini bisa terjadi jika bagian yang pertama sudah terjadi.
Tujuannya supaya yang bercermin dapat mengoreksi dengan baik apa yang masih kurang dan harus diperbaharui dalam dirinya.

Kebersihan cermin yang merupakan gambaran tentang diri kita sebagai orang percaya itu terlihat apakah kita sudah menghidupi Injil itu atau belum. Sudahkah Injil itu benar-benar kita alami dalam hidup kita atau belum ?

Jika Injil itu belum ada dalam diri kita dan belum kita alami maka sudah pasti bahwa orang lain tidak akan pernah bisa melihat kemuliaan Allah melalui hidup kita.

Noted;
Pemisahan dimaksudkan 1) untuk membuat adanya perbedaan antara Injil Yesus Kristus dengan injil-injil palsu yang diajarkan oleh dunia ini, kemudian 2) untuk membuat orang lain bersikap rendah hati dan menyadari akan keberadaannya yang penuh dengan dosa dan membawa mereka untuk membersihkan setiap kotoran (dosa) yang ada dalam diri mereka melalui Iman kepada Yesus Kristus.

Kesimpulan;

Setiap orang percaya adalah hamba Kristus Yesus yang dikuduskan atau dipisahkan secara khusus oleh Allah untuk menjadi utusan atau duta besar atau kepercayaan Allah sebagai cermin hidup bagi banyak orang sehingga melalui hidup kita, orang lain dapat melihat kemuliaan Allah.

Namun demikian orang lain tidak akan melihat kemuliaan Allah jika kita belum mengalami Injil dalam hidup kita yang diwujudkan dalam hidup yang rendah hati dan patuh secara total terhadap kehendak Allah.

Jumat, 25 Desember 2020

Dan Engkau akan menamakan Dia Yesus

MAKSUD PEMBERIAN NAMA


Setiap orang tua memberikan nama kepada anak-anaknya dengan maksud dan tujuan tertentu. Tentunya maksud ini adalah maksud yang baik yaitu supaya dengan nama tersebut seorang anak yang menyandang nama itu hidup sesuai dengan namanya.

Misalnya saja seperti orang Jawa memberi nama anaknya SUGIARTO dengan harapan bahwa anaknya kelak menjadi orang yang sukses, kaya dan memiliki banyak harta sehingga dapat hidup dengan bahagia. Ada juga yang diberi nama SUGENG dengan harapan selalu terhindar dari malapetaka dan selalu diselamatkan dari hal-hal yang buruk.

Meskipun demikian ada juga beberapa orang tua yang tidak tahu arti nama dari anak-anaknya. Walaupun demikian sebagian besar sudah memikirkannya sejak anaknya masih dalam kandungan.

Demikian juga dalam Alkitab. Para bapak leluhur kita memberikan nama kepada anak-anaknya dengan harapan yang Indah dan masing-masing memiliki nama dan biasanya nama itu diberikan sesuai dengan pengalaman yang dialami selama proses mengandung sampai melahirkan.

OTORITAS PEMBERIAN NAMA

Setiap nama pasti diberikan oleh orang tua masing-masing anak. Tidak mungkin ketika lahir anak itu request nama dan menamai dirinya sendiri.

Tetapi ada juga nama-nama secara khusus dalam Alkitab yang bukan dari orang tuanya dan bukan juga dari orang lain. Melainkan langsung dari Tuhan.

Seperti halnya Adam, Abraham, Sara, Ismael, Ishak, Israel (Yakub), Yohanes (Lukas 1:13) dan Yesus.

ALASAN MEMBERI NAMA YESUSNama Yesus tidak diberikan oleh Allah secara asal-asalan. Nama Yesus juga bukanlah nama yang baru bagi masyarakat yang ada pada waktu itu.

Jika memang bukan nama yang baru kenapa nama tersebut yang diberikan dan kenapa tidak diberi nama yang baru ?

Inilah keunikan yang harus kita pelajari bersama terkait dengan nama Yesus. Pada Zaman Tuhan Yesus nama Yesus tidak asing lagi. Maksudnya bahwa nama tersebut sudah muncul sejak 2000 th yang lalu yakni ketika bangsa Israel berada di Padang gurun menuju ke tanah Kanaan. Nama Yesus adalah nama yang sama dengan nama Yosua Bin Nun yang berarti TUHAN  PENYELAMAT.

Yosua yang sebelumnya memiliki nama Hosea diubah oleh Musa menjadi Yosua dengan maksud yang indah. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi karena Tuhan merancang kan hal-hal yang besar yang akan terjadi pada Yosua. Dan ternyata benar bahwa Yosua sepanjang hidupnya menjadi pemimpin yang sangat berpengaruh bagi bangsa Israel setelah Musa. Yosualah yang memimpin bangsa Israel untuk menduduki tanah Kanaan.

Nama Yosua juga sangat berkaitan dengan nama yang diberikan untuk anak Maria yaitu Yesus.

Nama "Yesus" berasal dari bahasa Ibrani Yesus (Ibrani: יְהוֹשׁוּעַ - YEHOSHUA, artinya "YHVH menyelamatkan"); atau ישוע - YESYUA', yõd-syïn-vâv-'ayin transliterasi lain menyederhanakannya dengan aksara יֵשׁוּעַ - YESHUA' saja (Ibrani-Aramaik, ibarat Alexander menjadi Alex). Nama ini yakni menunjuk kepada Kristus sebagai Juruselamat (Ibrani: מֹושִֽׁיעַ - MOSHIA).

Alkitab berkata, Juru Selamat adalah YHVH sendiri :

Yesaya 43:11

LAI TB, Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.

KJV, I, even I, am the LORD; and beside me there is no saviour.

Hebrew,

אָנֹכִי אָנֹכִי יְהוָה וְאֵין מִבַּלְעָדַי מֹושִֽׁיעַ׃

Translit interlinear, 'ANOKHI {Aku} 'ANOKHI {Akulah} YEHOVAH (dibaca: 'Adonay, TUHAN) VE'EIN {dan tidak ada} MIBAL'ADAI {selain daripada-Ku} MOSHI'A' {Juru-selamat, noun common masculine singular absolute }

Janji Allah sebagai Juru Selamat digenapi dengan lahirnya Sang Juru Selamat, yaitu Yesus Kristus.

Dalam Yesaya 43:11 Alkitab berkata, Juruselamat (Ibrani: מֹושִֽׁיעַ - MOSHIA) adalah YHVH sendiri. Dalam penggenapan-Nya, yaitu kelahiran-Nya ke Bumi, Malaikat Gabriel menyebut יהוה - YHVH, Allah yang inkarnasi ini dengan gelar: Juruselamat ( מֹושִֽׁיעַ - MOSHI'A'):

Matius 1:21

LAI TB, Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Lukas 2:11

LAI TB, Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud

KJV, For unto you is born this day in the city of David a Saviour, which is Christ the Lord.

Apa yang dilakukan oleh Yosua sebenarnya itu menggambarkan bagaimana Yesus yang juga menjadi pemimpin bagi manusia yang bukan hanya bangsa Israel melainkan semua manusia yang mau datang dan percaya serta mengandalkanNya.

Nama Yesus ini memang banyak. Namun gelar dari nama Yesus anak Maria inilah yang membedakannya dari Yesus yang lain. Alkitab menyebutkan bahwa Yesus adalah Kristus yang juga disebut sebagai Immanuel. Hal ini berarti diriNya akan memimpin dan menyertai orang yang mengikutinya sampai selama-lamanya.

Yosua memang memimpin tapi hanya bangsa Israel dan kepemimpinannya dapat berakhir. Berbeda dengan Yesus yang tidak pernah berakhir..

Nama Yesus anak Maria merupakan nama diri yang memang sudah dinubuatkan jauh-jauh hari sebelumnya. Yaitu nubuat tentang Juru Selamat yang akan menyelamatkan manusia yang sudah berdosa dihadapan Allah. Juru Selamat ini sudah dijanjikan sejak dalam kejadian 3:15 kemudian diulang-ulang oleh para nabi-nabi yang terdahulu dalam sebuah perjanjian maupun nubuatan. Kemudian digenapi 2000 tahun yang lalu yaitu melalui kelahiran yang ajaib bunda Maria.

YESUS ADALAH BENAR-BENAR MANUSIA

KelahiranNya memang sungguh-sungguh ajaib dan sangat nyata. Dituliskan bahwa Yesus lahir di Betlehem yaitu di kota Daud. Kelahiran ini merupakan bukti nyata bahwa Yesus adalah manusia.

Bukti bahwa Yesus adalah manusia Dia dapat merasakan lelah, haus, kemudian makan seperti manusia pada umumnya dan mati.

YESUS BENAR-BENAR ALLAH

Kelahiran Yesus merupakan kelahiran yang tidak lazim sebab dilahirkan melalui seorang perawan dan berbeda dengan kelahiran yang lainnya. Yesus dilahirkan dan bahkan di sebut Kudus Anak Allah.

Apakah Yesus itu Allah ? Ya, Yesus adalah Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:1-3, 14). Dia adalah Allah yang kemudian merendahkan diriNya dengan mengambil rupa seorang hamba yang setia sampai mati (Filipi 2:8-9). Kematian-Nya dimaksudkan untuk melunasi semua hutang dosa manusia, hal ini dapat dimengerti melalui perkataanNya di kayu salib yang secara singkat berbunyi TELESTAI  yang berarti lunas dibayar.

Semua hutang dosa yang tidak bisa dibayar oleh manusia telah lunas dibayar oleh Yesus Kristus melalui kematianNya yang berdarah di kayu salib. namun kematian-Nya disambut dengan kebangkitanNya pada hari yang ke-3. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya sekedar nama diri melainkan menunjuk pada Pribadi Yesus yang adalah YHWH yang menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup.

Jika keselamatan dari YHWH maka jelas satu-satunya Jalan adalah Yesus. Sebab Yesus adalah YHWH

Hanya Yesus yang bangkit dari kematianlah yang dapat melepaskan manusia dari kuasa maut.

Hanya Yesus yang tidak berdosalah dapat menebus dosa manusia.

Hanya Yesus tetap Hiduplah yang dapat memberi hidup kekal bagi manusia.

Dan di dalam Yesuslah  keselamatan itu nyata, dan sempurna. Sebab:

Kisah Para Rasul 4:12 (TB)....Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

GBU All..

Senin, 14 Desember 2020

HOLY LIFE

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?


Sebagai pemuda pemudi kita sangat akrap sekali dengan apa yang disebut "PACARAN". Meskipun tidak semua tahu apa itu pacaran banyak sekali kaum muda menyebutkannya untuk menyindir teman-temannya yang mulai suka satu sama lain dan bahkan dengan ketidakpahaman ini banyak sekali yang mengaplikasikan pacaran ini secara salah yaitu dengan meluapkan nafsu birahi semata.

menurut beberapa data yang ada kata pacaran itu berasal dari tanah Melayu, yaitu berasal dari tradisi masyarakat Melayu pada zaman dulu. Pacaran berasal dari tradisi pacar air, yaitu semacam tanaman pacar yang diberikan pada kuku dan tangan perempuan, warnanya merah bata. Jadi, tradisi Melayu ini berawal dari dua orang yang sedang jatuh cinta dan diketahui oleh keluarganya. Tradisi pantun pada masyarakat Melayu sangat kental, dalam tatadisi ini, sang laki-laki mengirimkan utusan kerumah perempuan dan membacakan sebuah pantun didepan rumahnya. Apabila sang pemilik rumah membalas pantun, maka dengan kata lain, cinta si laki-laki ini diterima.

     Nah, ketika sang perempuan menerima cinta laki-lakinya, maka akan dilanjutkan dengan pemberian pacar air ditangan keduanya. Tanda itu menandakan sebuah ikatan antara dua keluarga. Pacar air itu, biasanya bertahan di tangan sang perempuan selama 3 bulan. Inilah sebetulnya nilai dari tradisi itu. Meski sudah memiliki ikatan, tapi ketika 3 bulan laki-laki tersebut tidak kunjung meminang sang gadis, maka dengan kata lain ikatan itu akan hilang, dan sang perempuan boleh menerima pinangan dari laki-laki lain. Inilah asal muasal dari istilah pacaran.

      Jangan pernah dibayangkan masa 3 bulan itu seperti masa pacaran zaman modern ini, masyarakat Melayu terkenal dengan menjaga kehormatan keluarganya. Jadi selama 3 bulan itu, para laki-laki dan gadis tidak bisa berhubungan dengan bebes. Saat ini, pacaran sudah sangat bergeser maknanya, pacaran diibaratkan sebagai ekspresi perasaan suka antara laki-laki dan perempuan, diawali dengan kata “nembak” dan dilanjutkan dengan ikrar “jadian”, setelah itu mereka “resmi” menjadi sepasang kekasih. Anehnya, masyarakt sekitar sangat familiar dengna kejadian ini. Justru kalau tidak pacaran akan membuat harga diri turun, bahkan ketika pacaran pun banyak sekali hal-hal negatif seperti seks bebas dan tindakan-tindakan yang yidak pantas..

Sebagai orang Kristen secara khusus bagi pemuda pemudi yang akrap sekali dengan kata pacar, bagaimana dengan hidup kita ? apakah kita juga pernah melakukan hal2 yang demikian ?? bagaimana kita menjawab pertanyaan firman Tuhan ini dengan Jujur ??

Mazmur 119:9-11 (TB)

9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?

Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. 

10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. 

11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. 

maksudnya adalah benarkah kita benar-benar menjaga kelakuan kita sesuai dengan firman Tuhan ? benarkah kita mencari Tuhan dengan segenap hati kita ? benarkah yang kita simpan adalah firman Tuhan atau jangan-jangan yang lainnya.

menjaga kelakuan bersih bukanlah hal yang mudah. banyak sekali tantangan yang harus dilewati. namun jika kita melewati dengan kekuatan kita sendiri kita tidak akan oernah mampu. Hanya dengan meminta pertolongan dan kekuatan Tuhanlah kita bisa menjaga kelakuan kita agar tetap bersih, suci dihadapan Tuhan.. yang perlu diingat adalah bahwa "APA YANG SEPERTINYA BAIK YANG DILIHAT OLEH MATA KITA BELUM TENTU BAIK MENURUT TUHAN"

1 Samuel 16:7 (TB)  Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Oleh karenanya, sebagai kaum muda mari kita jaga hati kita dengan baik. menjaga hati adalah hal yang paling utama dalam hidup kita. terutama ketika sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis. ingat !! bahwa pacaran merupakan suatu hubungan yang merujuk kepada sesuatu yang sangat serius yaitu pernikahan. Oleh karenanya jangan sampai mengotori tubuh ini dengan tindakan yang bercela dihadapan Tuhan sebelum masuk dalam jenjang pernikahan. MENJAGA HATI SANGAT PERLU. Sebab jika hati kita dijaga dengan baik maka dari situ akan terpancar kehidupan.

Amsal 4:23 (TB)  Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

kehidupan ini bukan sekedar kehidupan di dunia ini saja melainkan juga kehidupan yang kekal bersama dengan Allah dalam kerajaan sorga.

Jangan pernah sia-siakan masa muda kita. Jaga dan pakai untuk MEMULIAKAN TUHAN dan bukan MEMALUKAN TUHAN.

GBU All..

Problem kematian Yesus di kayu salib

Diambil dari blog "Apologia Kristen" Analisis Historis atas Teori-teori Yesus Tidak Mati di Kayu Salib Fakta kematian Yesus memili...